Dalam Semesta Cinta dari Pipiet Senja

Tanggal 6 Januari kemarin, aku mendapatkan sebuah paketan. Yah sebuah buku dipaketkan kepadaku dari seorang pengarangnya sendiri. Dialah Pipiet Senja yang selalu kupanggil bunda dan akupun baru mengenalnya beberapa saat yang lalu. Menngenalnya dari jejaring dunia maya yang bernama Kompasiana.  Maklumlah, meskipun aku suka membaca tapi aku tak pernah memiliki koleksi buku. Baik buku cerita, buku sastra, atau buku novel sekalipun. Mungkin karena sejak kecil orang tuaku kurang begitu peduli dengan hobi membacaku, sehingga menguap begitu saja hobi itu.

Aku bergabung di Kompasiana pada tanggal 15 Oktober 2009, belum lama bukan. Dan apa kau tau kawan? Bunda Pipiet malah baru bergabung pada tanggal 20 November 2009. Saat itu aku tidak mengetahui kalau beliau adalah seorang penulis terkenal, aku membaca tulisannya seperti aku membaca tulisan kompasianers lainnya. Membaca dan kemudian memberi tanggapan. Semua tulisannya sangat menarik, komunikatif, dan yang pasti inspiratif. Beliau menuliskan banyak kisahnya di kompasiana, tak jarang aku selalu bercucuran airmata setiap membaca tulisannya, benar-benar menghabiskan persedian tissuku!!

Cover Buku "Dalam semesta Cinta" yang penuh inspirasi Dalam Semesta Cinta, itulah judul buku yang kuterima. Kisah inspirasi yang menghabiskan banyak air mata saat membacanya. Dalam buku itu, Pipiet Senja mengisahkan lakonnya semenjak beliau kecil dan masih tinggal di Sumedang. Kisah masa kecil dengan segala suka duka bersama keluarganya, kesulitan dan kemiskinan tak jauh dari lakonnya. Saat Pipiet Senja kecil pertama kali sakit dan diopname di sebuah Rumah Sakit, tak seorangpun yang menemaninya melawan segala sakit dan kengerian yang sering kali menerpanya. Ayahnya sibuk dengan tugasnya sebagai seoarang prajurit, dan Ibunya tentu saja repot dengan adik-adiknya yang masih kecil.

Masa-masa remajanya tak pernah jauh dari sakit, tranfusi, kemiskinan, penderitaan, dan segala hal yang berhubungan dengan derita. Namun disetiap kesulitan, Allah selalu memberikan kemudahan dan itulah yang sering kali dirasakannya. Dimasa ini, Pipiet Senja sudah mampu menghasilkan uang dari tarian penanya, honor dari cerpen, puisi, novelet. Yah dia menjadi seorang pengarang yang dulu sempat di cercanya. Itu karena dia dulunya bercita-cita menjadi seorang kowad, sebutan untuk tentara wanita.

Saat memasuki masa pernikahan inilah kisah yang mengharu biru itu dilakoninya. Mempunyai suami yang acuh, kejam, sungguh tak berperikemanusiaan, ditambah lagi suaminya mempunyai penyakit yang namanya paranoid parah. Sungguh mengerikan. Disinilah Allah menguji keimanan, ketegaran dan keihklasannya. Beruntunglah dia selalu memasrahkan setiap ketidakberdayaannya kepada Rabbnya. Dengan ketegarannya dan kekuasaan serta cinta Tuhannyalah dia selalu bisa bangkit dan bangkit dari keterpurukannya.

Berikut saya tuliskan 4 paragrahp terakhir kisah dalam buku ini :

Sebagaimana awal tujuan penulisan buk ini muncul karena keinginan untuk menemani kaum perempuan, para istri, ibu-ibu yang pernah atau telah menalami lakon yang mirip diriku. Niat untuk berbagi kisah hikamah dengan saudara-saudaraku.

“Kalian tidak sendirian, tidak pernah sendirian. Mari kita berbagi dan saling menguatkan, saling menyemangati. Niscaya ada solusi untuk kita!”

Aku selalu berdoa, biarlah lakon ini hanya menimpa diriku, jangan sampai menimpa orang lain, terutama yang melukai dan berlumur kepedihan.

keputusan demi keputusan yang kuambil,mungkin tak perlu diteladani, karena kondisi kita niscaya berbeda. Petiklah yang baik-baik dan ada hikmahnya. Sebaliknya buang jauh-jauh sisi gelap yang mungkin bisa menyesatkan.

Dan akhirnya, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Bunda Pipiet, karena dengan membaca buku tersebut seakan memberikan motivasi kepada saya untuk menjadi wanita tangguh, wanita tegar, dan tak mudah menangis. Saya juga akan ikut mendoakan semoga ke-10 Asa Bunda yang bunda tuliskan dalam buku itu dimakbulkan oleh Allah SWT. Amien….

Dalam kisah ini aku berbagi!

Tagged: , ,

6 thoughts on “Dalam Semesta Cinta dari Pipiet Senja

  1. chairaningsih 15 January 2014 at 11:32 AM Reply

    bukunya bagus
    jadi pengen punya,,,

  2. Yeni Nuryanti Jamiah 19 April 2012 at 9:53 AM Reply

    aq ada tugas mencari resensi novel yang dapaat menginspirasi dalam hidup,,,,,,kemudian ada teman aq yang menawarkan buku ini kepada q,,,,,semalaman aq membacanya,,,wahhhhh aq jadi penasaran dengan buku-bukunya yang lain

  3. pipiet senja 30 April 2010 at 5:17 AM Reply

    assalamualaikum…
    Izzah…cinta….semangat yah, luuuv!

    daku masih wara-wiri saja nih ke rumah sakit, tetapi, mphon doakan sajalah ya…
    wassalam
    pipiet senja

    • fawaizzah 2 May 2010 at 2:32 AM Reply

      Waah Bunda mampir disini juga..
      senengnya,..
      Bun, izzah kangen so much Bun, Bunda jarang nulis di Kompasiana siih…
      Mudah2an Allah senantiasa memberikan kemudahan dan kelancaran ya Bun..

  4. dokterdita 13 January 2010 at 3:58 AM Reply

    Jadi pengen baca bukunya juga

    • fawaizzah 13 January 2010 at 10:13 AM Reply

      Bukunya keren Dok!
      aq jadi kepengen beli bukunya yang lain.

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: