Laki-laki Bersepatu Pantofel

Siyal!” umpat lelaki yang tengah berdiri di emperan tokoku.  Suaranya yang keras dan tiba-tiba membuatku seketika menoleh ke arahnya.  Ia memakai sweter warna grey bergaris hitam.  Terlihat sedikit aneh.  Bagaimana tidak, di siang bolong begini ia menggunakan pakaian seperti itu.

Belum lama setelah aku kembali memfokuskan perhatianku pada nominal-nominal angka di buku kas, terdengar lagi dia mengumpat.

Siyal! Sudah jam berapa ini?” katanya sambil melihat jam di tangan kirinya.  Kutebak ia tengah menunggu sesuatu.  Karena penasaran, kuamati saja setiap gerakkannya.  Dari berdiri, duduk di bangku, lalu berjalan dan berhenti di tepi jalan raya sambil menengok kanan dan kiri.  Dari tampangnya, dia terlihat sangat kesal bercampur gelisah.

Dia kembali berjalan menuju emper tokoku, untuk berteduh kukira.  Lagipula siapa yang betah berdiri di tepi aspal dengan cuaca sepanas ini.  Dia berjalan sambil menendang-nendang kerikil dengan sepatu pantofelnya.  Dan sepatu yang tadinya hitam mengilap itu pun kini tertutup debu-debu.

Sibuk memperhatikan sepatunya, aku tak menyadari jika ia ternyata sudah berdiri beberapa jangkah dari mejaku.  Tatapan kami beradu, karena sudah kepalang basah maka aku tersenyum saja padanya.

Dan sialnya, dia tak membalas senyumku.  Bahkan tatapan matanya membuatku khawatir, takut.  Jangan-jangan dia akan melakukan hal yang tidak-tidak padaku.  Mana toko sedang sepi begini.

“Ehmm, ada yang bisa aku bantu, Mas?” tanyaku mencoba untuk berbasa-basi.  Tapi lelaki ini tak juga mau membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaanku.  Aku mencoba untuk tidak berburuk sangka kali ini, mungkin laki-laki ini memang tengah sangat kesal hingga aku, satu-satunya orang yang berada tak jauh darinya menjadi terkena imbasnya.

Dia berjalan mendekat,  semakin dekat semakin dekat.  Jantungku berdebaran, sulit rasanya untuk tidak berprasangka buruk jika melihat tatapannya begitu.

Lekas aku mengunci laci uangku, lalu menyembunyikan kuncinya di dalam baju.  Iya, di dalam baju!  Tinggal dua langkah lagi lelaki itu sudah sampai ujung mejaku, tubuhku gemetaran rasanya.  Aku sudah hampir berteriak sekencang-kencangnya saat langkahnya membelok ke sisi kiri meja.

Namun, aku mengurungkan teriakan itu.  Dia membuka lemari es, yang memang berada di sebelah kiri mejaku.  Ia mengambil sebotol minuman dingin dan segera meminumnya secepat yang ia bisa setelah tutup botol terbuka.

Fiuuuh…..

Aku membuang nafas lega, meskipun, ya, masih menyisakan sikap waspada, tentu saja.  Tapi di luar dugaanku, lelaki bersepatu pantofel itu langsung berlari keluar setelah menghabiskan separuh botol isi minuman dingin itu.

Siyal, dia tak membayar!” desisku.

Sedang dari luar, terdengar umpatan yang lebih keras dari umpatan-umpatan yang kudengar sedari tadi.

Siyaaaal!!!” umpatnya, keras sekali.

Aku buru-buru mencari sumber suara, ingin tahu apa yang terjadi.  Tapi aku segera memalingkan muka begitu dia kembali berlari menuju meja.  Dia merogoh saku celana lalu memberikan selembar uang sepuluh ribuan yang kusutnya bukan main.

Saat dia akan membalikkan badan, aku sedikit berteriak, “Kembaliannya!” kataku.

Tanpa menoleh dan melangkah cepat-cepat, dia menjawab, “Ambil saja, aku harus mengejar angkotnya!”

Tagged: ,

3 thoughts on “Laki-laki Bersepatu Pantofel

  1. Eva 6 November 2012 at 12:25 PM Reply

    Terima kasih atas konten dan info yg menarik dan menginspirasi….thk u

  2. Yoga PS 1 November 2012 at 3:19 PM Reply

    wow tante izah punya toko sepatu sekaranggg

    • fawaizzah 1 November 2012 at 3:20 PM Reply

      aaminn… :p
      Apa kabar mas yoga?

      kayaknya lamaaaaa banget gak denger kabarmu, sambangin balik, ah.

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: