Kehadiran

Kehadiran

“Kamu di mana?” tanyanya.

Padahal aku berdiri tak lebih sejangkah dari tempatnya. Matanya nyalang mencari-cari. Bibirnya terus saja membuka tipis dan mengeluarkan kalimat tanya, “kamu di mana?”

Aku menjajarinya. Bahkan, sengaja bahuku kutempelkan pada bahunya. Biar dia menyadari, aku bersamanya. Jangan kira aku tak berteriak mengatakan padanya jika aku ada. Ada tepat di sampingnya. Sayangnya, dia bergeming. Seakan tuli dengan suara yang kuteriakkan.

Kurasa ia bercanda. Mungkin tengah mengerjaiku?

Tapi bening air yang membungkus matanya lantas jatuh menjadi titik-titik kemudian mengalir deras sama sekali, membuatku berpikir ulang bahwa ia tak sedang bercanda.

Kuguncang-guncangkan tubuhnya, kembali berteriak,”aku di sini!!” namun lagi-lagi, dia bergeming.
“Kamu di mana?” itu lagi yang keluar dari mulutnya. Bibir ranumnya bergetar. Aku bingung dibuatnya. Apa yang salah?

Aku mencubit pinggangku sendiri, masih kurasai sakit sekaligus geli. Ah, aku tak sedang bermimpi.

Aku menyibak rambutnya yang tergerai menutup daun telinga, kubisikkan dengan lembut sekali, “aku di sini. Tak pernah ke mana-mana.”

Dia bereaksi! Mendongak lalu memutar sedikit tengkuknya. Itu membuat kami bersemuka. Tapi tatapan matanya masih saja nyalang mencari-cari. Seolah, aku tak berwujud, menyerupa udara yang tak bisa dilihatnya. Tubuhnya semakin bergetar oleh isakan. Air matanya semakin deras. Ya Tuhan, apa yang tengah terjadi? Dia tak menyadari kehadiranku, keberadaanku.

Tak lama berselang, ia terduduk menunduk masih menangis sambil menutup mukanya dengan kedua tangan. “Kamu di mana?”

Ada tapi tak terlihat nyatanya lebih terasa nyeri dibanding terang-terangan terlupakan, dilupakan. Aku tak tahan lagi melihat ini. Maka aku pun memutuskan berlari pergi. Benar-benar pergi.

Barang kali dengan begini, dia justru mampu menemukan dan menyadari sebuah kehadiran.

Tagged:

7 thoughts on “Kehadiran

  1. cumakatakata 8 January 2013 at 7:20 AM Reply

    Memang sering kita sadar di kala semua sudah berubah.

    ternyata ini blognya penulis beneran.

    • fawaizzah 8 January 2013 at 12:19 PM Reply

      haiyah…
      saya baru belajar menulis.

  2. Heni Hendayaningsih 20 December 2012 at 11:26 AM Reply

    sedih Nduk…
    Seringkali memang kita melupakan seseorang yang sebenarnya selalu ada untuk kita, dan baru menyadarinya saat dia benar-benar tiada…
    Thanks udah ngingetin…

  3. HM Zwan 18 December 2012 at 3:18 PM Reply

    uwaaaaa…huhuhuhuhu,sedih bangettttt zah hickz,

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: