Sebelah Sayap

Gambar

Pagi ini, dadaku terasa sesak sekali, dua bulir air kembali jatuh, hanya karena aku mengingatmu.  Bukan, bukan, ini bukan perkara rindu.  Aku tak benar-benar yakin apakah masih tersimpan rindu dalam samudra rasaku, untukmu.  Entah jika rindu itu sudah sekian menyebar, mencemari rasa-rasa yang lain, hingga semuanya nampak kabur.  Sulit dibedakan.

Tapi kukira ini benar-benar bukan perkara rindu. 

Aku merasa seperti camar, terbang tinggi menyongsong matahari yang hendak menenggelamkan diri.  Tapi berulang kali aku limbung, terseok-seok, lalu jatuh.  Bukan karena tamparan angin, tapi karena sebelah sayapku masih tertinggal di bahumu.  

Aku tak seperti dulu, yang menganggap diri sebagai korban atas kepergianmu, kediamanmu.  Aku menyadari betapa dirimu pun terluka.  Sekarat.  Tak jauh beda dari keadaanku.  Aku tahu kamu berkeras hati membungkam keinginanmu untuk menyapaku, sejenak melepaskan segala kepenatan hidup dengan banyak bercerita padaku.  Aku tahu, kamu berkeras hati untuk tetap berada di tempat persembunyianmu. 

Meskipun aku juga tahu, betapa sering kamu diam-diam mengintipku.

Bedanya denganku adalah, ketika aku menginginkanmu, ingin tahu keadaanmu, aku buta tentangmu.  Aku buta keberadaanmu.  Lalu, satu-satunya hal yang mampu membasuh semua itu adalah kenangan masa lalu.  Lalu semua terbasuh dengan palsu.

Aku menjajar satu per satu kenangan, meniliknya jeli sekali.  Memperhatikan sudut senyummu, tawa yang acap kali kamu ciptakan, lelucon-lelucon yang sama sekali tak pernah lucu tapi mampu membuatku begitu terpingkal.  Serpihan-serpihan hidup yang pernah kamu ceritakan.  Bahkan, aku mengingat begitu baik bagaimana kamu mengajariku agar sedikit rasional, yang waktu itu justru sering kali aku abaikan.

Ya, sekali lagi, ini bukan perkara rindu.

Tapi tentang sebelah sayapku yang masih melekat di bahumu.  Tentang janji bertahun lalu.  Tentang harapan-harapan yang pernah tersulam.

“Aku akan menemuimu suatu saat nanti,”

“Untuk apa?”

“Mengucapkan terima kasih padamu, meminta maaf padamu,”

“Aku akan menunggu,”

Jadi, bisakah kamu lekas memberikan sebelah sayapku?  Melunasi janjimu, melunasi janjiku.  Lalu beri aku sebuah pelukan canggung, hingga kemudian kita akan berlari ke arah yang berlawanan, tanpa perlu ada yang saling menengok ke belakang.  Tanpa ada lagi luka kehilangan.

Ayolah, berhentilah bersembunyi.  Aku ingin segera menyongsong matahariku yang kian makin tenggelam.  Aku ingin memberinya cinta yang utuh. Penuh.  

Tagged: , , , ,

3 thoughts on “Sebelah Sayap

  1. Babeh Helmi 17 June 2012 at 1:31 PM Reply

    Aseeeeeeeeeeeeeeeeeeem .. buncahan-buncahan rindumu tertuang jelas di sini .. eh, rindu ya? eh bukaaaan .. tapi ini anu-anu .. iya .. anu-anu .. hihihihi .. kereeeen, Zaaah .. like thizzzz …

    • fawaizzah 17 June 2012 at 1:34 PM Reply

      sekali lagi, ini bukan perkara rindu beeh, bukan!

      • faa 17 June 2012 at 6:30 PM Reply

        lha terus opoh…?

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: