Category Archives: Lembar Baru

Menuju Selamanya #2

Menuju Selamanya #1

25

Akhirnya, punya buku nikah juga 🙂

Ijab dan qabul pun dilaksanakan lancar tanpa ada pengulangan, kedua saksi serentak berkata SAH!  Maka, sejak detik itu saya telah menjadi miliknya.  Laki-laki yang pada awalnya membuat saya ragu, akankah ia mampu membuat saya mencintainya dengan utuh, penuh.  Nyatanya, hari itu sampa kini dan selamanya (insyaallah), tak ada satu hal pun alasan yang menguatkan keraguanku.   Aku telah mencintainya begitu rupa.

SAH!!

SAH!!

Usai do’a, kami menerima buku nikah dilanjut pamitnya Pak Penghulu. “Ada calon pengantin lain yang sudah menunggu,” katanya.  Acara selanjutnya tentu saja bisa ditebak, poto bersama.  Ada dua photografer yang sudah menunggu pose-pose kami.  Ada pula Sasha yang memegang Jio (kamera sakuku) sudah siap menunjukkan kelihaiannya dalam mengambil gambar. Continue reading

Menuju Selamanya #1

Sudah dua puluh empat hari rupanya status lajang saya berganti.  Sudah dua puluh empat hari pula saya menyandang gelar seorang istri.  Dan jujur, hingga detik ini, saya masih juga bingung bagaimana mengabarkan hal besar tersebut kepada blog ini dengan tulisan yang runut, runtut.  Saya seperti mati gaya setiap menghadapi lembar microsoft word. Bingung, apa yang mau saya tulis?

Baiklah, saya akan memulai cerita saya pada tanggal 16 Juni 2013.  Itu adalah hari Minggu, rumah mulai hiruk pikuk oleh saudara pun tetangga yang datang.  Juga sudah dimulai serangkaian acara, Simak’an Al Quran.  Dan yang paling mengesankan adalah pagi itu segerombolan kawan-kawan dari Komunitas Canting tengah goleran di kamar saya.  Satu kasur untuk berempat dan yang satu mesti rela tidur tanpa kasur.  Jadi bisa dibilang uyel-uyelan ala Canting.  Mereka tiba di Magetan pada Sabtu malam, berempat.  Ya, mereka datang tak tepat di hari saya melangsungkan akad nikah karena memang harus begitu. #Eh

Gambar Continue reading

M A H A R

 

“Penjenengan ngersakne mahar napa?”

Kamu minta mahar apa?  Begitulah pertanyaan yang saya terima dari calon suami saya beberapa waktu lalu.  Jujur, saya bingung menjawabnya.  Bingung menentukannya.  Hingga akhirnya hanya, “mmmm…. duko,” yang keluar dari mulut saya.  Entah…

Keesokan  harinya, saya langsung browsing di internet dengan keyword MAHAR.  Banyak sekali artikel yang menjelaskan tentang hal ini.  Hadist-hadist dan ayat-ayat yang mengacu pada hal ini pun tak sulit ditemukan.  Alhamdulillah. Continue reading

Hal-Hal Besar

Gambar

Seseorang pernah mengatakan kepada saya, “ada tiga hal besar yang akan dilalui manusia.  Kelahiran, pernikahan dan kematian.”  Dan jauh hari sebelumnya, seseorang yang lain pernah mengatakan ini pada saya, ”perempuan akan melewati hal-hal besar diusianya yang ke dua puluh tiga, seperti usia dua puluh tujuh pada seorang laki-laki.”

Dua pernyataan berbeda dari dua orang yang berbeda itu rupanya telah mampu melekat erat di benak saya.  Angan-angan saya menjadi jauh.  Lebih-lebih ketika Juli tahun lalu, umur saya menginjak yang ke dua puluh tiga.  Hal besar apa kira-kira yang akan saya lalui?  Pernikahankah?  Atau jangan-jangan sebuah kematian?  Atau ada hal besar yang lain? Continue reading

Kegelisahan

“Kapan kamu jadi berangkat?” nada bicaramu terdengar biasa saja, tapi sorot mata itu menyemburkan kekhawatiran.
“Entahlah, barangkali satu atau dua minggu lagi,” jawabku, mencoba meniadakan kegelisahanmu.
“Berapa hari?”
Seingatku, rentetan pertanyaan ini sudah berulang kali kau tanyakan dan berulang kali pula aku menjawab dengan kalimat yang sama.
“Dua atau tiga hari.”
Setelahnya kamu akan diam, sedang aku berpikir keras mencari kosa kata baru untuk mengalihkan kebekuan.

“Tidak apa-apa?” tanyamu akhirnya.
Tentu saja aku tak akan apa-apa, aku sudah terbiasa. Mungkin, ya, mungkin kamu hanya belum tahu atau bisa jadi karena kecemasan sudah menerormu lebih dulu.
“Tak akan apa-apa,” aku tersenyum tapi raut mukamu tak juga berubah. Continue reading

Tenang

Taut Jemari

Barangkali memang tak semenggebu masa lalu.  Tak juga selayaknya apa-apa yang baru saja berlalu.  Biasa saja.  Tak begitu membuat buncah dalam detakan yang menyembilu.  Tak.  Tak sampai seperti itu.  Semuanya seperti air danau yang kita kunjungi di pagi yang biru.  Menggenang tenang.  Tapi dalam.

 

Beautiful Morning, 31-1-13

 

Kepada Kamu

“Bagaimana caranya agar aku bisa buatmu bahagia?” tanyamu pada malam yang belum benar-benar buta.  Ya, ya, nyaris sebelum Isya’ berkumandang.

Ada haru yang menjalar ke seluruh dada. Sungguh, meski baru hanya pertanyaan saja, itu sudah buatku senang bukan main. Bahagia.

Kamu, yang dikirim Tuhan dengan cara tak terduga, yang membuatku nyaris gila, yang membuatku menuduh Tuhan telah keterlaluan mengajakku bercanda, nyatanya mampu menumbangkan hati yang keras kepala. Membuat ingat, hidup tidak melulu tentang cinta yang sudah tumbuh. Tidak melulu tentang melupakan cinta yang sudah mati tapi juga tentang bagaimana menumbuhkannya. Dengan halal. Continue reading

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

Titik Koma

Karena kadang kita harus berhenti hanya agar dapat kembali melangkah.

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: