Girls Day Out : Ketika Para Perempuan Mencumbui Alam

Kami perempuan, dan selamanya akan tetap menjadi perempuan.  Tapi ketika dunia menuntut kami untuk menjadi lebih tangguh, maka kami harus siap dan mampu. Alam mengajari kami banyak hal.  Keheningan, keceriaan, kesenangan, keberanian dan ketangguhan itu sendiri.

GirlsDayOut – Seruni, Juni 2012

13407669431892641782

Pantai Seruni dari Atas Bukit

Sabtu, pagi sekali aku sudah harus berlari-lari di stasiun.  Di depan loket mesti berteriak memanggil petugas karena tak ada yang jaga.  Kereta yang hendak kutumpangi hampir saja berangkat sedang tiket belum ada di tangan.

Kereta meluncur tepat pukul 6.20.  Perjalanan yang biasa saja sebenarnya,tapi selalu terasa istimewa.  Mungkin karena sudah cukup lama aku tak melakukan perjalanan dengan kereta.  Lebih-lebih ini adalah perjalanan ke Jogja.  Kota di mana selalu kutemukan banyak tawa, teman-teman yang menyenangkan dan suasana yang tak kutemukan di tempat lain.

Seorang kawan (sebut saja Faa) menjemputku di Lempuyangan.  Aku sebenarnya sangat penasaran dengan senja di stasiun ini, sayangnya aku masih cukup pagi saat mendarat di sini.  Setelah sejenak beristirahat di rumah Faa, tepatnya di kamar Faa, (ah, aku dibuat terkagum-kagum dengan kamarnya, sangat berseni menurutku.  Sangat Faa sekali.) Beberapa photo hasil huntingnya, ia cetak ukuran 4R lalu digantung layaknya jemuran di tembok samping tempat tidur (ini sangat menginspirasi).  Buku-buku berada di rak dan beberapa coretannya (gambaran abstrak) terbingkai dengan manis di atas rak buku tadi.  Ada sebuah lukisan wajahnya juga di sana, Faa bilang, itu pemberian temannya.  Teman yang cukup mengistimewakannya, kukira😀.

Seperangkat komputer, jendela kayu bertirai jalinan bambu yang dipilin, beberapa burung kertas yang bergantungan membelah kamar dan tentu saja tempat tidur. Dan aku langsung merasa nyaman.

Eh, ini kenapa jadi ngomongin kamarnya faa?? Ampuni aku faa_afu😛

Lepas pukul 14.00 kami meluncur ke Jakal, tempat dimana kami bersepakat (sebenarnya ini bukan kesepakatan melainkan keputusan sepihak haha) untuk berkumpul kemudian berangkat menuju Gunung Kidul.  Ah ya, apa aku sudah bercerita kali ini kami mau ke mana?  Yup, kami akan kembali susur pantai!!

Canting sudah sering kali melakukan agenda ini, tapi aku baru ikut sekali.  Ya, dua kali ini dengan rute yang sama. Sundak – Seruni.  Setelah mengisi perut dan kenyang kami segera bersiap.  Perjalanan dari Jogja ke Pantai Sundak itu cukup jauh, kurang lebih kami memerlukan waktu 2 jam untuk sampai ke sana dengan mengendarai sepeda motor. Enam orang dengan tiga motor.

Belum sampai di Pantai Sundak, langit sudah menggelap.  Sebenarnya, aku cukup was-was.  Menyusur pantai dari Pantai Sundak ke Seruni itu cukup jauh.  Ombak di laut selatan juga sulit diprediksi.  Perjalanan tahun lalu saja, beberapa kali kami keterjang ombak besar saat pulang, padahal hari belum benar-benar gelap.

Untuk itu, Pak’e Gendut yang menjadi satu-satunya pria dirombongan kali ini memutuskan untuk memulai menyusur dari Pantai Indrayanti.  Aku dibuat terkaget-kaget begitu sampai di pantai ini.  April tahun lalu, pantai ini masih sangat sepi pengunjung.  Tapi kali ini, mobil dan motor berderet-deret memenuhi tempat parkir.  Rumah-rumah makan dibangun.  Dan yang menyedihkan adalah sampah mulai bertebaran😦.

Matahari sudah tenggelam di garis laut barat, langit menggelap menyisakan rona jingga yang menua saat kami menjejakkan kaki di pasir Pantai Indrayanti.  Setelah mengabadikan moment keberangkatan, kami lekas berlari mendekati laut.

1340766832749492385

Sebelum Memulai Perjalanan (Petualangan?)

Syukurlah, semesta merestui perjalanan kami.  Meskipun hari sudah gelap, tapi perjalanan kami cukup lancar. Ditemani 2 buah headlamp dan sebuah senter, kami bergegas berjalan menuju Seruni.  Pantai, dimana kami akan mendirikan tenda dan bermalam nanti.

1340773852442749971

Berjalan dalam gelap

Kami berjalan dengan mulut tak hentinya bicara.  Ah tapi, tertawa lebih mendominasi.  Ada saja yang membuat kami terpingkal.  Dari cerita-cerita, kelakaran, sampai tebak-tebakan.  Meski begitu, beberapa kali kaki kami (tepatnya kakiku :|) terjeblos di sela karang lalu tercebur di air.  Cahaya senter dan bulan sabit tersenyum tak cukup membuat mata kami jeli, apakah yang kami injak adalah karang yang kokoh ataukah rumput yang melambai-lambai.

Tak terasa kami sudah berjalan selama 1,5 jam.  Seruni mengucapkan selamat datang dengan deburan ombaknya yang mengagumkan serta lolongan beberapa anjing milik pencari lobster. Waktu di ponsel kami yang tak bersignal menunjukkan angka 19.30.  Kami lekas membagi tugas.  Aku dan Ika mempersiapkan makam malam, Mak’e dan Pak’e Gendut mendirikan tenda, sedang Faa dan Sasha mencari kayu bakar untuk membuat api unggun.

Kali ini, kami membawa banyak sekali bekal makanan.  Dari cemilan ringan, makanan utama sampai buah-buahan ada.  Berasa tak seperti camping melainkan pindah tempat makan saja.  Tempat yang sangat wonderful tentunya.

Gambar

Menu Makan Malam

Selepas makan, kami menggelar matras dan mantel hujan untuk rebahan di dekat api unggun, menghadap hamparan laut kami duduk.  Bintang di langit sana sangat banyak, bahkan Ika sampai menyebutnya seperti ketombe. Banyak banget!!  Dan tentu saja ada banyak sekali bintang jatuh.

13407741581185945765

Tenda dan Api Unggun

Gambar

Mendengar dan Didengar

Kemudian kami membentuk lingkaran, memutar botol dan ketika tutup botol berhenti menghadap titik yang sudah dinamai, maka orang dengan nama itu harus siap menerima pertanyaan-pertanyaan dari kami.  Dan kami harus menjawab dengan jujur.  Dan ya, topik pertanyaan kami selalu tak jauh dari kehidupan cinta.  Berbagai pendapat, sanggahan dan pandangan turut menghujani sesi ini.

Setelah puas bercerita dan mendengar, kami rebahan memandang langit.  Menghitung bintang jatuh.  Menjelang dini hari, kami memasuki tenda untuk beristirahat.  Tidur.

Pagi!!

Biasanya jika di rumah, jam pagi seperti ini aku sedang berbincang dengan buku rahasia, menulis surat pagi untuk kopi.  Tapi kali ini, ketika aku bangun yang pertama kali terdengar adalah deburan ombak.  Sunrise yang remang-remang dan perbincangan para pencari lobster yang tengah menimbang hasil tangkapannya.

13407739421096487570

Pagi di Seruni

1340774025937992327

Pagi di Seruni

Aku, Mak’e dan Pak’e Gendut lekas menuju tempat di mana ada rembesan air tawar di bukit karang.  Membersihkan diri dan mengambil air untuk memasak.  Dan nyatanya, kami malah keasyikan basah-basahan di pantai.  Kawan lainnya memilih mendaki bukit karang untuk mengambil gambar, lainnya memilih membakar kentang untuk sarapan.  Tapi tak seberapa lama, mereka menyusul kami.  Bermain dengan ombak laut selatan.

13407746071239711130

Bermain Bersama Ombak

Gambar

Bermain Bersama Ombak

Dan ya, kami tengah merasa berada di pantai kami sendiri.  Bagaimana tidak?  Hanya ada kami yang ada di sana. Pak’e gendut memilih untuk menyiapkan sarapan, dan jadilah kami lima perempuan menggila di Pantai Seruni.

Setelah puas bermain dan ‘melarung’ kami membersihkan diri di saluran air tawar.  Mandi, kemudian kembali ke tenda.  Seperti belum puas, kami masih saja melakukan hal-hal absurd sambil menunggu sarapan siap.  Mulai berdandan aneh, berpose tak biasa, intinya kami tengah melepas segala kepenatan hidup.

Lagi pula, kapan lagi kami mampu seperti itu.  Berada di tempat yang belum banyak tersentuh dunia luar.

Gambar

Menggila Bersama

13407673161493634061

Menggila Bersama

Setelah sarapan, yang lebih tepatnya disebut makan siang, Pak’e gendut mendaki bukit untuk mencari letak sumber air tawar.  Ika dan Faa juga menyusul mendaki bukit untuk berburu photo.  Aku dan yang lainnya memilih gelesotan di gubuk sambil liyer-liyer, menikmati angin laut yang berhembus cukup menggiurkan untuk diajak menemani tidur.

Pukul 14.00 air laut mulai surut, kami bersiap untuk kembali menyisir pantai.  Pulang ke Jogjakarta.  Tak lupa, kami membawa serta sampah-sampah yang kami hasilkan, lalu membuangnya ke tempat sampah yang ada di pantai Indrayanti.

13407743321922499147

Sebelum Pulang

Setiap perjalanan selalu punya tantangan tersendiri.  Jika ketika berangkat kendala kami adalah langit yang sudah menggelap, maka ketika pulang adalah ombak.  Ya, kami harus naik turun karang (yang tajamnya subhanallah) untuk menghindari terjangan ombak.

Gambar

Perjalanan Pulang

13407671071689955444

Perjalanan Pulang

1340774446692525430

Perjalanan Pulang

Tepat pukul 16.00 kami akhirnya sampai kembali di Pantai Indrayanti.  Tempat di mana kami memarkir sepeda motor.  Setelah meminum degan (1 butir untuk ber-6) kami segera meluncur kembali ke Jogja.  Masih harus melakukan perjalanan selama 2 jam dengan jalan yang naik turun, belak-belok, dan macetnya luar biasa.

Dan, saya merasa sangat lebih baik sepulang dari perjalanan ini.  Betapa banyak kepenatan hidup yang tersimpan rapat-rapat kemudian mencair lalu terlarung bersama ombak.  Betapa aku merasa semakin mencintai kalian, dan betapa aku merasa bahwa diriku adalah sesuatu yang berharga.

Terima kasih, kalian. Persahabatan yang kalian tawarkan begitu berpelangi, beraneka warna.

Gambar

Melompat Lebih Tinggi

@elisabethmurni : #GirlsDayOut edisi pantai sukses, besok dilanjut gunung ya, minimal Nglanggeran haha @rinatrilestari @faa_afu @fawaizzah @srengenge_wengi

Salam Mintilihir!!

Icikicikiber

Opera Travel Blog Competition

Note: Semua photo adalah milik Canting

Tagged: , , , , , , , , , , , , , , ,

14 thoughts on “Girls Day Out : Ketika Para Perempuan Mencumbui Alam

  1. nunung 22 August 2012 at 9:12 AM Reply

    kau yang terlihat biasa menjadi begitu istimewa melihat sisi lain dari dirimu sobat🙂

  2. Miss Rochma 16 July 2012 at 10:26 AM Reply

    menyenangkan memang menikmati alam.
    bersama teman, bersama angin, bersama waktu sunyi.
    *pengen kesana..*
    -Miss Rochma-

    • fawaizzah 16 July 2012 at 10:33 AM Reply

      perpaduan sempurna, miss.
      ke sanalah🙂

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: