Menuju Selamanya #1

Sudah dua puluh empat hari rupanya status lajang saya berganti.  Sudah dua puluh empat hari pula saya menyandang gelar seorang istri.  Dan jujur, hingga detik ini, saya masih juga bingung bagaimana mengabarkan hal besar tersebut kepada blog ini dengan tulisan yang runut, runtut.  Saya seperti mati gaya setiap menghadapi lembar microsoft word. Bingung, apa yang mau saya tulis?

Baiklah, saya akan memulai cerita saya pada tanggal 16 Juni 2013.  Itu adalah hari Minggu, rumah mulai hiruk pikuk oleh saudara pun tetangga yang datang.  Juga sudah dimulai serangkaian acara, Simak’an Al Quran.  Dan yang paling mengesankan adalah pagi itu segerombolan kawan-kawan dari Komunitas Canting tengah goleran di kamar saya.  Satu kasur untuk berempat dan yang satu mesti rela tidur tanpa kasur.  Jadi bisa dibilang uyel-uyelan ala Canting.  Mereka tiba di Magetan pada Sabtu malam, berempat.  Ya, mereka datang tak tepat di hari saya melangsungkan akad nikah karena memang harus begitu. #Eh

Gambar

Saya sangat bergembira atas kesediaan mereka datang, kebetulan saya sedang sangat kangen berkumpul dengan mereka.  Tapi sayang, dalam kesempatan itu, saya tak bisa mengajak mereka jalan-jalan.  Jangankan mengajak mereka jalan-jalan, untuk sekedar menemani mereka sepedaan di area persawahan depan rumah pun saya tak mampu.  Aih, maafkan saya.  Masa pingit belum selesai.

Senin, 17 Juni 2013 rumah semakin sesak saja.  Sudah banyak sekali orang yang memenuhi setiap sudut rumah bahkan halaman.  Malam harinya, tibalah rombongan kedua yang datang. Ialah Babeh Helmi beserta si Ganteng Faiz dan Elisabeth Murni aka Sasha.  Tak lama berselang, muncullah rombongan ketiga, Mba Gendis dan kru rias beserta Mesha.  Hal bahagia apalagi yang kurang?  Kedatangan mereka benar-benar melengkapi kebagaian saya.

Gambar

Seperti biasanya, tak ada pertemuan tanpa perbincangan.  Dan itulah yang terjadi hingga malam menjelang.  Pukul 01.00 dini hari, barulah kami berangkat tidur.  Memejamkan mata barang sekejap.  Tapi toh nyatanya, saya benar-benar tak bisa tidur.  Besok saya menikah!  Apa yang akan terjadi setelahnya?  Begitu kira-kira yang berseliweran di benak saya.  Dan, Mas Ahmad Zamhuri yang hendak menikahi saya esok hari pun rupanya tak bisa tidur.  Jadilah kami malah saling berkirim sms malam itu, hingga nyaris subuh.

Subuh bangun, usai shalat, Mba Gendis sudah menyiapkan peralatan perangnya, eh, riasnya untuk melukisi wajah saya.  Jadilah pagi itu, Mba Gendis merias wajah saya, Sasha membatik punggung tangan dan Babeh Helmi dapat bagian dokumentasi. Gambar

Pukul 06.30, rombongan calon suami sudah sampai d Masjid tempat kami akan melangsungkan akad nikah.  Ya, terlalu pagi dari jadwal seharusnya.  Karena memang hari sebelumnya ada kabar dari KUA bahwa jam akad kami dimajukan.  Dari pukul 08.00 maju menjadi pukul 07.00.  Pukul 07.00, kami semua sudah siap tapi rupanya, hmm, kami mesti harus menunggu lama karena Penghulunya tak kunjung datang.

GambarSaat akad dimulai pukul 08.00, dada saya tak kunjung mau redam.  Deg-degan bukan main.  Benarkah saya akan menikah?  Benarkah langkah yang saya ambil sudah tepat?  Pikiran-pikiran konyol pun muncul bak air bah.  Pertanyaan-pertanyaan tak penting pun berseliweran tak mau tau.  Bagaimana jika? Bagaimana jika?  Tapi bissmillah, saya memantapkan diri.  Bissmillah langkah saya sudah tepat, pilihan saya tak salah.  Saya berserah, sambil tak berhenti berdoa, pernikahan kami akan selamat hingga akhir.

Gambar

Gambar

Lanjut nanti ah, ceritanya…

Tagged: , , , , ,

14 thoughts on “Menuju Selamanya #1

  1. fawaizzah 27 August 2015 at 8:11 AM Reply

    Reblogged this on Laci Ajaib.

  2. Budina 12 July 2013 at 1:33 PM Reply

    wuayune reeeeeeeeeeeeekkk……
    Sash, kapan mbatik tanganku???

    • fawaizzah 12 July 2013 at 10:07 PM Reply

      Lek tangane sampean iku ora dibatik budina, tapi dipahat! Ben kaya relief! hahahaha

      • ranselhitam 13 July 2013 at 11:34 AM Reply

        Huahahahaha, ngakak moco komenne Ijah. Kene Mbak Din tak pahat wae tangamu😆

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: