Cinta Itu

Secangkir kopi hitam dan coklat panas lengkap dengan cawannya sudah terhidang di meja saat aku baru saja kembali dari kamar kecil.  Hawa dingin pegunungan membuatku sebentar-sebentar pergi untuk buang air kecil.

Dia duduk bersila menghadap meja, sambil memainkan handphone. Matanya sibuk menguliti huruf-huruf kecil di layarnya. Sebentar-bentar dia senyum sendiri. Aku jadi sungkan mengganggunya. Akhirnya aku keluarkan buku novel dari dalam tas. Membuka halaman yang sudah kutandai dengan pembatas buku. Lalu, kami tenggelam dalam dunia masing-masing.

“Buku apa tuh?” tanyanya setelah beberapa lama. Handphonenya sudah di meja.
“Novel.”

“Tentang apa?”

“Ceritanya lucu. Kamu pasti ketawa kalo mendengernya.”

“Oh ya? Ayo cerita”

“Kisah cewe yang doyan makan pisang. Juga minum kopi.”

“Lah, apa lucunya?”

“Yeee, denger dulu.  Dia tuh makan dan minum itu kalo lagi patah hati gara-gara kelakuan pacarnya. Hihihi.”

“Hmm, enak banget ya jadi pacarnya?”

“Kok enak?”

“Ya iya lah .. Aku tinggal beli’in pisang dan kopi kalo pacarku ngambek. Hahaha.”

“Jiaaah.”

“Iyaa. Terus ngga perlu ngajak dia jalan-jalan, ke gunung, ke tempat beginian…” Aku pun langsung bersuara keras, “Ehem eheeem…”

“Nah, kan… Buuu, pisangnya satu piring,”

Dan kami pun tertawa bersama.

Kabut semakin menebal seiring matahari yang berjingkat meninggi. Hawa dingin tambah menusuk-nusuk, saat dia bertanya…

“Gimana novelmu?”

“Hmm .. mentok.”

“Ya pindah lah nulisnya jangan di pojok. Hihihi.”

Aku hanya senyum.  Kecut, karena memang masih selalu memikirkan novelku yang tidak jadi-jadi.

“Mentok kenapa sih?”

“Ngga tau nih.  Saat mau ngembangin adegan jatuh cinta, selalu aja mentok.”

Dia diam.  Aku menelusuri kalimat-kalimat di novel yang kupegang. Kuintip dia asyik kembali dengan handphone-nya.

Tiba-tiba handphoneku berbunyi.  Ada pesan yang masuk.  Tapi kok pengirimnya adalah…

“Cinta adalah ketika kamu tak menemukan alasan kenapa kamu mencintainya.”

Hei, dia mulai menuliskan soal cinta.  Hahaha, ini ajaib, tak biasanya dia membahas soal seperti ini, karena kami memang selalu tak punya satu pun kata yang sama untuk mendeskripsikannya, menggambarkannya.

Kulirik dia.  Dia menangkupkan kedua jemarinya pada cangkir kopi panas di hadapnya. Lalu diseruputnya kopi itu pelan-pelan.

Aku pun membalas sms-nya. “Cinta selalu punya alasan.”  Setelah memencet tombol SEND, aku pun ikut menyeruput coklat panas dari cawan.

Handpone-nya berbunyi. Dia pun senyum, lalu membacanya. Tapi sejurus kemudian, keningnya mengerenyit, seolah minta penjelasan tentang jawabanku itu.

Tanpa menunggu dia membalas, akupun mengirimkan sms lagi. “Segala hal yang kita pilih, termasuk pada siapa cinta itu akan kita semaikan, selalu ada alasan yang melatarbelakanginya.”

Saat aku menyeruput coklat yang tak sepanas tadi, sms-nya masuk. “Bagaimana kalau aku tak menemukan alasan, saat aku mencintai seseorang?”

“Oh ya?!” Sontak aku bertanya langsung. “Kok bisa? Mencintai siapa sih?”

“Ya mencintaimu lah.” Tatapannya menghujam. Plak, aku pun gelagapan dibuatnya. “Eh … ee…” Aku terus menunduk. Senyum aku sembunyikan.  Degup jantung kucoba kendalikan, hingga aku tak berani membalas tatapannya.

Dengan menunduk akupun menulis kembali sms untuknya,”Aku yakin kamu memiliki alasan, hanya saja, alasan itu terlalu sederhana atau mungkin justru terlalu rumit untuk kamu susun.”

Dia membaca sms yang baru masuk.  Dia tak berkata lagi, mungkin membenarkan, atau bisa jadi dia justru menentang diam-diam.

Tiba-tiba… “Kamu mencintaiku?” tanyanya akhirnya.

“Kamu meragukannya?” aku balik bertanya.

“Alasanmu?” tanyanya lagi.

“Hmm .. jangan ketawa, ya.”

“Iya, janji.”

“Cambangmu. Ya, cambangmu!” kataku, mataku berbinar-binar.

Dia kaget. “Ini?” tanyanya sambil mengelus cambang yang tercukur rapi. Tawanya hampir saja meledak, tapi dia berusaha menahannya. Dan hal itu justru mambuat matanya berair.
“Karena ini?” tanyanya lagi dengan masih tertawa, air dalam matanya semakin mendanau. Kalau saat ini kami tak sedang berada di sini, di warung kopi dengan pengunjung yang tak sedikit, mungkin tawanya sudah berderai-derai. Dan aku akan ikut tertawa tanpa tahu apa yang lucu. Tawanya selalu menular. Cara dia tertawa selalu saja mampu membuat orang-orang di sekitarnya terseret dalam gelak. Tawa yang renyah.

“Kenapa sih?” aku bersungut, mesti sejujurnya hanya berpura-pura saja.

“Setahuku, perempuan akan tertarik dengan laki-laki karena dia tampan, mapan, berkepribadian, berprinsip dan punya masa depan. Alasanmu benar-benar konyol! Hahaha…”

“Itulah, kenapa pada akhirnya orang-orang menjadi kesulitan mengungkapkan alasannya. Karena terlalu sederhana, lalu takut jika ditertawakan.”  Kataku, mencoba mengembalikan keadaan, menyudahi tawanya yang tak kunjung kelar.
“Kamu yakin hanya karena ini?” tanyanya lagi, seolah sulit mempercayainya. Aku menatapnya geram, lalu menjitak jemarinya yang terkulai di meja.

“Aduh! Ehm… berarti, aku harus waspada ke semua cowo yang bercambang. Hahaha…”

“Itu hanya permulaan, awal mulanya, dan akan selalu ada alasan baru untuk memutuskan apakah cinta itu akan bertahan, bertambah kadarnya atau justru berkurang, bahkan hilang sekalipun.” Aku menuliskan sms kembali dengan kalimat selayaknya seorang konsultan percintaan yang sudah melakukan berbagai penelitian.

“Kamu terlalu rumit, tidak semua hal membutuhkan alasan.” Dia berkata sambil menyeruput kopi dinginnya.

“Sudah kubilang, segala sesuatu itu pasti ada alasan yang melatarbelakanginya!” Aku keukeuh.

“Tidak semua!” Dia tak kalah kukuh.

Percayalah, kami tidak sedang benar-benar bertengkar jika begitu.  Kami hanya berbeda pendapat. Kekakuan akan kembali mencair jika salah satu diantara kami kembali melemparkan bahan perbincangan yang lain. Atau, berusaha mendekat. Duduk lebih dekat.

Dia menghabiskan kopinya, meninggalkan ampas yang sudah mengendap. Lalu berdiri. “Habiskan coklatmu,” suruhnya. Aku menurut. Lalu mengikuti langkahnya, menuju parkiran motor.

Saat dia mengenakan helm, tiba-tiba dia berbisik sambil menatapku, “Cinta adalah saat kamu tak mampu mematikan rindu, bahkan ketika jemarimu digenggam erat oleh dia yang dicintai olehmu.” Dia tersenyum, manis. Aku merinding, entah apa yang tiba-tiba menjalar cepat di kulitku.

Aku membalas senyumnya, tapi tak bisa menjawabnya, hanya diam sambil ikut naik ke motornya.

Lalu ia berbisik lagi. “Cinta adalah saat kekasihmu baru sedetik meninggalkanmu, hatimu sudah kembali ngilu. Rindu menyesaki dadamu, bahkan lebih sesak sebelum kalian bertemu.” Ah, aku makin terdiam. Aku hanya bisa menyandarkan kepalaku di belakang badannya, memeluknya erat. Kurasai detak jantung dalam dadanya semakin cepat. Jika sudah begini, tak ada lagi yang perlu di debat.

Dalam hati, diam-diam aku berkata, “Aku sepakat.”

.

.

Sumber gambar : http://www.glamquotes.com/wp-content/uploads/2011/12/true-love.jpg

Tagged: , , , ,

5 thoughts on “Cinta Itu

  1. rinatrilestari 2 April 2013 at 8:47 AM Reply

    hacie…cie…🙂

  2. Miss Rochma 1 April 2013 at 9:06 PM Reply

    cinta itu karena jambang yang dicukur rapi :))

    • fawaizzah 1 April 2013 at 9:13 PM Reply

      cambang, mbaa, cambaaaang.
      jangan jambang, tar kepleset jadi jamban, lhoo #eh hihihihi

  3. Mutz 29 March 2012 at 2:23 PM Reply

    hahahaha….ceritanya romantis dan lucu, I like this

  4. Ahmad Amrullah Sudiarto 28 March 2012 at 9:18 PM Reply

    🙂

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: