Menuju Selamanya #2

Menuju Selamanya #1

25

Akhirnya, punya buku nikah juga🙂

Ijab dan qabul pun dilaksanakan lancar tanpa ada pengulangan, kedua saksi serentak berkata SAH!  Maka, sejak detik itu saya telah menjadi miliknya.  Laki-laki yang pada awalnya membuat saya ragu, akankah ia mampu membuat saya mencintainya dengan utuh, penuh.  Nyatanya, hari itu sampa kini dan selamanya (insyaallah), tak ada satu hal pun alasan yang menguatkan keraguanku.   Aku telah mencintainya begitu rupa.

SAH!!

SAH!!

Usai do’a, kami menerima buku nikah dilanjut pamitnya Pak Penghulu. “Ada calon pengantin lain yang sudah menunggu,” katanya.  Acara selanjutnya tentu saja bisa ditebak, poto bersama.  Ada dua photografer yang sudah menunggu pose-pose kami.  Ada pula Sasha yang memegang Jio (kamera sakuku) sudah siap menunjukkan kelihaiannya dalam mengambil gambar.

Sama ponakan dan adik ipar.

Sama ponakan dan adik ipar.

Si Mas terpana :p

Si Mas terpana :p

Puas berpose, kami harus segera kembali.  Walimatul Urusy sebentar lagi dimulai sedang kami masih harus berganti gaun.  Karena lokasi Masjid tempat berlangsungnya akad nikah di belakang rumah maka kami harus berjalan naik becak memutar.  Haha, ya, saya memesan becak untuk mengangkut eh membawa kami pulang dari masjid.  Becak mesin yang berjalan kepayahan karena jalan becek usai hujan.

Hati-hati, Pak..

Hati-hati, Pak..

Rumah sudah ramai, para tamu undangan sudah banyak yang hadir.  Kami mesti berpisah di jalan, suami berhenti di rumah simbah sedang saya langsung diantar pulang.  Begitu sampai, Mba Gendis dengan cekatan langsung mengganti gaun yang saya kenakan.  Untuk acara ijab qabul warna putih tulang dan untuk walimahan saya memilih warna ungu muda.

Ungu!

Ungu!

Irisan daun pandan yang disusun seperti konde dan harus dipasang di ujung kepala saya itu beratnya bukan main.  Leher saya sampai tengeng dibuatnya.  Tapi tak apa, toh hanya sekali seumur hidup. (Eh, tapi beneran, itu berat banget!)

Setelah sebelumnya saya merasa anggun dengan balutan gaun warna putih, kini saat gaun berganti warna ungu muda, saya merasa cantik.  Ya, seumur-umur, saya belum pernah merasa secantik itu.  Terima kasih Mba Gendis, telah membuat saya merasa cantik.

Rombongan suami sudah diiring dari rumah simbah, saya yang sudah duduk di singgasana segera dituntun menuju depan, ritual temu temanten segera berlangsung.  Anehnya, saya tak merasakan banyak gejolak, biasa saja.  Hanya bahagia tanpa jatuhnya air mata seperti perkiraan saya sebelumnya.  Justru Bapak yang malah menangis sesenggukan dan berlangsung lama bahkan sampai ritual temu temanten berlangsung.  Mungkin karena putrinya yang keren ini kini, telah menjadi milik laki-laki lain. #eh

Acara pun berlanjut dengan lancar tanpa ada halangan yang berarti.  Banyak kawan, sahabat saya dari jaman SMP, SMA, teman kerja, dan dari teman PNPM yang datang.  Saya berterima kasih dan senang atas kedatangan mereka semua.  Nanti gantian, ya? :p

Babeh, Mba Gendis, Faiz, Nganten, Sasha, Mesha

Babeh, Mba Gendis, Faiz, Nganten, Sasha, Mesha

Usai acara, Babeh Helmi dan Faiz langsung bergegas pulang.  Mengejar jadwal pesawat ke Jakarta, katanya.  Yaah, Babeh kurang lama nungguin aku nikahnya!  Menjelang sore, rombongan yang ke Jogja dan Purwokerto pun menyusul pulang.  Beribu terima kasih saya sampaikan atas kesediaannya datang sampai Magetan.  Beribu-ribu maaf juga saya sampaikan jika kami tak mampu memberikan tempat, suguhan dan oleh-oleh yang baik.  Semoga di lain kesempatan, kami bisa melakukan sesuatu untuk kalian semua.  Laah ini kenapa jadi pidato? -___-

Ceritanya mau sampai sini saja apa mau sampai malam pertama? Eh, hahaha.  Sudah cukup lah, ya… Cerita selanjutnya menyusul di judul dan kesempatan yang lain.  Oh ya, kepada semua handai tolan baik yang datang dan tidak, terima kasih untuk doa-doa baiknya.  Semoga Allah mengabulkan dan doa yang sama untuk kalian semua.  Yang sudah menikah semoga langgeng, damai, dan sejahtera kehidupan rumah tangganya.  Yang belum menikah, semoga Allah segera mengirimkan jodoh terbaik-Nya.  Aamiin…

Tagged: , , , , ,

18 thoughts on “Menuju Selamanya #2

  1. fawaizzah 27 August 2015 at 8:12 AM Reply

    Reblogged this on Laci Ajaib.

  2. Mr`PeKeN 27 August 2013 at 12:15 AM Reply

    Barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma

    • fawaizzah 12 September 2013 at 7:57 PM Reply

      aamiin… makasih Mr. Peken🙂

  3. Indra 22 August 2013 at 8:42 PM Reply

    Barakallah….insha Allah samawa ya, cpt Allah izinin dpt momongan, bahagia selalu yaa,,amiinn

    • fawaizzah 12 September 2013 at 7:57 PM Reply

      Aamiin… makasih, Mas Indra, alhamdulillah sudah hamil🙂

  4. diafee 15 July 2013 at 1:03 PM Reply

    Selamat menempuh hidup baru Izzah, semoga jadi keluarga samara😀

    • fawaizzah 19 July 2013 at 11:25 AM Reply

      aamiin… makasih mba Diafe, semoga lekas nyusul yaa🙂

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: