Hujan di Kaca Jendela

Hujan di Kaca Jendela

Sudah lebih dari seminggu yang lalu saat kedatanganmu untuk yang pertama kali. Kau tentu tahu, aku senang bukan main. Bukankah aku telah menunggu entah sudah berapa puluh minggu?

Saat itu, matahari masih enggan tenggalam. Tapi mentahmu menelannya. Hingga gelap datang tiba-tiba. Aku yakin, yakin sekali kamu akan datang. Aromamu sudah mampu kucium sudah sejak dari kejauhan.

Rasanya gelisah, sebentar-sebentar aku keluar memandang cakrawala. Sebentar-sebentar aku menghirup udara dalam-dalam. Seakan dengan begitu aku akan tahu dari arah mana kamu akan datang. Lalu lekas-lekas membentangkan kedua lengan, memelukmu seakan kamu adalah kawan lama yang akan datang bertandang.

Angin semakin girang menerbangkan daun-daun menguning yang tak lagi dibutuhkan reranting. Debu-debu beterbangan semakin seru.

Dan kupikir, mereka, debu-debu itu tengah mencari tempat persembunyian. Bersembunyi darimu, tentu saja. Bukankah ia akan sirna jika kau datang tiba-tiba. Angin mana mau membawanya terbang jika mereka sudah menggumpal?

Aku masih berdiri di beranda, benar-benar gelisah. Atau lebih tepatnya takut, jangan-jangan kamu akan seperti kemarin atau kemarinnya lagi. Hanya membawa harapan tanpa adanya kepastian.

Tapi tak seberapa lama, aku mendengar derap rintikmu. Cepat dan keras!

Awalnya, kau basahi jalanan beraspal lalu tanah yang acap kali menghasilkan debu-debu yang tak perlu. Rumput-rumput yang nyaris mati, pohon-pohon lalu genting.

Aku tertegun, lama sekali. Semestinya, aku segera menyobek kertas lalu mengambil pena. Menggenapi janjiku, mencipta puisi menakjubkan dari air yang kau sisakan.

Tapi, kamu luruh tanpa sisa.

Hingga pada akhirnya, aku harus kembali menunggu kedatanganmu yang kedua. Yang ternyata cukup lama jedanya. Tak apa, toh, pada suatu waktu nyaris senja, kamu datang juga.

Dan di kaca jendela, aku menangkapmu begitu sempurna.

Tagged: , ,

8 thoughts on “Hujan di Kaca Jendela

  1. Latif Nur Janah 17 October 2012 at 7:11 PM Reply

    kerennnn selalu… foto sekaligus puisinya

    • fawaizzah 18 October 2012 at 10:38 AM Reply

      halah, terima kasih mba Latif🙂

  2. annisarangkuti 17 October 2012 at 7:00 PM Reply

    wah..di sini malah sering mendung dan hujan..sampai2 matahari tak tampak..takut kena airnya yang asam..🙂

    • fawaizzah 18 October 2012 at 10:39 AM Reply

      Di sini, hujan datang masih suka malu-malu, Kak 😀

  3. Ayz 17 October 2012 at 5:26 PM Reply

    wiiih… indah..

  4. nathalia 17 October 2012 at 4:42 PM Reply

    aih, cantik🙂

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: