#postcardfiction : Surat Rindu

Suamiku,

Suratmu sudah kuterima sejak tiga senja lalu, tapi aku hanya membiarkannya tergeletak di meja beberapa lama. Melihat ujung sampulnya saja, dadaku berdebaran. Aku sebenarnya sudah tak mampu lagi menahan letupan inginku untuk menelusuri kata yang kamu tuliskan.

Tapi…

Aku butuh ruang. Butuh waktu. Butuh tempat dan keberanian untuk menyatu denganmu. Menyatu dalam aksara yang kamu ramu.

Belum sebaris kata yang kutelanjangi, mataku sudah berembun, buram. Terbayang bagaimana perasaanmu saat kau tulis surat ini untukku. Ramuan kata sederhana yang mengandung semesta rasa. Ya, rasa rindumu yang mengangkasa lalu kamu berkeras menyederhanakannya dalam tiga kata. Aku rindu padamu.

Titik-titik embun di mataku meleleh tanpa bisa kutunda, haru.

Kau tahu, andai kedua tanganku menjelma sayap, sekarang juga aku akan melesat pulang, kembali padamu. Mendekapmu hangat, menghempaskan rindu yang membuih lautan. Menggenggam jemarimu erat, menyingkirkan rindu yang menyesaki dadamu, dadaku.

Tapi bagaimana lagi, jarak dan waktu tak acuh akan rasa ini. Aku tak mampu lakukan apa-apa selain mengiba. Ya, mengiba pada manik matamu di ujung langit sana, Sayang, tunggu aku pulang.

Seperti halnya denganmu, aku pun rindu.  Saat malam, gelap dan dingin seakan berkolaborasi mengusik kantuk. Mengganjal kelopak mata yang ingin mengatup dengan bayangan wajahmu. Saat kau tertawa, tersenyum atau nakal merajuk merayu. Aku gemas setengah mati, rasanya ingin mendekapmu, erat. Tapi tak bisa. Kau jauh. Aku  jauh. Kita jauh.

Percayalah, aku pasti pulang. Bahkan, jika aku mampu melipat waktu, tentu sudah kulakukan. Agar aku bisa lekas kembali menatapmu tanpa menanti jeda purnama. Lalu kubenamkan aku dalam lenganmu, sempurna kembali menjadi sisihanmu.

Saat itu, kupastikan semesta pun akan ikut berpesta dalam perayaan pertemuan kita.  Kini, hanya satu hal yang kuharapkan, bahwa kau akan tetap mencintaiku, bagaimana pun keadaanku.

Dari Negeri Seberang
Istrimu, Mara

*

“Maraa! Maraa! Buka pintunya!” 

Ya Tuhan, apalagi yang diinginkan majikanku?  Tak cukupkah telah mengoyak kehormatanku di ranjang kamarnya?

Tagged: , , , , , , ,

14 thoughts on “#postcardfiction : Surat Rindu

  1. ajenn08 21 December 2012 at 7:23 PM Reply

    Wow Kereenn🙂 *sainganberatnih kayaknya😀

    • fawaizzah 25 December 2012 at 8:02 PM Reply

      makasih, Mbaa…
      berat? berapa kilo? hehehe

  2. Anita Anoraga 8 December 2012 at 1:08 PM Reply

    Wow..puitis juga TKW nya mbak. Keren!

    • fawaizzah 8 December 2012 at 1:19 PM Reply

      Hehehe makasih, Mbak
      🙂

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: