Latest Entries »

Aku Benci Kamu Hari Ini

#15HariNgeblogFF hari ke-8 [Aku benci kamu hari ini]

|-|

“Aku benci kamu hari ini!” sorot mata Naimah tajam memandang Aris penuh kemarahan. Aris yang dipandangnya hanya mampu menunduk lesu. Baru kali ini istrinya begitu marah, pikirnya.

“Maafkan aku,” lirih Aris mengiba. Naimah tak luluh, bahkan marahnya semakin kukuh. Ditinggalnya Aris yang masih tertunduk. Dia melangkah ke luar kamar, membanting pintu sekuatnya.

Jedeeeer.

Pintu menutup diikuti goncangan bahu Aris. Kaget. Hatinya cemas, ingin rasanya dia berlari menghentikan langkah Naimah. Tapi, dia tak punya nyali. Aris membuka lemari pakaian istrinya, lemarinya juga sebenarnya. Karena mereka hanya memiliki sebuah lemari pakaian saja.

“Pakaiannya masih ada.” Pikir Aris, sedikit lega.

Naimah berjalan cepat keluar rumah. Dadanya sesak dipenuhi kemarahan. Pokoknya harus pergi. Harus pergi. Minggat! Begitulah, pikirannya sudah bulat. Dia terus berjalan, dengan hanya satu tujuan. Stasiun kereta.

1 km kira-kira Naimah sudah berjalan, kakinya terasa kepayahan. Dirasakannya tenggorokan kering. Naimah mampir ke warung pinggir jalan, ingin membeli air kemasan. Naimah meraba-raba pakaiannya.

“Ya Tuhaaan….” Naimah panik, dia baru menyadari tak membawa uang sepeser pun. Dia hanya memakai sepotong daster lusuh, tak berkantong. Rambutnya awut-awutan. Wajahnya mengkilap akibat minyak di wajahnya bercampur air mata yang mongering tanpa di lap. View full article »

Ada Dia di Matamu

Setiap malam aku mengendap-endap ke kamarmu. Menelusup lewat lubang kunci di pintu. Memastikan selimutmu telah terpasang sempurna. Memastikan jendela kamarmu telah terkunci rapat. Aku tak rela jika angin malam menyetubuhimu, lalu membuatmu menggigil karena dingin.

Aku berdiri di sebelah ranjangmu, menatap wajahmu lekat. Ingin rasanya mengusap keningmu lalu memainkan anak rambut di atas cupingmu. Tapi tak kulakukan. Tak akan kubiarkan sesuatu mengusik tidurmu, walaupun itu aku.

Aku menyukaimu saat kamu terlelap, kelopak matamu tak mengatup sempurna. Kamu tahu, aku sering mengintip mimpimu lewat situ. Kadang, setengah mati aku manahan detakan jantungku biar tak keras terdengar olehmu. Ya, karena mengintip mimpimu!

Entah dimana, aku belum melihat tempat itu. Ada suara gemericik air, hawa dingin, bebatuan sebesar perut sapi. Sepertinya, kamu tengah berada di tepi sungai. Hulu sungai. Ya, tak salah lagi. Ada aroma pegunungan di sini.

Aku melihat punggungmu. Berguncang. Apakah kamu menangis? Ah bukan, kamu tengah tertawa. Buka sedikit lagi matamu biar aku tahu apa yang membuatmu tertawa begitu.

Ada punggung lain selain punggungmu? Tidak, tidak. Itu punggung perempuan! Aku pasti akan menjerit jika perempuan itu bukan aku. Lihat saja, aku akan menggigit hidungmu jika sampai kamu memimpikan perempuan lain.

Ayo, buka sedikit lebih lebar matamu! Biar aku tahu siapa perempuan itu. Perempuan lancang yang memasuki mimpimu, bahkan membuatmu tertawa begitu. Aaarrggh… apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian duduk terlampau dekat? View full article »

Sepasang Kekasih

1326540164153697052

Jika boleh jujur, saat-saat seperti inilah yang aku suka. Berdua duduk denganmu, berpayung langit senja, saling bercerita, lalu tertawa bersama. Seperti sekarang, kamu tengah bercerita tentang burung hantu peliharaanmu. Cerita yang sama setiap harinya. Tapi aku tak pernah bosan. Aku suka mendengarkanmu meniru suara burung itu, kut.. kut.. kut.. Dan kamu bertingkah dengan lucu  meniru burung hantu mengantuk. Lalu kamu tertawa terbahak-bahak hingga matamu berair. Walau kadang aku tak mengerti bagian yang lucu itu, tapi toh itu selalu berhasil membuatku tertawa juga.

“Hei, dua telur Rui semalam menetas. Kali ini kamu harus melihatnya, dan kamu harus memberinya nama!”

Aku tersenyum, lalu mengangguk. Entah, ini sudah kali keberapa kamu mengajakku untuk melihat Rui, burung hantu peliharaanmu. Tapi belum sekali pun kita menepatinya. Aku juga tak yakin berani menatap mata Rui yang seperti celepuk itu. Aku lebih menyukai burung Perenjak yang bermain di ranting-ranting bambu. Lebih-lebih kicauannya sesaat sebelum senja. Karena itu pertanda bahwa kamu akan datang untuk berbagi cerita.

“Jadi, cerita apa yang ingin kamu bagi untukku senja ini?” katamu dengan wajah sumringah. Melihatmu begitu membuatku tertunduk. Malu sebenarnya. Tatapan jahilmu itu yang selalu membayangi malam-malamku, membuat ibuku kerap jengkel karena mendapatiku senyum-senyum sendiri.

“Pohon akasia,” kataku sambil tertunduk. Kulirik kamu yang manggut-manggut mencoba mengingat. “Kamu ingat cerita itu? Beberapa senja lalu?” tanyaku dengan memberanikan diri menatap matamu.

Kamu membalas tatapanku. “Tentu, tiga pohon akasia yang dipenuhi ulat bulu. Bagaimana mereka sekarang?” Ada  ketertarikan di sorot matamu. View full article »

Dandelion

“Besok pagi, di sini. Akan kuberitau kamu sesuatu.” Kamu tersenyum dan berlari pulang dalam senja yang tak mungkin kulupa. Sementara anggukan pun belum kuberi, kamu meninggalkanku yang masih berdiri, menyepi, menyisakan rindu.

Ah, kamu. Selalu begitu.

Itulah yang membuat mataku kini tak kunjung terpejam. Malam pun makin enggan, membuai dengan bisik angin dan bius suara jengkrik. Padahal saat yang kutunggu itu tinggal 4 jam lagi. Ingin rasanya tidur, tapi ada sesuatu yang sepertinya tak mau kulewatkan. Aku tak mau mendapatkan mimpi lain.

Burung pipit mengejarku, padahal aku sudah berlari kencang, menerabas bukit ilalang. Entah, aku sendiri tak mengerti kenapa rasanya tiba-tiba dada makin berdebar hebat dan darah berhenti mengalir, saat senyummu memergokiku yang sedang berlari lincah menari menujumu. View full article »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 342 pengikut lainnya.