Keluhan-keluhan Sepanjang 31 Minggu Kehamilan

Mestinya nih, ya, dengan status ‘kawin’ lalu hamil kemudian menjadi pengangguran ibu rumah tangga, semakin banyak tulisan-tulisan yang bisa saya hasilnya. Nyatanya, blog ini justru terbiarkan kosong tak terupdate.  Sepi.  Halah…

aiklah, kali ini saya ingin cerita tentang kehamilan saya yang sudah memasuki usia 31 minggu.  Itu artinya, sudah memasuki trisemester ketiga, makin mendekati HPL (Hari Perkiraan Lahir).  Dan ceritanya bakalan panjang karena akan saya mulai dari hari berakhirnya masa ngidam (trisemester pertama).

Memasuki usia kehamilan 16 minggu, keluhan mual muntah saya mulai banyak berkurang.  Saya juga mulai doyan makan apa aja kecuali bakso, mie instan, dan makanan lain yang berbau tajam  (Laah, itu namanya belum doyan makan apa aja! -__- )  berat badan saya pun mulai merangkak naik.

Keluhan mual muntah berakhir lalu berganti dengan keluhan lain.

Gatal di seputaran dada dan perut.

Memasuki usia kehamilan 20 minggu, saya mulai merasakan keluhan ini.  Gatalnya bukan main.  Terus banyak orang bilang bahwa gatal di dada dan perut saat hamil tidak boleh digaruk, katanya bisa menimbulkan street mark.  Tapi mana tahan?  Gatel banget.  Lalu saya melemparkan masalah ini ke facebook karena saya tahu banyak teman-taman saya di sana yang pernah hamil atau sedang hamil mengalami hal serupa.

Ada beragam komentar namun hanya ada beberapa yang saya garis bawahi.  Yaitu, gatal di dada (payudara) dan perut saat hamil adalah akibat dari peregangan kulit karena dua bagian tersebut membesar.  Sehingga, saat kulit di area itu meregang dan bila keadaannya kering maka akan menimbulkan street mark dan tentu rasa gatal.  Jadi, street mark bukan muncul karena garukan.  Untuk meminimalisir munculnya street mark, kulit kita harus lembab.  Dengan cara apa?  Ya, kita bisa mengoleskan baby oil atau minyak zaitun di area tersebut.  Beberapa kawan menyebutkan bahwa masalah gatal bisa kita atasi dengan menggaruknya.  Kalau gatal memang enaknya di garuk, ya? Hehe.  Tapi ada salah satu kawan yang menyarankan untuk menggunakan gel pengurang gatal dari konicare untuk mengurai rasa gatalnya.  Aih, sebut merk!  Dan memang ini cukup membantu.

Buang air kecil yang semakin sering.

Sepertinya, perempuan hamil dan kamar kecil tidak bisa dipisahkan.  Dalam sehari, ah, sejam aja deh, saya bisa bolak balik ke kamar mandi untuk urusan buang air kecil.  Mesti cuma keluar sedikit tapi hal ini tidak boleh ditahan.  Harus dikeluarkan.  Kata bu bidan, hal ini dikarenakan kandung kemih perempuan hamil mendapat tekanan dari rahim yang semakin membesar.

Bosen minum obat.

Pernah suatu ketika obat saya (biasanya kapsul penambah darah, suplemen makanan dan kalsium) yang dari bu bidan tidak saya minum sama sekali.  Rasanya bosan tiap hari minum obat.  Lalu saat periksa bulan berikutnya, suami saya ngadu ke bu bidan perihal ini.  Saya pun dimarahi bu bidan, intinya, kalau mau bayinya sempurna, perkembangannya baik, lahir lancar, normal, tidak ada pendarahan dan bla bla bla saya harus menghabiskan obatnya.  “Kalau ibu tidak peduli dengan tubuh ibu, ya gak masalah.  Tapi gimana dengan janin di perut ibu?”  Dua kalimat itu sangat menohok dan membuat saya mau tak mau harus minum obat SETIAP HARI.  Suami yang tadinya sabar untuk urusan obat, kini pun menjadi galak.  Dia siapkan obatnya dan menunggui saya meminumnya sampai benar-benar tertelan.

Posisi Sungsang

Saat usia kehamilan saya memasuki 26 minggu, bu bidan bilang posisi janin masih sungsang.  Saya harus sering-sering sujud.  Seminggu kemudian saya USG dan hasilnya masih sama.  Sungsang.  Kanjengmami menyarankan untuk rajin berjalan merangkak tiap bangun tidur pagi.  Tetangga menyarankan agar menyapu halaman dengan sapu lidi yang pendek sekali (ini bikin capek bukan main).  Dan ada juga yang menyarankan untuk pijat ke tempat dukun bayi yang biasa menangani perut ibu hamil.

Semua saran saya jalani demi dedek bayi di perut biar segera memutar mengambil posisi terbaiknya.  Termasuk saran untuk pijat/urut ke dukun bayi meskipun bu bidan bilang perut tidak boleh dipijat atau diurut.

Pagi sekali, diantar suami saya meluncur ke dukun yang dimaksud.  Kami harus menunggu lama karena ternyata rumah mbah dukun masih tertutup rapat dan kata cucunya, mbah masih tidur.  Baiklah.   Setelah 2 jam menunggu akhirnya dipijat juga.

“Wis pirang wulan, nduk?”

“Mancik 6 wulan, Mbah.”

“Wis nem wulan kok bayi sek manggen dhuwur.  Iki sungsang lho anakmu, angel lahire, nek ora sering dibenakne (diurut) iso-iso kudu operasi.”

Pulangnya, saya kalut.  Galau.  Meskipun menurut cerita orang-orang saya lahirnya sungsang dan normal tapi saya tak mau anak saya mengikuti jejak emaknya ini.  Meskipun kata bapak saya anak yang lahir sungsang itu ditakuti setan karena setan takut ditendang (karena waktu lahir yang keluar kakinya dulu) saya tidak mau anak saya lahirnya sungsang.  Saya benar-benar galau.

Saya pun browsing, berbagai link yang membahas kehamilan sungsang saya baca.  Di sana disebutkan bahwa umur 26 – 30 minggu tubuh bayi masih kecil sedang ruang di rahim masih cukup longgar sehingga ia masih bebas berputar-putar sesukanya.  Jadi, kesempatan untuk memutar ke posisi kepala di bawah masih sangat besar.  Aih, lega.

Tak cukup hanya dengan itu, saya pun juga melemparkan masalah ini ke ranah facebook.  Datanglah komentar mba Pungky yang menyarankan untuk melakukan senam hamil.  Ia beberapa waktu lalu melahirkan bayi dengan berat 4,5 kg dengan cara normal.  Hebat!  Tak menunggu lama saya langsung membuka tautan blog yang ia sertakan di komen tersebut.  Di sana ia menceritakan pengalamannya melahirkan dan langkah-langkah yang ia tempuh selama hamil.  Salah satunya dengan rutin senam hamil dengan dipandu youtube.  Jadilah sekarang saya mengikuti jejaknya untuk rutin senam hamil.  Video youtubenya pun saya unduh dari blognya di tambah satu lagi senam hamil persembahan bidan Indonesia saya cari dari http://4shared.com.

Dan, Alhamdulillah saat saya kembali periksa ke bidan dengan usia kehamilan 30 minggu, posisi dedek sudah mapan.  Kepala di bawah tapi belum masuk panggul.  Jadi, kata bu bidan, kemungkinan untuk ia muter-muter masih ada.  “Semoga dedek anak sholeh gak muter-muter lagi ya.  Anak pinter.”

Pingsan

Seumur-umur nih ya, yang namanya pingsan itu saya hanya sekali.  Itu pun waktu saya masih kecil banget.  5 atau 6 tahunanlah.  Itu pun karena saya dilempar batu oleh teman sepermainan dan mengenai jidat saya.  Bayangan saya saat itu, saya kecemplung ke kali karena posisi jatuh saya tepat di pinggir kali.

Beberapa waktu lalu, saya ingin sekali piknik.  Suami pun mengiyakan dan bersama rombongan keluarga kami ramai-ramai ke Sarangan naik sepeda motor.  Tentu saya dibonceng suami.  Saya tak merasakan apapun kecuali senang.  Senang bisa ke sini lagi karena lama saya tak mengunjungi tempat ini padahal dulu di sinilah saya sering mendapat inspirasi menulis fiksi.  Saat hendak pulang (masih di tepi telaga) saya tiba-tiba merasa pusing dan pandangan gelap.  Semakin lama semakin gelap.  Saya meminta suami untuk menepikan motornya.  Belum sampai ke tepi, saya terkulai tak sadar di punggungnya dan merosot dari sepeda motor.  Aih, saya pingsan dan cukup membuat panik rombongan.  Untungnya tidak lama.  Setelah sadar, saya meminta teh anget dan saya pun merasa kembali baik.  Perjalanan pulang pun dilanjutkan.

Bu bidan bilang bahwa kemungkinan saya kecapekan sehingga pingsan, saat saya ceritakan kejadian tersebut.  “Gak lagi-lagi ke sana sebelum dedeknya gede,” kata suami.

Mimisan

Nah, tak beda jauh dengan perihal pingsan.  Perkara mimisan ini pun juga baru sekali saya alami.  Itu pun juga saat masih kecil.  Saat bermain, saya bertabrakan dengan teman.  Keras sekali sampai hidung keluar darah.  Setelahnya, saya tak pernah mimisan hingga subuh beberapa waktu lalu.

Menjelang subuh, suami membangunkan saya untuk diajak ke masjid.  Suhu kamar saat itu terasa panas, gerah.  Tapi di luar udaranya cukup dingin.  Di masjid pun saya merasa kedinginan.  Tepat saat iqomah, saya merasa hidung saya basah.  Saya pikir ingus.  Saat saya usap, rupanya berwarna merah.  Saya mimisan.  Saya langsung mundur dan berlari ke tempat wudu.  Saya membasuhnya beberapa kali.  Untunglah setelah itu mampat sehingga saya bisa kembali masuk shaf.

Saya kembali browsing.  Di sana, diterangkan bahwa mimisan memang cenderung terjadi selama kehamilan.  Penyebabnya, pembuluh darah di hidung mengalami perubahan dari keadaan normal dan meningkatnya suplai darah ke hidung sehingga mengakibatkan banyaknya tekanan pada pembuluh halus dan menyebabkan pembuluh darah pecah lebih mudah.

Kurang puas, saya pun bertanya kepada Bidan Romana Tari, pengelola situs http://bidancare.com katanya dalam pesan di facebook, “Mba Izzah, ibu hamil mengalami peningkatan kepekaan pada saluran mocusa atau saluran yang berlendir dan kadang peka sekali maka mudah berdarah seperti pada hidung dan gusi.  Hindari kelelahan, kepanasan maupun bersin atau buang ingus terlalu kencang.” Balasan pesan bu bidan ini membuat kecemasan saya tertepis.

Bidan Tari juga menyertakan cara mengatasi masalah ini yaitu mengompresnya dengan es.  Sejauh tidak berdarah terus-menerus tidak masalah dan tidak perlu khawatir.  Syukurlah.

Ngilu pada tulang rusuk kanan bawah dan nyeri punggung.

Dan inilah keluhan yang masih setiap hari saya dera.  Awalnya, saya merasa ngilu sekali pada tulang rusuk kanan paling bawah dari belakang sampai depan.  Tadinya saya pikir ini adalah masuk angin.  Saya meminta pada suami untuk menggosoknya dengan balsam bahkan pernah saya meminta untuk mengeroknya saking tidak tahan.  Suami berujar,”Masa tiap hari masuk angin, Dek? Gak merah juga kalo dikerok.”

Iya, ya.  Saya iseng-iseng browsing dan bertanya teman di facebook.  Rupanya, rasa ngilu pada tulang rusuk bawah ini dikarenakan seringnya mendapat tendangan maut dari dedek bayi.  Saking seringnya ditendang, tulang rusuk jadi terasa ngilu.  Untuk mengatasi ini, banyak teman menyarankan agar tidur dengan posisi miring ke kiri.  Hal ini senada dengan saran bu bidan saat saya berkonsultasi beberapa waktu lalu.

Rasa ngilu pada tulang rusuk belum hilang kini mendapat tambahan nyeri punggung.  Hal ini cukup membuat sulit tidur saat malam.  Menurut info yang saya baca (lagi-lagi dari internet) nyeri punggung disebabkan oleh membesarnya perut ibu hamil.  Sehingga punggung harus bekerja lebih ekstra untuk menopang tubuh.  Untuk meminimalkan rasa nyeri pada punggung ini katanya ibu hamil harus selalu mengambil posisi tubuh tegak.  Baik saat berdiri maupun duduk.  Sehingga otot di punggung turut membantu menopang badan.

Namanya kebiasaan, jadi mengambil posisi tegak pas ingat aja.  Kalau lupa ya balik lagi seperti semula.  Untuk itu, biasanya sebelum tidur saya menempelkan beberapa koyo di punggung.  Hal ini cukup ampuh untuk mengurangi nyeri dan membantu tidur lelap.  Penggunaan koyo pada ibu hamil aman kok kata bu bidan.  Oh iya, senam hamil juga sangat membantu mengurangi nyeri punggung.  Asal dilakukan dengan rutin dan benar.  Bagi para bumil yang ingin senam hamil, pastikan usia kandungan sudah lebih dari 24 minggu, ya.

Semoga curhat mengenai keluhan-keluhan yang saya alami selama hamil ini bermanfaat untuk para bumil yang mungkin mengeluhkan hal yang sama.

Tetap semangat dan cihui para bumil!

Tagged: , , , , , , ,

19 thoughts on “Keluhan-keluhan Sepanjang 31 Minggu Kehamilan

  1. fawaizzah 27 August 2015 at 8:20 AM Reply

    Reblogged this on Laci Ajaib.

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: