#postcardfiction : Mestinya

Mestinya aku bahagia, tapi rasa nyeri karena ditinggalkan itu masih ada.  Ketakutan membuat apa pun terasa tak tercapai.  Ingin memutar waktu kembali.  Begitu yang selalu terharap.  Serasa masa depan tak memberikan sedikit janji tentang kebahagiaan.

“Sudah siap, Na?”

Lagi-lagi aku mendapat pertanyaan yang sama.  Kali ini datang dari Riri, sahabat semenjak masa SMA.  Melihat anggukku yang sedikit ragu-ragu, ia mendekat.  Berdiri di belakangku yang sedang duduk di depan cermin.

“Masih ada yang mengganjal pikiranmu?” tanyanya lagi.  Aku menggeleng.  Berbohong.

Dia merapikan rambutku yang sebenarnya sudah rapi.  Tak perlu dirapikan lagi.

“Kamu masih mikirin dia?” lagi-lagi ia bertanya.  Tapi kali ini aku tak memberi jawaban.  Baik anggukan maupun gelengan.  Aku sempurna diam.

“Kamu percaya, jodoh di tangan Tuhan?”  Ah, kenapa dia begitu banyak bertanya?  Aku masih diam.  Tidak, tidak, tidak benar-benar diam karena beberapa detik setelahnya aku mengangguk.

“Rejeki, jodoh dan mati ada di tangan Tuhan,” begitu jawabku setelah anggukan.

“Tapi kadang Tuhan begitu semena-mena terhadap tiga hal itu,” kataku lagi. Mendengus.  Dia tertawa kecil.

“Iya, Tuhan kadang gak kira-kira kalau ngajakin bercanda, hehehe…”

Mau tak mau, aku pun turut tertawa.

“Tapi, Tuhan pemilik strategi untuk hidup kita yang paling handal!”  katanya lagi.  Aku ragu untuk mengangguk, tapi aku mengangguk juga.

“Kamu hanya perlu yakin kalau rencana Tuhan itu selalu baik, Na, lalu semuanya akan lebih mudah,” dia kembali berbicara serius.   Membuatku kembali ingat rasa bersalahku sendiri. Rasa sakit hati.

“Jika dulu aku tidak mencintai orang yang salah, mungkin…” tak mampu aku melanjutkan.

“Tak ada orang yang salah untuk dicintai, Na.  Hanya waktunya kadang kurang tepat,” katanya, tersenyum.

“Sudah, yuk!  Kamu udah ditunggu,” lanjutnya, menggandengku keluar kamar.

Aku turun, duduk menyebelahi orang yang sudah menungguku.  Ijab qabul pun di mulai.  Air mataku menetes deras, ada rasa bersalah dan haru.  Semestinya, bukan lelaki ini yang bertanggung jawab atas kehamilanku.

Tagged: , , , ,

11 thoughts on “#postcardfiction : Mestinya

  1. Babeh Helmi 6 January 2013 at 2:54 PM Reply

    hmm, harusnya siapaaa? .. #eh .. hihihi

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: