Sudah Purna

Kenangan itu rasanya belum usang, saat kita bergandengan tangan melewati jembatan bambu yang memotong sungai menuju persawahan.  Saat mata kaki kita tenggelam dalam lumpur, lalu kita berkubang di dalamnya.  Seperti kerbau pembajak sawah. Ya, persis!

Kenangan itu rasanya belum usang, saat malam kita berjingkat-jingkat keluar dengan berkalung sarung.  Sarungku warna ungu, dan milikmu hijau.  Kita berdandan seperti maling ayam, lalu pergi ke lapangan bermain petak umpet.  Aku bersembunyi, dan kau yang mencari.

Kenangan itu rasanya belum usang, saat aku menangisi bekal makanmu yang berhambur di jalan. Kau bilang,”Cengeng! Yang jatuh kan bekalku, kenapa kamu yang nangis?”

Kita tumbuh bersama dalam satu rumah, dalam tatanan yang sama. Meski dari rahim yang berbeda.  Orang bilang, kita berdua tak kan terpisahkan.  Mungkin karena sedari bayi, kita sering bertukar air susu.  Dan kau ingat, mulai dari balita sampai sekolah menengah pertama, kita memang selalu bersama.  Membuat masalah pun dalam menyelesaikannya.

Berpisah selama tiga tahun membuatku sebentar-sebentar merindukanmu.  Aku memilih ke sekolah menengah atas negeri dan kau berkeras nyantri.  Semakin waktu, tubuhmu makin menjulang saja.  Sedang aku, tak pernah berubah.  Kecil.  Lihat, kini tinggiku tak lebih dari ketiakmu.  Ah, aku iri.

Orang bilang, kita sudah dewasa.  Tapi nyatanya, aku tak menganggapmu demikian. Aku selalu tak puas dengan kinerjamu. Tak senang dengan caramu bicara. Tak senang dengan apapun yang kamu lakukan. Kekanakan. Sedang kau menuduhku terlalu banyak bicara, banyak aturan dan kemauan. Lalu, untuk kedua kalinya, kamu memilih pergi. Dan aku tak menangisi.

Kemarin, seperti tahun sebelumnya, kau pulang tanpa pemberitahuan. Aku tak kaget. Mungkin sudah terbiasa. Tapi, dadaku terasa tersengat listrik ketika mengetahui siapa yang kau bawa serta.

Bahkan, mengusap ingus pun kau masih butuh bantuan.  Aku marah.  Aku cemburu.  Dan aku tak suka tapi aku diam saja. Aku mendiamkanmu.

Lalu aku menangis tersedu saat ceritamu menembus telingaku melalui bibir orang lain.

Dulu, aku adalah orang pertama yang mendengar cerita-ceritamu. Orang pertama yang kau tanyai pendapatnya. Tapi bukan itu yang membuatku tersedu, melainkan masalah yang menimpamu.

Aku tersedu, saat mengingat kepulanganmu beberapa waktu lalu. Kau membuang tubuhmu di kursi ruang tamu, tergolek menunggu sapa, tapi aku tak acuhkanmu.

Aku tersedu, saat membayangkan betapa sesak dadamu, menyimpan kerikil-kerikil yang kemudian membatu karena tak termuntahkan.

Sepagian tadi kita bersama, duduk dalam lingkar keluarga. Semua mencemaskanmu, terlebih aku. Tapi, kamu tak kunjung bicara. Aku berceletuk,”Potong rambutmu, macam barongan saja!” Semua tertawa, dan kau juga. Maka kupikir, perang dingin antara kita sudah purna.

Permasalahan datang untuk diselesaikan, ya, untuk diselesaikan. Tapi ketika dadamu tak lagi mampu menyimpan semuanya, bagikan. Mungkin kami, mungkin aku, tak banyak berbuat hal. Tapi kami, tapi aku, masih punya kelapangan dada. Bersedia disandari saat kau kelelahan.

 

 

 

Tagged:

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: