Rimba Waktu

RIMBA WAKTU

Oleh: Fawaizzah Watie

 CIMG4716

Ada hal-hal, yang meskipun berkeras diingat, tapi seakan ia hanya sekadar lewat.  Sebaliknya, ada hal-hal lain yang terus dicoba untuk dilupakan, tapi ia terus melekat.  Tak pernah berkarat.

Aku merasa seperti camar, terbang tinggi menyongsong matahari yang hendak menenggelamkan diri tapi berulang kali aku limbung, terseok-seok lalu jatuh.  Bukan karena tamparan angin tapi karena sebelah sayapku masih tertinggal di bahumu.

Aku tak seperti dulu, yang menganggap diri sebagai korban atas kediamanmu, kepergianmu.  Kusadari betapa dirimu pun terluka, sekarat, tak jauh beda dari keadaanku.  Aku tahu kamu berkeras hati membungkam keinginanmu untuk menyapaku, sejenak melepaskan rindu dengan banyak bercerita padaku.  Aku tahu, kamu berkeras hati untuk tetap berada di persembunyianmu.

Meskipun aku juga tahu, betapa sering kamu diam-diam mengintipku.

Bedanya adalah ketika aku merindukanmu, menginginkanmu, ingin tahu keadaanmu, aku buta tentangmu.  Aku buta keberadaanmu.  Lalu, satu-satunya hal yang mampu membasuh semua itu adalah kenangan masa lalu.  Dan semua terbasuh dengan palsu.

Aku menjajar satu per satu kenangan, meniliknya jeli sekali. Aku memperhatikan sudut senyummu, tawa yang acap kali kamu ciptakan, lelucon-lelucon yang sama sekali tak pernah lucu tapi mampu membuatku begitu terpingkal, serpihan-serpihan hidup yang pernah kamu ceritakan.  Bahkan, aku mengingat begitu baik bagaimana kamu mengajariku agar sedikit rasional, yang waktu itu justru sering kali aku abaikan.

Pada satu waktu, terkadang aku tercekik rindu.  Rindu yang sungguh-sungguh rindu.  Rindu sekali.  Merindui hal-hal sederhana darimu.  Tentangmu.

*

Sudah siap? Aku sudah di depan.

Aku baca kembali pesan singkat darinya yang terkirim lima menit lalu.  Kubuka jendela untuk mengintipnya.  Dia tersenyum manis, matanya teduh tapi berkilat semangat.  Seperti biasa.

“Sebentar ya!” teriakku.

Dia mengangguk.  Lalu, dengan sedikit gerakan, dia tinggalkan sepeda motornya, melangkah menuju beranda.  Sedang aku, menyempurnakan riasan ringan di wajah dengan sedikit tergesa.

“15 menit, bukan waktu yang terlalu lama untuk menunggu, kan?” tanyaku, sembari menutup pintu.

“Tentu saja tidak.  Yuk!” jawabnya singkat, kemudian dia melangkah menuju motor.  Aku mengikuti di belakangnya.

*

Aku pernah menanyakan hal sama kepadamu, saat suatu pagi kamu menjemputku, tentu lebih pagi dari dia menjemputku hari ini.  Dan aku ingat, kamu berkata,”Seberapa sebentar pun menunggu, itu akan selalu terasa lama.” Kamu memperhatikan setiap gerakanku, caraku menutup pintu dan memutar anak kunci.  Jeda beberapa detik, “Apalagi menunggumu,” lanjutmu.

Aku bersungut, cemberut.  Hingga akhirnya kamu menambahkan, “Karena aku sudah sangat ingin bertemu.  Aku rindu, tau!”  Lalu dengan lembut, kamu menarik lenganku, membuatku berjalan sejajar denganmu.

Aku mengulum senyum yang tak mampu kusembunyikan.

*

“Kita jadi memancing ke telaga?”

“Iya.  Kamu ingin ke tempat lain?” tanyanya, melirik spion kiri yang sudah mengarah tepat ke wajahku.

“Kenapa tak pergi ke pemancingan saja?” aku bertanya tanpa menjawab pertanyaannya. Menatap kaca spion yang sama.

“Kenapa harus ke pemancingan?” dia melakukan hal yang sama sepertiku.

“Di kolam pemancingan, pasti ada ikannya.  Kalau di telaga?  Yakin, ikannya akan tersangkut di kailmu?  Aku bahkan tak yakin ada ikan di sana.”

“Memancing tidak melulu tentang ikan.”

“Lalu?”

Dia tak menjawab, membiarkan aku menerka-nerka jawaban itu sendirian, seperti biasanya.

*

Mungkin, saat bersamamu dulu, aku akan sangat senang berada di sana.  Tapi, bersamanya ke telaga hanya akan membuatnya terluka.  Kamu tentu tahu itu, aku mungkin justru akan sibuk dengan kenanganku sendiri, ah maksudku bersamamu.  Di sini, di setiap tepi, aku sudah melukisinya dengan kisah-kisahku, denganmu.  Dari yang menyenangkan, sampai yang mengharu biru.  Bahkan juga tentang kesedihan panjang yang tak kunjung hilang. Kesedihan yang sempurna tersembunyikan.  Rapat-rapat.  Bahkan, air mata pun tak mampu menemukan.

*

Jalanan mulai menanjak, berkelak-kelok, hawa dingin mengoyak kulit epidermis, menusuk tulang.  Udara sejuk menerobos ke paru-paru lewat hirupan hidung.  Dan tentu saja segera tercium aroma hutan pinus yang menyegarkan.

“Kamu yakin, di sini ada ikannya?” tanyaku lagi ketika kami sudah sampai di tepi telaga.

“Tentu saja,” jawabnya datar.  Lebih terkesan enggan, atau mungkin bosan dengan pertanyaan yang kuulang-ulang.  Meski aku tahu bahwa begitulah dia.  Hanya akan menjawab seperlunya.  Bicara seperlunya.

Ada rasa geli saat memperhatikannya mengeluarkan peralatan pancing dan membuka bungkus umpan yang sudah ia persiapkan.  Lalu ia memasangnya pada mata kail.  Setelah umpan terpasang sempurna, ia melempar mata kail itu dengan cara menyabetkan gagang kailnya ke arah telaga.

Pluk…

Terdengar suara benturan antara mata kail dan air telaga, lalu mata kail yang sudah terisi umpan itu pun tenggelam, menyisakan pelampung yang terus terapung-apung.  Dia terlihat sangat menikmati ritualnya.

Sedetik sebelum aku membuka mulutku untuk bicara, dia bertanya,“Kamu tahu, kenapa aku mengajakmu ke sini?”

“Untuk mengajariku memancing?”

“Bukan.”

“Agar kamu dapat banyak ikan?”

“Bukan.”

Aku berpikir sejenak, mencoba menebak, tapi pada akhirnya aku memilih menggelengkan kepala.

“Agar kamu menunjukkan padaku sudut-sudut mana yang membuatmu sering tersesat.”

Aku mengernyitkan kening, tak benar-benar mengerti.  Lantas, ia berkata lagi,”Tersesat pada masa lalu.”

Aku terperanjat.  Pikiranku terasa kosong, darah tiba-tiba mengalir semakin cepat, suhu tubuh berubah panas.  Bagaimana dia tahu?  Kupikir, aku telah mampu menyembunyikannya sedemikian rapi.  Bahkan, sebagian diriku tak kuijinkan untuk mengetahui.

Aku terdiam.  Dia menatapku.  Aku semakin kelimpungan.  Aku merasa tatapannya seperti mata pedang yang menusuk dadaku, tepat di jantung.  Tak sepatah pun kata yang kumiliki, semuanya lebur dalam degub jantung yang tercecer.  Aku takut kembali merasa kehilangan.

“Aku akan senang jika kamu mau bicara,” katanya.

Mata teduhnya menelanjangi manik mataku yang semakin mengembun.  Sungguh, aku bukan tak ingin bicara, aku hanya tak tahu apa yang ingin kukatakan.

“Kamu mungkin tak menyadari, betapa sering kamu memanggilku dengan namanya,” dia menggeser duduknya, tepat di sampingku.  Rasanya, dadaku terasa sakit oleh rasa bersalah.  Meski sebagian diriku berteriak bahwa itu tak mungkin.

“Kamu mungkin juga tak menyadari, saat menatapku, bukan wajahku yang terlukis di bening matamu.  Ada orang lain di sana,” dia berbicara dengan membuang tatapannya ke tepi telaga yang jauh.  Aku tak kuasa menatapnya, membaca perih yang tak sengaja kutorehkan.  Aku sendiri tak lagi menyadari, sudah berapa bulir air mataku jatuh.

“Awalnya, aku mengira bahwa kamu mungkin memang masih butuh waktu.  Melupakan seseorang memang bukan hal yang mudah, kan?”

“Aku sudah melupakannya!” potongku cepat.

“Dan entah sudah berapa kali kamu berkata seperti itu, hehe…” dia tertawa kecil, tapi kurasai tawa itu penuh luka, dadaku semakin sembiluan.

“Berulang kali aku mencoba meyakinkan diri, bahwa kamu memang masih butuh waktu untuk menempatkanku di hatimu, penuh.  Bukan bersisihan dengan seorang yang pernah tinggal di masa lalumu.”

Air mataku menderas.  Aku merasai sakitnya.  Sakit yang kuciptakan.

“Aku mencintaimu,” lirih aku berkata, tak yakin apakah ia mendengarnya.  Tapi ia dengar.

“Aku tahu,” dia berkata.  Selang beberapa detik, “Aku hanya tak lagi mampu membagi hatimu dengan seseorang yang lain,” lanjutnya.

Aku mencoba mengerti.  Aku pun tak yakin mampu berada di posisinya.  Tangisku pecah, dadaku tak lagi mampu menahan isakan kecil.

“Hei, kenapa menangis?” dia berubah gugup.  Beberapa detik dia nampak bingung dengan apa yang akan dia lakukan padaku.  Ingin rasanya aku berhambur pada peluknya tapi aku tak mampu.

“Kamu memecahkan rekor!” katanya tiba-tiba.

Aku tak mengerti.  Bulir-bulir air mataku tak kunjung berhenti.

“Aku belum pernah membuat perempuan menangis sebelumnya.  Kamu hebat!  Kamu adalah perempuan pertama yang menangis karena aku!” katanya sembari menangkupkan kedua telapak tangannya di wajahku, lalu menghapus air mataku dengan ibu jarinya.  Dia masih berusaha menghiburku di tengah belantara lukanya.

“Tuhan, bagaimana mungkin aku telah membuatnya sedemikian terluka.  Lelaki yang begitu baik,” aku mendesah dalam hati.

“Ma…afkan.. a..ku,” kata-kataku tersengal oleh isakan.

Dia menarikku dalam dekapannya, aku memeluknya erat sekali.  Seerat yang kubisa.  Seakan-akan setelah itu aku tak bisa memeluknya lagi.

Setelah aku mampu menenangkan diri, dia mengajakku berjalan menelusuri tepi telaga.  Menikmati dingin yang dibawa oleh kabut yang berarak-arak turun dari pucuk gunung.  Tangan kami saling menggenggam.

*

Di tepi telaga yang lain, aku kembali tersesat dalam lorong-lorong waktu.  Mendapati hanya ada aku dan kamu yang berada di situ.  Tengah merasakan denyut-denyut rasa yang sepertinya hanya kita yang memilikinya.

Bersandar pada pohon pinus yang daunnya menjarum, kamu bertanya,”Jika suatu saat, kita tak lagi bersama, apakah kamu akan tetap mengunjungi tempat ini?”

Aku tak pernah suka kamu bertanya hal itu.  Tapi, kamu keras kepala.  Kamu selalu menanyakannya meski berulang kali aku katakan,”Kita akan selalu ke tempat ini bersama-sama!”

“Kalau suatu waktu aku harus pergi, apa kamu akan sedih?” tanyamu lagi, tak mengacuhkan jawabku.

“Kalau yang harus pergi itu adalah aku, apa kamu akan sedih?” aku berbalik tanya.

Kamu tak menjawab.  Tak mampu menjawab.  Tapi kilat matamu pecah, menyemburkan kedukaan tak terbahasakan.  Setelahnya, kita hanya bisa terdiam, saling menggenggam tangan.

Berharap, waktu berhenti saat itu juga, hingga kita tak pernah merasakan sakit kehilangan.

*

Aku tersentak ketika mendapati tangan yang kugenggam adalah tangannya, bukan tanganmu.  Lagi, aku kembali mencungkil hatinya, membuat lukanya semakin dalam.  Ingin rasanya menyudahi ini semua, berlari pulang.

“Aku ingin pulang,” kataku sembari menenggelamkan tatapanku pada tanah tempatku berpijak.

“Jangan lari lagi, selesaikan.  Aku akan menemanimu,” dia berkata dengan menggenggam tanganku lebih erat.  Lalu, kami kembali berjalan.

Sementara dari arah hulu, kabut mulai turun melewati sela-sela ranting pinus.  Suasana makin gelap dan dingin, dan aku seperti tersendat-sendat ditengah awan.  Telapak kakiku gagap meraba, berjalan tanpa bisa melihat arah, hanya sekedar mengikuti genggaman tangan.  Tepatnya tanganku kubiarkan di genggamnya.

*

Aku mendapati dirimu tengah menggandeng tanganku, membimbing langkahku hingga kemudian kita duduk di tepi telaga.  Membiarkan jemari kaki terkecipak air telaga yang begitu dingin.  Kita tak saling bicara.  Tapi detak jantung kita saling berteriak.  Meneriaki semesta yang begitu tak adil.

Semesta yang mempertemukan kita, berpayung cakrawala kita saling mencinta.  Kisah cinta yang tak pernah ternoda luka.  Hanya ada tawa, tawa dan tawa.  Lalu kita terpeleset oleh licinnya kepongahan hati.  Bahwa kita, telah menggenggam surga.  Cinta yang begitu sempurna.

Hingga pada akhirnya, semesta jugalah yang membangunkan kita, lalu berkata bahwa kesempurnaan cinta bukanlah hanya tentang tawa, tapi juga luka yang mengiringinya.  Yang lebih menyesakkan adalah ketika ia berbisik, ”Dan, tak selalu berakhir bahagia.”

Aku meronta tak menyepakatinya.  Tapi siapa yang mampu mengalahkan apa yang sudah tersurat di hamparan langit sana?

Lalu pelan-pelan, tubuhmu menjadi sebuah siluet.  Awalnya aku berfikir bahwa itu karena ulah ketebalan kabut, ya, tentu ditambah embun di mataku yang membuat semuanya semakin menggelap.  Tapi saat aku mencoba meraih tanganmu untuk meminta genggaman, tanganku tak menemukan.  Berkali-kali aku mencoba, tapi aku hanya mampu menggenggam udara yang mendingin.

Entah bagaimana mulanya, ingatan lama yang sengaja kupendam dalam-dalam kembali mencuat keluar.  Ingatan tentang sebuah tempat, Rumah Sakit.  Aku teringat bagaimana aku berlari dengan tenaga yang begitu kebas.  Saat aku berada di tepi ranjangmu, aku tak merasai apapun kecuali kekosongan.  Aku menatapmu begitu dalam tapi kamu tak membalasnya dan hanya terus terpejam.  Aku meneriakkan namamu sekeras yang kubisa, tapi mulutku tak mengeluarkan suara apapun, bahkan bisik pun tidak.

Aku berusaha berlari dari ingatan yang menyeruak itu.  Aku tak mampu melihatmu begitu tak berdaya.  Namun, aku justru mendapati tubuhmu menjadi pendar cahaya.  Samar-samar aku mendengar suaramu,”Bahagiakan dirimu.  Selamat tinggal.”

Aku tersedu sedemikian pilu tapi juga tersadar bahwa dirimu telah pergi, tak mungkin kembali.

*

Pipiku sangat basah saat aku menyadari tengah berada di warung lesehan tak jauh dari telaga.  Secangkir cokelat panas kesukaanku sudah terhidang beserta cawannya.  Di sebelah cangkir, ada sepiring roti bakar keju.  Saat aku mendongak, kutemukan sepasang mata nan teduh.  Tersenyum begitu hangat.

“Kamu akan selalu baik-baik saja,” katanya.

“Apa kamu juga akan pergi?” tanyaku.

“Tidak.  Kopiku belum habis,” sembari tertawa kecil.  Aku menatap cangkir kopinya, isinya masih separuh.

“Datanglah ketika kamu sudah benar-benar siap,” katanya lagi.  Ingin sekali aku berteriak bahwa aku tak ingin dia pergi.  Tapi, aku pun juga perlu waktu untuk meyakinkan diri bahwa semua kenangan yang berlalu tak mungkin kembali.

Demi kebaikanku sendiri dan juga demi tak lagi melukainya, aku memberikan anggukan kecil.

“Kamu tahu ‘kan, dimana letak kailku?” katanya lagi.  Lagi-lagi aku mengangguk tapi kali ini sembari tersenyum.

“Jangan pindahkan letak kailmu,” pintaku.

“Tak akan pernah.”

 

-SELESAI-

 

Terbit di Majalah Femina Edisi 48 (8-14 Desember 2012)
Gambar Ilustrasi : Majalah Femina

 

Tagged: , , ,

23 thoughts on “Rimba Waktu

  1. Sie-Thi Nurjanah 18 August 2014 at 12:27 PM Reply

    Keren banget cerpennya..penggunaan bahasa tulisan dan ending yg tak terduga..nice🙂

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: