Sisa Perjalanan: Menuju Pulang

Gambar

Selalu Ceria @dwikis

Cerita ini masih tentang sisa perjalanan dari Jakarta kemarin.

Pagi itu, 18 November 2012, sisa-sisa pesta semalam masih kental terasa.  Kehangatan bertemu dengan kawan-kawan lama, yang bahkan beberapa diantaranya sudah kuanggap lebih dari sekedar teman, rasanya masih melekat dalam ingatan.

Tak sekali dua kali saya menutup mulut, melongo, lalu melonjak-lonjak girang saat menyadari siapa orang yang tengah menjabat tangan bahkan memeluk saya.  Girang bukan main.  Bertemu kawan-kawan yang biasanya hanya disapa di dunia maya rasanya seperti bertemu dengan kawan lama yang sudah lama tak jumpa.  Benar-benar cetaarrr kalau kata Syahrini.

“Mau sarapan apa?” tanya seorang kawan yang istananya kami acak-acak sedemikian rupa.

“Apa aja, yang gak ada di Jogja,” jawab saya asal.

Tak seberapa lama, ia membawakan kami kopi panas dan beberapa bungkus nasi.  Nasi udukkah? Entahlah.  Yang jelas, saya tak mampu menghabiskan jatah sarapanku sendirian.

Setelah mandi dan packing, hujan tiba-tiba saja turun, gerimis tipis yang kemudian berubah deras begitu kami melangkah keluar gerbang.

“Naik angkot ke stasiun, lalu naik KRL ekonomi tujuan Stasiun Kota,” pesan kawan.

Berdelapan kami menyesaki angkot berwarna merah, turun tepat di depan Stasiun Pasar Minggu Baru.  Hujan semakin deras saja.  Salah satu dari kami memesan tiket dan alangkah kagetnya kami saat mengetahui jika harga tiketnya hanya Rp. 1.000,-/orang.  Wow!

Kami menunggu kereta datang di peron.  Angin yang tiba-tiba kencang membuat hujan terasa sedikit mengerikan.   Untungnya, angin kencang itu tidak bertahan lama dan disusul datangnya KRL yang kami tunggu.

Gambar

St. Pasar Minggu Baru

Senang sekaligus speechless. Senang karena yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga, tapi juga speechless melihat penumpang di dalam setiap gerbong.  Lagi-lagi, wow!  Yang terpikir dalam otak saya adalah bagaimana kami masuk? Kereta sudah penuh.  Tapi orang-orang yang menunggu kereta yang sama dengan kami segera merangsek ke dalam gerbong.  Mungkin karena panik, mungkin juga karena buru-buru, kami terpisah menjadi dua rombongan.  Bertiga dan berlima.

Sebenarnya takut, karena saya berdiri tepat di pintu.  Minim pegangan, hingga salah satu kawan saya memegangi lengan dan menarik saya sedikit masuk.  Susah payah akhirnya saya bisa merangsek masuk.

“Ini juga, tasnya gede amet, ngribet-ngribetin!” ujar salah seorang penumpang, laki-laki berbadan besar mungkin berumur belasan.

Menyadari yang dimaksud adalah saya, saya segera menengok ke arah suara, lalu melemparkan senyum sambil berkata “maaf”.  Kereta berhenti di stasiun berikutnya, beberapa orang turun, tapi beberapa orang naik.  Kereta masih sama sesaknya.  Untuk menggerakkan kepala saja rasanya butuh perjuangan.

Hingga seorang bapak-bapak berjualan salak pondoh lewat mendorong kereta dorong sambil terus berbicara dengan logat Betawi yang kental.

“Siape suruh loe pade desek-desekan di mari.  Tengah noh, masih kosong! Minggir-minggir!” katanya, sambil mendorong dagangannya.

“Bentar napa, kejepit nih!” teriak salah seorang penumpang.

“Bodo amet, siape suruh loe berdiri di situ,” katanya santai, saya yang mendengar itu menahan tawa.

Entah bagaimana mulanya, tiba-tiba saya sudah berdiri di ambang pintu yang berseberangan dengan pintu masuk awal saya.  Mungkin terbawa gelombang orang turun dan naik.  Menyadari itu, saya merangsek ke tengah.  Salah satu kawan saya yang berdiri di dekat jendela segera memangil saya.

“Sini, di sini kosong!” katanya.

Rupanya, benar kata penjual salak pondoh tadi, di tengah yang sedikit jauh dari pintu justru kosong penumpang.  Tidak benar-benar kosong, tapi setidaknya bisa untuk bernafas lega.  Toh, kami turun di stasiun terakhir.

Kalian hati-hati, handphone Mak’e tadi dicopet, tapi sudah bisa balik lagi.  Begitu SMS yang terbaca, seketika saya berikan pesan itu ke kedua kawan saya yang segerbong.  Segera kami mengamankan barang bawaan kami, mendekapnya erat-erat.

Hujan masih saja deras mengguyur, bahkan di luar kereta terdapat pemandangan beberapa daerah yang mulai tergenang air.  Banjir.  Di daerah dekat Stasiun Kota, genangan air terlihat di banyak tempat dengan ketinggian yang rumayan.

Gambar

Hujan Mengguyur Kota Jakarta

KRL yang kami tumpangi tiba di Stasiun Kota 15 menit sebelum kedatangan kereta Gaya Baru yang akan membawa kami pulang ke Jogja.  15 menit!! Ah, tapi syukurlah, kami tak sampai ketinggalan kereta karena tiket sudah kami pesan jauh-jauh hari.

Gambar

Stasiun Jakarta Kota

Kami kembali terpisah menjadi dua rombongan, di gerbong 6 dan di gerbong 4. Tak seberapa lama kereta pun melaju menerobos hujan deras yang mengguyur kota Jakarta.  Kami pulaaaang!!  Keceriaan yang tersusun di kota ini tak akan saya lupakan.

Gerbong masih lengang saat meninggalkan Stasiun Kota, tapi seiring lajunya, seiring banyak pemberhentian yang dilewatinya, kursi-kursi dalam ular besi ini pun penuh juga.  Sepasang perempuan dan pria berumur kira-kira 60an duduk di depan kami.  Pulang ke Surabaya, katanya.

Dalam perjalanan pulang ini, saya merasa banyak tidurnya, padahal ada (ehem) dua mas-mas cakep di seberang kursi kami yang sesekali melirik. Entah yang dirilik adalah kami ataukah setoples makanan yang kami taruh di dekat jendela. Haha.

Gambar

Sebelum Kereta Melaju

Capek tidur, saya memutuskan untuk berjalan-jalan di kereta.  Gerbong 6 saya jadikan tujuan.  Setelah cukup menengok mereka, saya memutuskan untuk kembali ke tempat semula.  Di lorong kereta, saya bertemu dengan penjual minuman, caranya menawarkan dangangannya yang asyik, membuat saya berjalan pelan-pelan di belakangnya.

“Air…  air… air minum, air laut, ait terjun, air mata! Air… air…” katanya sambil mengacung-acungkan botol minuman ke penumpang.  Saya kontan saja tertawa melihatnya.

Dia yang menyadari sedang ditertawakan, segera membalik badan dan berkata,”Kenapa mbak, ketawa-ketawa?” sambil meringis.

“Enggak kok!” jawab saya sambil masih tertawa.  Ngeles yang gagal.  Hahaha.  Lalu saya memutuskan untuk berjalan mendahuluinya, sekali lagi masih sambil tertawa.

Tiba-tiba saya merasa ada yang salah.  Ya, di mana kawan-kawan segerbong saya?  Di mana kursi dan barang-barang saya?  Saya sudah berdiri di depan pintu gerbong 1 dan merasa tak melewati mereka.  Mulailah clingak-clinguk.  Lalu mas-mas yang jual air minum tadi menepuk pundak saya,”Cari apa?”

“Temen-temenku ilang,”

“Mereka di gerbong mana?”

“Empat!”

“Gerbong 4 di sana, di sini gerbong 2, situ gerbong 1!”

Sadar sedang tersasar, saya nyengir saja. Lalu penjual air tadi menambahkan,”Tungguin sini saja, nanti tak anterin,” #eaaa

Dalam perjalanan menelusuri gerbong 2 dan 3 si penjual minum tadi tak henti-hentinya menertawakan saya.  Lebih-lebih saat saya sudah menemukan 2 kawan saya.

“Dia tadi nyasar sampe gerbong 2, hahahaha…” katanya memberi laporan pada kawan-kawan saya, dan saya yakin, separuh penumpang di gerbong 4 pasti dengar.  Siyal!

Kereta mendarat dengan selamat di St. Lempuyangan Yogyakarta pukul 9 malam.  Setelah makan dan gojek kere di angkringan, kami pun berpisah.  Menuju istana masing-masing.  Saya? Menginap di apartemen Mba Rina.

“Aku gak bisa nganterin, Zah,” katanya, keesokan paginya.

“Iya, aku naik bis aja.  Ke Stasiun kan deket,”

“Ho oh, nanti dari warung penyetan, kamu belok kiri, terus nyebrang jalan dan naik bis jalur 2.  Bilang ke stasiun.  Tapi bisnya tidak berhenti di depan stasiun pas, kamu mesti jalan lagi sebentar,” tambahnya lagi.

“Siyap!” kataku menyimpan pesannya baik-baik.

Setelah menyeberang jalan, bis jalur 2 pun datang.  Setelah memastikan apakah bisnya melewati Lempuyangan, saya langsung melompat masuk.  Tak banyak penumpang pagi itu, maka bis pun berjalan lambat.  Saya tak begitu khawatir karena masih punya banyak waktu.

Bis berjalan, bis berhenti, penumpang naik, bis berhenti, penumpang turun.  Sampai pada akhirnya saya membaca plang jalan yang terbaca Jl. Parangtritis.  Tunggu! JALAN PARANGTRITIS?!  Saya mulai resah, lalu terjadilah percakapan singkat saya dengan pak sopir.

“Stasiun Lempuyangan belum kelewatan kan, Pak?”

“Belum, habis ini,” dijawab singkat.

Bis kembali berjalan dengan ritmenya, saya kembali membaca spanduk di pinggir jalan. Bantul. Apaaa? BANTUL?!

“Pak beneran, ya, Stasiun Lempuyangan belum terlewat?”

“Mbaknya tadi naik dari mana?”

“UGM,”

“Lhaaah, yowis jauh, Mba!  Tadi gak bilang mau turun stasiun.  Sudah ikut ini saja, bisnya nanti putar balik, tapi masuk terminal dulu.”

“……….” speechless.  Keretaku, 45 menit lagi!

“Lebih cepatnya ikut ini atau oper bis, Pak?” saya.

“Oper juga bisa, Mba, naik bis jalur 2 juga, ya. Bilang sama kernet atau sopirnya turun stasiun,” katanya, nampak prihatin.  Entah, apanya pak presiden pak sopir ini.

Saya turun, karena sibuk mengesemes teman, bilang kalau kebabalsan, bis jalur 2 pun kelewat.  Menghela napas.  Saya berjalan ke arah lampu merah di perempatan, lalu duduk di samping bapak-bapak yang bekerja mencarikan bis untuk penumpang.

Nderek lenggah, Pak”

“Monggo.  Mau kemana, Mbak?”

“Stasiun Lempuyangan, Pak,”

“Oh, naik bis jalur 2,”

“Saya ini di mana, Pak?”

“Perempatan Parangtritis.”

Appaaaaah??! #lebay

Bis jalur 2 akhirnya lewat juga, saya masuk, lalu bilang ke kernet agar menurunkan saya di St. Lempuyangan.  Lalu bilang ke sopirnya juga, minta diturunkan di St. Lempuyangan.

“Nggih, Mba, masih jauh,” kata kernetnya setelah saya berpesan untuk yang ketiga kalinya.

Dan saya berkali-kali lap jidat setelah menyadari betapa saya kebablasan teramat jauh.  JAUH!!

“Mba, Lempuyangan, nanti jalan ke sana ya!” kata kernetnya sambil menunjuk arah, arah, arah? Ah entahlah, ke arah kanan dari bis tadi.

Saya turun dan berjalan, tapi lagi-lagi saya menemukan pertigaan.  Bingung.  Lurus apa belok?  Saya memutuskan berhenti, jilalah, ada orang tak jauh dari tempatku.

“Kalau mau ke stasiun ke sana apa ke sana, Mba?”

“………” diam tak menjawab.

“Ke sana ya? Apa ke sana?” tanyaku lagi.

“………..” masih diam sambil menatap dalam-dalam.

Setelah saya perhatikan dengan seksama, ternyata, embaknya tadi (mungkin) orang gila.  Terlihat dari pakaian dan rambutnya yang acak-acakan.  Jadi samar kan siapa yang gila sebenarnya?  DUDUL!!  Lalu saya memilih melipir, masih deg-degan, takut di kejar.

Lalu ada bapak-bapak yang nyemperin saya pakai sepeda motor.

“Kemana Mba?”

“Stasiun mana ya, Pak?  Ke sana apa ke sana?” keukeuh tanya.

“Itu stasiun!”  ternyata, saya sedang berada di belakang stasiun, sodara-sodara.

“………….” Menghela napas.

“Ayo mbak, saya antarkan sampai depan stasiun pas, 3 ribu saja!” ternyata, bapaknya tukang ojek.  Tanpa menunggu lama, saya langsung iya saja.  Dari pada ke sasar lagi, kan?

Begitu sampai di stasiun, saya langsung menuju loket.

“Madiun jaya!”

“Baru saja berangkat 2 menit lalu,” kata petugasnya.  Saya? Lemas.

“Yang berikutnya jam berapa?” bertanya sambil ditegar-tegarin.

“Jam 3.  Ke Solo kan?”

“Madiun,”

“Ke Madiun paling cepat jam setengah tujuh”

Lihat jam di handphone.  10.35 am. JENGJENG!!

Saya langsung duduk saja di depan stasiun situ.  Tiba-tiba, kanjengmami kirim SMS,”Nduk, dijemput jam berapa?”  Soalnya, pagi tadi saya sudah kirim SMS bahwasanya saya otw ke stasiun.

Mau saya balas, ketinggalan kereta, kok saya merasa gimana gitu.  Masa tiap di Jogja dan mau pulang selalu ketinggalan kereta?  Mau saya ceritakan duduk perkaranya, ya Allah, malas ngetik SMSnya, pasti panjang banget.  Jadi ya, aku ketik saja, “Tiketnya habis, nunggu kereta berikutnya, sampai stasiun paling jam 10 malam.”

Tak ada kisah yang tak mengandung hikmah.

Maka, kukirimlah SMS pada salah seorang kawan yang sudah cukup lama tak berjumpa.  Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya tiba juga dia di stasiun.  Menemani saya makan (dibayari pisan), mengajak belanja buku di toga mas, lalu mengantarkan saya kembali ke apartemen Mbak Rina.

Coba kalau saya tidak kesasar dan ketinggalan kereta, belum tentu hari itu ketemu, kan Fu? :p  Belum tentu ditraktir sama kamu juga.  Haha.  Belum tentu sekarang saya sudah membaca separuh buku Tere Liye Rembulan Tenggelam di Wajahmu, belum tentu kamu beli buku Ndemin, dan belum tentu lainnya.  Hahaha.  Lain kali, saya yang traktir.  Janji!🙂

Gambar

Akhirnya, duduk nyaman di kereta. Menuju pulang

Dan malam itu, kereta datang tepat waktu.  Saya pulang membawa banyak kisah, keceriaan, dan semangat baru.  Pukul 11 malam lebih sekian, akhirnya, saya sampai di rumah.  Pulang.

“Teko Jakarta jajane apa?”

Nunjuk ransel, isinya baju kotor.

Tagged: , , , , , , ,

31 thoughts on “Sisa Perjalanan: Menuju Pulang

  1. Bernard 15 September 2014 at 10:00 AM Reply

    yang satu tak kantongin di saku ku

  2. agungpoku 23 December 2012 at 1:34 AM Reply

    hihihihi….🙂

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: