Rumah Kosong

Kemari dan masuklah, pintu itu tak lagi terkunci.  Sudah kubuang anak kuncinya jauh ke seberang pagar sana.  Lalu rumput-rumput jepang itu menyembunyikannya.  Entah bagaimana mereka melakukannya, tapi aku tak peduli dan tak berniat mengambilnya lagi.

Berhari sudah aku mengelap setiap inci kaca-kaca jendela, meja dan kursi kurapikan serta.  Sebutir debu pun tak akan kau temukan di sini.  Jelajahi saja dengan ujung jemari kakimu.  Bersih, bukan?  Kau bahkan bisa melihat jelas bayanganmu di sana.

Kemari dan biar kuantar kau ke semua sudut ruang. 

Di sini, ya di dalam ruang ini, biasanya aku menghabiskan petang.  Duduk di kursi jati berpelitur warna handicraft, menghadap ke luar jendela, menatap pelataran.  Saat matahari merunduk-runduk gelisah, rona jingga tumpah ruah di atas rerumputan itu.  Pada awal bulan, setelah matahari hilang, akan kamu temukan bulan sabit di balik rerantingan.  Bahkan ketika malam semakin pekat, gemintang seakan jatuh dalam pangkuan.

Jangan, jangan duduk dulu.  Masih ada ruang lain yang ingin kuperlihatkan.

Kau suka hujan? Aku menyukainya.  Betapa hujan begitu dekat dengan kesepian dan kenangan.  Tentu setiap orang punya kenangan, bukan?  Dan kesepian adalah karibnya.  Hari ini pun akan menjadi bagian kenangan jika esok sudah datang.

Baiklah, biar kuperlihatkan di mana aku biasa menangkap hujan.

Jendela ini kupilih tanpa kaca, tirainya kubuat dari jalinan bambu.  Saat hujan tiba, kugulung ia.  Membiarkan aroma tanah basah berdesakan masuk.  Lalu yang kulakukan adalah sibuk memasukkannya dalam kantung itu.  Iya, yang bergantung di daun pintu itu.  Saat semua kantung terisi penuh, kupenuhi rongga dadaku dengannya.

Kau tahu apa yang kurasakan saat menghirupnya?  Ketenangan dan rasa nyaman.  Mungkin sama seperti yang dirasakan para pecandu kopi saat menghirup liukan aroma kopi yang baru di seduh dengan air yang mendidih.

Setelahnya, kubiarkan embun-embun hujan beterbangan lembut dan membasahi wajah.  Saat itulah, hujan ternikmati dengan sempurna.

Kemarilah dan biar kutunjukkan satu ruang lain.

Awalnya, aku berencana mengunci ruang ini rapat-rapat.  Lalu tak akan kubiarkan seorang pun memasukinya.  Begitupun denganku sendiri.  Ruang ini adalah ruang ternyaman di rumah ini.  Tempat di mana aku menaruh seluruh isi dunia.  Remah-remah cerita berserak tak bertata.  Sengaja, agar aku selalu menemukan potongan cerita di setiap inci dalam dindingnya, lantainya.  Di sini, adalah surga untukku.  Dulu.

Lalu aku tertikam dalam pulas tidur, lukanya cukup dalam.  Kau tahu, kupikir aku sudah mati saat itu.  Atau, aku memang sudah mati?  Dan satu-satunya cara menghidupkanku lagi adalah membawaku pergi dari ruang ini.  Dari rumah ini.  Dan rumah ini menjadi kosong tak berpenghuni.

Aku berteriak girang saat mengira diri sudah pulih.  Kuyakinkan diri untuk mendatangi rumah ini.  Tapi aku kembali rubuh saat baru berada di beranda.  Dan itu terjadi berkali-kali.

Ah, tapi sekarang kau lihat, bukan?  Aku sudah benar-benar sembuh.  Aku tidak bohong.  Jika pun masih saja keringat dingin mengalir dan tubuhku gemetar saat memasukinya, itu karena sudah habis batas mampuku.

Esok, jika saatmu tiba, kamulah yang akan mengemasi remah-remah di ruang ini.   Membersihkannya hingga tak bersisa.  Mengecat ulang dindingnya, mengubah bentuk jendela dan mengganti gordennya, bahkan menghapus semua potongan cerita yang ada.

Esok, jika saatmu tiba, datanglah sembari membawa anak kunci yang disembunyikan oleh rumput-rumput jepang di seberang pagar sana.  Masuklah, lalu kunci rapat-rapat pintu itu dari dalam.

Karena saat itulah, aku akan memulai merancang surga.  Denganmu, tentu saja.

sumber gambar: http://muktiamini.blogspot.com/2012/03/memudahkan-orang-lain-tak-mudah-tapi.html

Tagged: , , ,

10 thoughts on “Rumah Kosong

  1. bundafinah 10 January 2014 at 6:52 PM Reply

    aih..aih…..izahh….

  2. tien 10 January 2014 at 4:45 PM Reply

    keyeennn

  3. nathalia 18 October 2012 at 10:54 AM Reply

    love it

  4. aris magetan 22 September 2012 at 3:28 PM Reply

    jika sudah kembali ke rumah itu berikut juru kuncinya, aku mau bertamu…😀

  5. HM Zwan 16 September 2012 at 7:57 AM Reply

    zah,suka banget dengan kata setiap kata yang terangkum apik diatas…..

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: