Lombokku Lemu-lemu

Berangkat dari ide kreatif Mamak’e Gendut yang menanam cabe di botol-botol bekas air minum, tersebarlah biji-biji cabe dari cabe yang sudah membusuk di dapur.  Jika Mamake yang ngekos dan minim lahan saja bisa berkebun, kenapa saya tidak?  Begitulah yang melintas di pikiran saya.  Secara, saya tinggal di desa dan barang tentu tak sulit menemukan tanah kosong barang sejengkal.

Berkat kuasa Tuhan dan konspirasi semesta, tumbuhlah biji-biji itu. Lalu berdaun dua, empat dan banyak.  Daunnya lebar-lebar.  Saya senang.

Dari sekian biji yang saya sebar alakadarnya di antara bunga-bunga eforbia dan kembang-kembang lainnya hanya dua biji yang tumbuh.  Subur.  Alhamdulillah.

Beberapa hari atau mungkin dalam hitungan minggu, mereka mulai berbunga, beberapa hari berikutnya mulai keluar pentilnya, warnanya hijau.  Mirip seperti warna cabai hijau yang biasa untuk sayur, bedanya bentuknya panjang seperti cabai rawit.

Nih, lihat saja poto-potonya! Continue reading

Rapid Fire Question

Okeeh… 2 PR Rapid Fire Question dari 2 orang sekaligus mau saya rapel di sini.  Gara-gara gaptek nih, notes FB gak bisa ditulisin.

Pada gak asing kan tentang Rapid Fire Question? Ho oh, 10 pertanyaan wajib plus 5 pertanyaan tambahan yang dibuat estafet dari satu orang ke orang yang lain.  Entah siapa pencetus pertama, tapi saya jadi ingat sama Pungky Cs yang dulu bikin kaya gini juga di Kompasiana.  Menghibur bagi saya yang jadi penikmat.  Tapi kali ini saya kebagian kena tembak dari 2 orang sekaligus.  Pertama dari Latif Nur Janah via notes FB dan dari Kakak cihuy via blog.

Langsung saja deh ya…

10 Pertanyaan Wajib:

1. Nambah atau ngurangin timbunan buku?
Maunya sih nambah duit sama nambah berat badan 😀

2. Pinjam atau beli buku?
Uhm… Beli. Tapi kalau mau ada yang minjemin terus bilang,”Gak usah dibalikin gak apa-apa kok!” Saya akan dengan senang hati memilih pinjam. Deziiignn…

3. Baca buku atau nonton film?
Tergantung, sih.  Kalo ada yang nraktir nonton aku gak bakalan nolak.  Eh, tapii… di Magetan belum ada bioskop, jeh!

4. Beli buku online atau offline?
Offline aja deh, bisa dipegang-pegang dulu sebelum dibeli.

5. Buku bajakan atau ori?
Ori selalu tak tertandingi, tapi klo yang ori gak kebeli karena kemahalan, apa boleh buat. KW pun jadi
-__- Continue reading

M A H A R

 

“Penjenengan ngersakne mahar napa?”

Kamu minta mahar apa?  Begitulah pertanyaan yang saya terima dari calon suami saya beberapa waktu lalu.  Jujur, saya bingung menjawabnya.  Bingung menentukannya.  Hingga akhirnya hanya, “mmmm…. duko,” yang keluar dari mulut saya.  Entah…

Keesokan  harinya, saya langsung browsing di internet dengan keyword MAHAR.  Banyak sekali artikel yang menjelaskan tentang hal ini.  Hadist-hadist dan ayat-ayat yang mengacu pada hal ini pun tak sulit ditemukan.  Alhamdulillah. Continue reading

Hal-Hal Besar

Gambar

Seseorang pernah mengatakan kepada saya, “ada tiga hal besar yang akan dilalui manusia.  Kelahiran, pernikahan dan kematian.”  Dan jauh hari sebelumnya, seseorang yang lain pernah mengatakan ini pada saya, ”perempuan akan melewati hal-hal besar diusianya yang ke dua puluh tiga, seperti usia dua puluh tujuh pada seorang laki-laki.”

Dua pernyataan berbeda dari dua orang yang berbeda itu rupanya telah mampu melekat erat di benak saya.  Angan-angan saya menjadi jauh.  Lebih-lebih ketika Juli tahun lalu, umur saya menginjak yang ke dua puluh tiga.  Hal besar apa kira-kira yang akan saya lalui?  Pernikahankah?  Atau jangan-jangan sebuah kematian?  Atau ada hal besar yang lain? Continue reading

Kegelisahan

“Kapan kamu jadi berangkat?” nada bicaramu terdengar biasa saja, tapi sorot mata itu menyemburkan kekhawatiran.
“Entahlah, barangkali satu atau dua minggu lagi,” jawabku, mencoba meniadakan kegelisahanmu.
“Berapa hari?”
Seingatku, rentetan pertanyaan ini sudah berulang kali kau tanyakan dan berulang kali pula aku menjawab dengan kalimat yang sama.
“Dua atau tiga hari.”
Setelahnya kamu akan diam, sedang aku berpikir keras mencari kosa kata baru untuk mengalihkan kebekuan.

“Tidak apa-apa?” tanyamu akhirnya.
Tentu saja aku tak akan apa-apa, aku sudah terbiasa. Mungkin, ya, mungkin kamu hanya belum tahu atau bisa jadi karena kecemasan sudah menerormu lebih dulu.
“Tak akan apa-apa,” aku tersenyum tapi raut mukamu tak juga berubah. Continue reading

Review Buku : Sik Ndemin Selawase

Paijo    : …. Ndemin Selawase lek lanang. Lagian gak penting sopo jenenge. Sing penting areke sehat.
Narti   : Lha terus lek nyeluk yok opo lek podo? Surat-surate? Ngko malah kliru karo mas’e.
Paijo    : Yo gak. Sing iki Ndemin 2. Dinomeri.
Narti   : Koyok wedhus korban ae athek dinomeri. Lha lek wedok?
Paijo    : Yo Ndeminwati. Hehehe
Narti   : Sak karepmu wes.

Dialog di atas adalah sedikit penggalan dari buku “Ndemin Selawase” yang pernah saya reviewi tahun lalu. Dan kali ini, saya bermaksud untuk mereview kelanjutan buku tersebut yang judulnya “Sik Ndemin Selawase”.  Buku ini masih ditulis oleh orang yang sama.  Ya, dia adalah Rina Tri Lestari.

Tak jauh beda dengan buku pertama, buku keduanya ini pun merupakan kumpulan dari tulisan-tulisannya yang pernah dimuat di blognya.  Baik blog pribadinya maupun di blog keroyokan, Kompasiana.com. Continue reading

Tenang

Taut Jemari

Barangkali memang tak semenggebu masa lalu.  Tak juga selayaknya apa-apa yang baru saja berlalu.  Biasa saja.  Tak begitu membuat buncah dalam detakan yang menyembilu.  Tak.  Tak sampai seperti itu.  Semuanya seperti air danau yang kita kunjungi di pagi yang biru.  Menggenang tenang.  Tapi dalam.

 

Beautiful Morning, 31-1-13

 

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

Titik Koma

Karena kadang kita harus berhenti hanya agar dapat kembali melangkah.

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: