Puding Pertama

Tertatih langkahku ketika menujumu yang berdiri gemetar di balik pintu.  Aku tersenyum malu-malu dan kulihat tubuhmu menjadi kaku.

“Duduk,” katamu mempersilahkan.  Membalik badan, entah hendak bepergi kemana kamu sedang baru tiga langkah dariku kamu kembali lagi.  Terduduk, gemetar jari jemarimu.

Kukeluarkan puding yang kubuat semalam, menyimpannya di freezer membutnya membeku lalu menetes-netes mencair dalam perjalanan.

“Kenapa repot sekali?” Hah, mengucapkan itu saja suaramu gemetar bukan main.  Sungguh, untukmu tak perlu kurasakan repot itu.  Inginmu adalah tugasku, begitu kutanam dalam-dalam di sanubari.  Tak perlu sungkan.

Aku duduk saja dan kau sibuk dengan gemetar yang menyerang tubuhmu, lebih-lebih dadamu.  Kau tahu, aku bahkan mendengar suara tabuhan jantungmu yang tak beraturan itu. Ah kau, kenapa masih saja begitu? Ini adalah kali kedua meski yang pertama hanya ada pertemuan bisu.

Saat itu, saat langit begitu membiru dan burung-burung bernyanyi di dahan-dahan pohon depan sekolahan, tiba-tiba suasana berubah magenta.  Bagaimana mungkin sebuah pertemuan bisu mampu membuat seorang sepertimu begitu mantap mengucapkan empat kata itu? Aku terharu sekaligus membeku.

Hari ini, aku mendatangimu.  Sekotak puding sudah kusiapkan sejak semalam.  Berharap kau menyukainya.

“Manis sekali,” katamu ragu-ragu.

Ah, ya, lupa aku memberitahumu bahwa ia terlalu banyak gula.  Aku tak sengaja.

“Sepertimu,” tambahmu.  Aku tentu saja tersipu.

Rencana, ya, ya aku ingat sekarang, aku datang ingin bicarakan rencana.  Rencana setelah aku berikan anggukku dua hari setelah kau lontar pertanyaanmu. Sebuah pertanyaan yang begitu cepat datang sekaligus lama karena aku sudah beberapa waktu menunggu.

Begitu cepat karena ia datang darimu.  Dari seorang yang baru kukenal dalam hitungan hari. Ah bukan, dalam hitungan jam kukira.

Seperti bawang, aku mengelupas semua sisi diriku.  Begitu pun denganmu.  Ya, rencana pertama kita memang harus saling tahu.  Saling mengelupas cerita baik dan buruk, sikap, mimpi-mimpi, hingga masa lalu.

Puding, puding, kau harus sambil memakan pudingnya, tak perlu malu-malu, itu kubuat khusus untukmu. Ah, tapi kau malah menyimpannya.  Kau bilang, “nanti saja, kita mengobrol dulu.”

Puding, puding, ini adalah puding pertama, puding yang menjadi saksi saat kucium tanganmu sebagai tanda kesungguhan anggukku ketika menjawab pertanyaanmu,”maukah kau hidup bersamaku?”

Tagged: , , ,

6 thoughts on “Puding Pertama

  1. Heni Hendayaningsih 26 December 2012 at 11:27 AM Reply

    ini cerita sepertinya memang dibuat spesial buat aku… ada kemiripan-kemiripan cerita nih… thanks banget yaaa….

    • fawaizzah 26 December 2012 at 11:40 AM Reply

      hihihihi…
      tanpa unsur kesengajaan kan ya, Ambuu…

      *sun Ambu*

  2. Mutz 26 December 2012 at 8:16 AM Reply

    co cuiiiiiiitttt! like this lah!🙂

    • fawaizzah 26 December 2012 at 9:58 AM Reply

      hihihi makasih, mbaa🙂

  3. HM Zwan 25 December 2012 at 8:45 PM Reply

    aaaaaaaaa…..so sweeetttttttt..manis bangettttt semanis pudingmu,errrrrrrrrrrr…😀

    • fawaizzah 25 December 2012 at 8:49 PM Reply

      hihihihi ya, memang manis sekali Mba🙂

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: