Hal-Hal Besar

Gambar

Seseorang pernah mengatakan kepada saya, “ada tiga hal besar yang akan dilalui manusia.  Kelahiran, pernikahan dan kematian.”  Dan jauh hari sebelumnya, seseorang yang lain pernah mengatakan ini pada saya, ”perempuan akan melewati hal-hal besar diusianya yang ke dua puluh tiga, seperti usia dua puluh tujuh pada seorang laki-laki.”

Dua pernyataan berbeda dari dua orang yang berbeda itu rupanya telah mampu melekat erat di benak saya.  Angan-angan saya menjadi jauh.  Lebih-lebih ketika Juli tahun lalu, umur saya menginjak yang ke dua puluh tiga.  Hal besar apa kira-kira yang akan saya lalui?  Pernikahankah?  Atau jangan-jangan sebuah kematian?  Atau ada hal besar yang lain?

Sepanjang dua puluh tiga saya yang nyaris berjalan separuh, tak ada hal besar apapun yang terjadi.  Kecuali jika patah hati masuk di dalamnya.  Hehe.  Ya, saya patah hati berkali-kali sepanjang waktu itu oleh orang yang sama tanpa pernah dia sadari jika ia tersangkanya.  Hingga sebuah tamparan yang begitu keras membuatku limbung dan menangis semalaman.  ”Dia tak pernah mengingkanku.”

Ada dua pilihan yang saya ajukan kepada diri sendiri: menunggu atau menyudahi.  Saya memilih untuk menyudahi.  Rasanya, sudah cukup saya menyakiti diri sendiri.  Sudah cukup pula waktu yang tersia-sia.  Tepat sebulan pilihan itu diambil, seorang yang sama sekali tak saya (pun keluarga dan kerabat) kenal, tiba-tiba datang menemui salah satu kerabat dekat.  Menanyakan, apakah sudah ada yang meminang saya?  Ya, seperti jatuh dari langit saja orang itu.

Tepat di hari TL Twitter saya sibuk membahas gosip kiamat yang diperkirakan oleh suku Maya, seseorang yang kami ketahui bernama Pak Narto itu menemui saya di tempat kerja.  Ya, bersama seorang laki-laki pendiam yang selalu menundukkan pandangannya.  Pertemuan yang kurang dari lima menit itu hanya dipergunakan oleh Pak Narto untuk mengenalkan laki-laki ini kepada saya.  Perkenalan yang singkat, tentu saja.  Setelah mereka berpamitan, saya merasa ada yang kurang.  Ya, Pak Narto lupa menyebutkan nama laki-laki tadi.

Kali ini aku tak ingin seperti yang sudah-sudah, menolak begitu saja tanpa mau tahu lebih banyak.  Keesokan harinya, aku menunggu namun tak ada kabar, tak ada perkembangan.  Hingga petang menjelang, sebuah pesan pendek masuk ke handphone butut saya, sebuah ajakan perkenalan kedua.  Kini, ia sendiri yang mengirimkannya lengkap dengan namanya.

Malam itu, kami berkomunikasi intens.  Saling berkenalan.

Tiga hari lepas pertemuan pertama, laki-laki tadi mengirimi saya sebuah pesan pendek yang membuat saya pusing bukan main.  Galau.  Bingung tak berkesudahan.  Menangis.

Kiranya, panjenengan mau hidup bersama saya? Menjadi isteri saya?

Ya, begitu kira-kira isi pesan pendek itu.  Saya tak menjawabnya.  Baru tiga hari, ini terlalu cepat.  Saya masih butuh banyak waktu.  Belum ada cinta di sini.  Bagaimana mungkin?

“Kita belum saling mengenal, bagaimana mungkin sudah melamar?”

“Saya yakin, panjenengan jodoh saya,”

“Apa yang membuat yakin?”

“Istikharah,”

Lalu saya tak bertanya lagi.  Saya benar-benar bingung.  Saya yakin, dia pun belum mencintai saya saat itu.  Kami benar-benar baru berkenalan.

Saya tak bisa menceritakannya pada ibu saya sebagaimana biasanya.  Karena saya yakin, jawabannya pasti menyuruh saya untuk mengiyakan karena memang beliau sudah sangat ingin punya menantu.  Dan harapannya untuk kali ini sangatlah besar.  Bertanya kepada guru ngaji saya yang juga biasa saya mintai saran?  Saya pun yakin jawabannya tak jauh beda karena belakangan, beliau juga sibuk memilah milihkan orang yang tepat untuk saya namun saya selalu bilang belum ingin menikah.

Kemana lagi kalau bukan kepada Sang Pemilik Hidup, saya ceritakan kegalauan saya hingga panjang lebar kemudan saya akhiri,”saya harus bagaimana?”

Di sinilah betapa teman sangat berperan.  Terima kasih teman-teman yang bersedia mendengar, menyimak curhat saya yang panjang dan tak habis-habis.😀

Saya lupa bagaimana saya menjawab lamarannya, atau barang kali saya memang tak menjawabnya saat itu.  Tapi kami melanjutkan proses ta’aruf.  Hingga hari ke empat belas dari pertemuan pertama, laki-laki itu datang ke rumah saya.  Sendirian.  Memohon izin kepada orang tua saya untuk meminang puteri satu-satunya.

Tiga hari setelahnya, ia datang beserta keluarganya.  Meminang saya.

Pinangan diterima.  Hari dan tanggal akad nikah pun ditentukan.  Semua terjadi begitu cepat.  Dalam hitungan hari, saya sudah menjadi pinangannya.  Sudah menjadi calon isterinya.

Bagaimana dengan cinta?

Dulu, atau bahkan beberapa waktu lalu, saya sangat takut jika suatu saat menikah dengan orang yang tak saya cintai.  Bagaimana saya bisa menjalani semuanya?  Bagaimana saya bisa ikhlas?

Namun rupanya, ada hal-hal lain yang patut dipertimbangkan selain cinta.  Banyak sekali hal.  Karena saya menyadari, cinta saja tak cukup untuk membangun sebuah rumah tangga.  Ada banyak hal yang terlibat, dilibatkan.

Menumbuhkan cinta di atas kepastian saya rasa lebih indah dari pada membuat kepastian di atas cinta.

Sejauh ini pun saya merasa nyaman.  Dia mencintai saya.  Tatapannya tak bisa dielakkan.  Dia menghormati saya sebagai perempuan.  Dia meghargai keputusan-keputusan saya.  Tak mengekang.  Bahkan saya tetap bebas berada di dunia saya sendiri.

Dia begitu berhati-hati dalam banyak hal, saya begitu yak-yakan, semau saya sendiri.  Dia penyabar dan saya tidak.  Tapi saya yakin, jika kami mampu berkolaborasi dengan baik, akan menghasilkan hal yang jauh lebih baik.

Ada beberapa hal yang membuat saya ill feel terhadapnya, namun ada banyak hal lain yang membuat saya mengaguminya.  Saya tahu ini baru permulaan.  Atau bahkan, kami baru berjalan menuju pintu, belum sampai membukanya.

Tapi cinta saya sudah bertumbuh untuknya.  Dan akan semakin tumbuh, semoga.

Kini, bukan perkara tak cinta yang membuat saya takut dan ragu. Tapi ketakutan dan keraguan itu sendiri. Saya takut dan ragu jika saya tak mampu menjadi isteri yang baik untuk suami saya.  Saya takut dan ragu tidak bisa menjadi ibu yang baik.  Saya takut dan ragu tidak mampu menjadi perempuan yang mampu membuat suaminya menjadi hebat.

Tapi yang pasti, saya siap, tidak takut dan ragu untuk melewati hal besar di penghujung dua tiga.  Mohon doanya.🙂

Tagged: , , , , ,

27 thoughts on “Hal-Hal Besar

  1. Nair al Saif 13 May 2013 at 4:51 AM Reply

    satu rahasia yg perlu dikeahui (kata teman cewek yg sudah menikah).

    ‘kita tak perlu jatuh cinta sebelum memutuskan untuk menikah. karena pernikahan yang barokah tidak memerlukan itu. yang harus kita miliki adalah kecendrungan untuk membangun cinta itu. bangunlah cinta itu pada saat yang tepat (read: setelah akad nikah) dan pada org yg tepat (read: pasangan)’

    selamat ya mbak.

    nanya sedikit: 3 hal besar dalam hidup itu dan umur itu emang bener ya mbak? infonya dr mana?
    thanks

    • fawaizzah 14 May 2013 at 11:08 AM Reply

      Makasih, Mas Nair🙂

      Tentang 3 hal besar dalam hidup dan umur, tentu belum pasti benar. Allah selalu punya rencana yang terbaik untuk setiap hambanya. Insya Allah.

      Itu saya dapat dari obrolan2 dengan teman-teman saya, entah mereka dapat dari mana. Hanya kebetulan saja, hal itu membekas dalam benak saya.

  2. JNYnita 27 March 2013 at 11:49 AM Reply

    Yang plg penting bukan cinta, tp dua2nya punya tujuan yang sama :’)

    • fawaizzah 27 March 2013 at 12:31 PM Reply

      dicatat, Mba..
      hehe terima kasih banyak🙂

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: