Sepanjang Juli

Trotoar

Siapa yang mengira, jika Juli tahun ini akan sedemikian meriahnya.  Berpelangi, banyak warnanya.  Macamnya.  Duka cerianya.

Dimulai dengan sebuah pertemuan mendadak dengan seorang kawan yang memanggil saya Ucu-ucu Tuk.  Katanya, artinya cucu kesayangan.  Saya tak banyak mengenalnya, yang kutahu beliau adalah seorang yang selalu memberikan komentar-komentar hangat di banyak tulisan-tulisanku.  Pemberi semangat, pendukung hebat, dan selalu mengakhiri wejangan-wejangan panjangnya dengan kalimat ‘semoga sukses, salam hangat’.

Saya memanggilnya Eyang Wislan.  Pertemanan kami awalnya kukira hanya sebatas di kolom komentar di bawah tulisan.  Tapi ternyata tidak.  Akhir Juni, beliau menelepon saya, memberitahukan jika sedang berada di kota Solo.  Kota yang cukup dekat dengan tempat tinggalku.  Dan kesepakatan pun terjadi, esoknya, saya ditunggu di Stasiun Balapan.

Seorang petualang, itu kesanku begitu bertemu dan sedikit berbincang dengannya.  Hanya ditemani keponakan perempuannya, beliau berkeliling banyak tempat di banyak kota.  Mencatat banyak data, lalu menuliskannya.  Bukan tentang catatan perjalanan, melainkan tulisan fiksi dengan data-data akurat lalu dijadikan novel.  Bukankah ini hebat?

Banyak hal yang kami perbincangkan, wejangan-wejangan selalu terselip di setiap cerita yang beliau tuturkan.  Dan entah bagaimana mulanya, beliau banyak mengetahui kisah hidupku.  Katanya, “Kamu menuliskan banyak hal di blogmu, hahaha…”  katanya sambil terkekeh, membuat rambut gondrongnya yang sudah berwarna perak itu terayun-ayun.  Dan membuat wajahku seketika memerah karena malu.

Pertemuan yang hebat dengan seorang yang hebat pula.

Aku kembali terdampar di Jogja malam setelah pertemuan itu.  Ya, kereta yang harusnya membawaku pulang, rusak.  Beruntunglah, ada banyak kawan yang baik di sekelilingku.  Sebuah pesan pendek kuluncurkan untuk Ika Maria, memintanya untuk menjemputku di Lempuyangan.

Setengah sembilan malam, kereta Prameks sampai di Jogja.  Ika sudah duduk ancung-ancung kaki di depan stasiun. “Dari Gunung Kidul, langsung meluncur ke sini,” katanya, yang ternyata seharian tadi plesir dengan Faa.

Setelah berbincang dan menikmati sedikit guyonan, kami meluncur menuju angkringan Faa.  Segelas bajigur di malam yang dingin memang cukup menggiurkan.  Sudah hampir menjelang pukul sebelas malam, saat aku dan Ika memutuskan untuk pulang.  Sampai di kos pun, kami ternyata masih punya segudang cerita untuk dimuntahkan.  Sesekali tertawa hingga kemudian kami terlelap hingga keesokan paginya.

Pagi itu 1 Juli, saat aku meminta Ika mengantarku ke Shooping Center Jogja, bersamaan dengan hari pertamanya masuk kerja.  Setelah mendapatkan beberapa buku, aku menelusuri trotoar menuju Stasiun Tugu.  Melewati Malioboro yang masih cukup lengang.  Sesekali berhenti untuk mengamati yang menarik hati.  Hingga 45 menit kemudian, sampailah saya di stasiun.  Berlanjut memesan tiket dan menunggu di dalam peron.  Ternyata, keretaku baru datang satu jam kemudian.

Hari-hari setelahnya biasanya saja, ah, tidak.  Ada banyak keruwetan pada pekerjaan saya.  Beberapa komputer yang rusak, dokumen-dokumen PNPM yang masih harus direvisi sana-sini.  Pencairan dana yang tersendat karena urusan tanda tangan. Harus wira-wiri ke kantor UPK Kecamatan untuk hal-hal yang menurutku buang-buang waktu tapi harus dikerjakan.  Kemarahan saya pada tim TPK (khususnya ketua) karena sulit ditemui di saat genting.

Tapi, mereka membungkam saya dengan sempurna.  Malam setelah urusan pencairan dana selesai, sebuah kotak hadiah dikirimkan ke rumah. “Selamat ulang tahun, jangan ngambekan lagi, udah gede!”  Haha saya mengancam mengundurkan diri jika selalu saja diminta bekerja sendirian.  Kekanakan, mungkin.  Tapi sungguh, saya capek berurusan dengan birokrasi.

Baiklah, mari kembali membicarakan tentang pertemuan yang lain.

Ini adalah kejutan sekaligus hadiah yang paling menyenangkan di Juli kali ini.  Bagaimana tidak, baru kesepakatan bertemu saja, sudah membuatku tidak bisa tidur dua malam berturut-turut.  Sebenarnya aku malas mau nulis jujur seperti ini, dia akan GR selama berminggu-minggu.  Tapi, biarlah.

Saat itu 15 Juli, badanku yang terasa lemas karena gugup kuajak duduk di kursi tunggu stasiun.  Menunggunya.  Tak seberapa lama dia datang.  Sebelumnya, aku berfikir bahwa dia adalah seorang yang dingin, pendiam, tak banyak bicara, kaku, pemalu, dan menyebalkan. Tapi, tapi, dia tidak.  Dia banyak bertanya, bicara, berkelakar, tersenyum, tertawa dan langsung membuatku nyaman seketika.  Mambuat  gugupku menguap begitu saja.

Dia seorang yang hangat dan menyenangkan!

Ah, masih nyebelin juga sih, tapi dikit.  Hari itu, saya merampas waktunya 10 jam lamanya.  Semoga dia tak mendapat masalah dengan pekerjaannya.  Ngapain aja?  Jalan kaki, naik bis, jalan kaki lagi, naik bis lagi, begitu sampai beberapa kali.  Dan saya sempat tidur selama di bis.  Pulas. Mengertilah, jika diakumulasi, saya hanya tidur sebanyak 8 jam selama 2 hari.  Jadi, ya wajar kan, kalau saya ngantuk.  Bukan ngantuk karena bosan, tapi karena terlalu nyaman. Halah :blushing:

Juga sebuah kado buku yang kutagih paksa.  Dan semoga dia tidak terpaksa memberikannya.  Haha.  Lalu nonton sambil memaksa mata tetap melek.  Ah, pokoknya semuanya menyenangkan.  Tapi ada sedikit adegan ‘mecucu’ karena dia merokok melulu.😐

Saya pulang dengan senyum mengembang dan separuhnya kekhawatiran.  Khawatir tentang rindu yang akan menghebat setelahnya.  Sedangkan dia akan kembali dingin dan menyebalkan seperti sebelumnya. Dan, iya.  Tapi toh, tak akan ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk mematikan rindu jika berjauhan, kan?  Maka kupikir, diam adalah cara paling aman.

21 Juli, awal ramadhan.

Masih sama  seperti ramadhan tahun lalu, sahur dan berbuka bersama kanjengmami, bapak dan thole.  Sembari menikmati sinetron PPT sekaligus menunggu adzan subuh.  Sesekali berbuka bersama kawan di luar. Sholat tarawih berjamaah masih di masjid yang sama, imam yang sama.  Model tadarusan yang juga masih sama, satu malam satu juz, yang semakin berkurang semakin hari.  Lalu ngebut sampai nafas tersengal untuk mengejar ketinggalan.

Oh ya, ada kiriman sepaket buku dari seseorang yang saya hormati, saya sayangi, saya kasihi, halah, terima kasih banyak.  Ada gerombolan bunga mangga yang insya allah musim buah kali ini akan berbuah untuk pertama kali.  Pusi (kucingku) yang ngelahirin 3 cemeng yang lucu-lucu dan gendut-gendut.  Kunamai Lulu – Lala – Lili.  Menambah koleksi mainan saya.

Dan yang terakhir adalah pemberitahuan awal dari 3 karib saya, bahwa, usai lebaran mereka akan menikah di tanggal yang berdekatan. #OkeSip

Baiklah, terima kasih Juli, terima kasih semua yang sudah terlibat.  Semoga masih bisa bertemu lagi dengan Juli tahun depan dengan suasana yang berbeda tapi tetap menyenangkan🙂

Selamat menunaikan ibadah puasa.

/1/

Hei, Juli belum benar-benar berakhir!

Iya, aku tahu.  Aku bisa berubah pikiran jika menunggu empat hari lagi, lalu urung memostingnya.  Hehe.

Tak akan ada kejutan tanpa campur tangan Tuhan dan konspirasi semesta😉

 

 

 

Tagged: , ,

9 thoughts on “Sepanjang Juli

  1. lina sophy 6 August 2012 at 11:54 AM Reply

    cuiiiittttt…cuiiiiiiiiiitttttt :-“

  2. siscaamellya 30 July 2012 at 2:48 PM Reply

    Yang Sepi ini sedang ditemai oleh secangkir Kopi dan Sebatang Rokok.. Namun Ditambah Baca Artikel.. Mancaaapppp..😛

  3. sash 27 July 2012 at 11:52 PM Reply

    uhuk, sepertinya ada yang sedang berbahagia🙂
    ditunggu kabar baiknya nona #eh :p

    • fawaizzah 28 July 2012 at 10:21 AM Reply

      saya juga berharap selalu ada kabar baik, nona🙂
      hihihi

  4. HM Zwan 27 July 2012 at 11:50 AM Reply

    jalan-jalan mulu ni zah…..semoga bukan hanya juli saja yang indah tapi bulan-bulan yang akan datang semoga menjadi keberkahan bagi kita amin….
    happi milad ya zahhh..barakallah😀, hadiah dari zwan..***mmmmmmmmmmmwah tlepoks😳

    • fawaizzah 28 July 2012 at 10:20 AM Reply

      aaminn untuk doanya, makasih ya mba Zwan!

      *siapin pipi*🙂

  5. Triyoga Adi Perdana 27 July 2012 at 10:55 AM Reply

    mantap ini.
    Semoga masih menuai jejak di 4 hari kedepan.😀

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: