Bayiku

“Sini, Nak, sini sama Mama, Papamu lagi sibuk jadi gak mau diganggu.”  Kuraih ia yang dibiarkan menangis di ranjang, suamiku selalu saja tak mengacuhkannya.  Huh, padahal sewaktu aku hamil lalu, dia nampak tak sabar menunggu kehadiran bayi ini.  Sekarang, begitu dia lahir, menyentuhnya pun dia tak mau.

“Cup… cup… cup…” Kugendong ia, mendekapnya di dadaku sembari menyusuinya tapi dia tak mau menghisapnya dan terus saja menangis.  Kusentuh popoknya barangkali basah karena mengompol.  Ah, kering.

“Kamu ngantuk, ya, Sayang?  Baiklah, mama nyanyiin lagu buat kamu, ya.”  Dan mulailah aku menyanyi lagu yang liriknya kubuat sendiri.

Tidurlah, tidurlah anakku sayang
Mama di sini tak akan pernah pergi tinggalkanmu
Tidurlah, tidurlah anakku sayang
Jangan pernah merasa takut lahir di dunia ini
Karena mama selalu ada untuk menjagamu
Tidurlah, tidurlah anakku sayang

Dan ia pun tak lagi menangis, matanya mulai meredup lalu terpejam sama sekali.  Dengan ditimang-timang begini, tidurnya akan semakin pulas.

Aku kembali membaringkannya di ranjang, suamiku mengamati dengan tatapan enggan.  Ah, kurasa bukan enggan melainkan lebih terlihat sedih.  Ya Tuhan, apa yang membuatnya terlihat sedih begitu?  Harusnya dia senang aku telah berhasil membuat putranya tertidur lagi.

“Mama…” panggilnya, lembut sekali.

“Ya, Pa?  Mau dibikinin kopi?”  tanyaku, ia mengangguk lalu berdiri dan memelukku.  Erat sekali tapi tidak menyakiti.

Ketika aku kembali ke dalam kamar sembari membawa secangkir kopi, aku tak mendapati bayiku tidur di ranjang, tak ada di semua sudut kamar.  “Papa, bayi kita di mana?”  dia tak menjawab.  Aku menjadi panik.

“Papa!!”

“Sudahlah, Ma, sudah!  Tak ada bayi di sini,”

“Bohong, kamu kemanakan bayiku?”

“Sudahlah, Ma, jangan seperti itu lagi,” katanya, kembali memelukku, aku tak mengerti maksudnya.

“Obatnya diminum dulu, ya!”

“Aku tak sakit, tak perlu minum obat.  Katakan di mana bayiku?”

“Minum obatnya, Ma, biar kamu ingat, jika Tuhan telah mengambilnya lagi setelah lima menit kamu lahirkan,”

“Pembohong! Aku mau bayiku!”

Tagged: , , , ,

4 thoughts on “Bayiku

  1. Heni Hendayaningsih 20 December 2012 at 11:32 AM Reply

    Kehilangan anak…??? pyuuhhh amat sangat menyakitkan… Butuh dukungan dari orang-orang terdekat untuk menyembuhkan lukanya…

  2. HM Zwan 18 December 2012 at 10:10 AM Reply

    waddueh,ternyata…

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: