Resah

Selalu, selalu seperti ini. Setiap tatap mata kita beradu, jiwaku resah. Tak ingin sudah, sebenarnya, tapi malu menguar ke seluruh dada. Entah apa yang kaurasakan saat itu. Hanya saja, kekakuan akan meretas dalam benakku, mungkin juga benakmu. Seakan waktu bersembunyi, lalu udara membeku. Dan kita berdua salah tingkah.

Ini bukan kali pertama aku dan kamu duduk di sini. Di sebuah bangku panjang di pinggir pantai. Jemari kaki kita yang tak beralas bermain pasir. Dan ketika ujung jemari kakimu tetiba menyentuh jemari kakiku yang berbalut butiran pasir, desir dalam dadaku sempurna menyeruak. Mengantarkan aliran listrik ke semua pembuluh darahku.

Terang saja, aku secara reflek menyingkirkan kakiku, menjauhkannya dari sentuhan tak sengajamu. Kamu pun melakukan hal yang sama, dan lagi-lagi kita didera rasa itu. Ya, beku. Sepersekian detik kemudian semesta akan menertawakan tingkah kita yang pandai berpura-pura, bahwa hati kita baik-baik saja.

“Hmm… kapan kamu akan ke sini lagi?” tanyamu akhirnya. Aku masih berada di sini dan kamu sudah menanyakan kapan aku kembali.

“Belum tahu,” andaikan kamu tahu, ingin sekali aku berkata bahwa aku tak ingin pergi. Aku ingin tetap di sini.

Tak ada percakapan lagi. Kita berdua tenggelam dalam keheningan, meski dada riuh oleh detak jantung yang tak beraturan. Aku merasa semua frasa yang tercipta di dunia ini tak sanggup mewakili apa yang ada di jauh hati sana. Diam adalah satu-satunya cara untuk berbicara jika sudah begini.

Tanpa harus mengendus setiap jengkal porimu, aku tahu aroma tubuhmu. Ya, angin pantai yang berarak lembut itu yang memberitahuku. Matahari semakin cepat berlari keperaduannya, senja muda mengintip di ujung langit barat sana. Siluet tubuhmu yang terlumuri temaram senja membuatmu nampak sempurna. Sungguh, aku tak ingin beranjak.

“Jadi, apakah semua kerjaanmu sudah beres?” aku merasa kamu menatapku saat itu, tapi aku pura-pura tak tahu dan terus membuang tatapanku jauh ke laut yang tak berujung itu.

“Hmm.. hmm.. besok pagi aku akan pulang.”

“Kereta?”

“Ya…”

Senja di sini mulai menua. Lampu-lampu di bantara warung-warung pinggir pantai sudah mulai menyala. Sekali lagi, aku masih belum ingin beranjak.

“Jam berapa keretamu?”

“Tujuh pagi,”

“Aku akan mengantarmu ke Stasiun.”

“Tak perlu repot. Aku bisa naik taksi.” Jangan, jangan biarkan aku naik taksi! Paksa aku untuk diantar olehmu. Kini, betapa pepatah lain di mulut lain di hati itu benar-benar kuamini.

“Tenang saja, tak repot. Sekalian aku berangkat kerja.” Katamu akhirnya yang langsung kusambut senyum dan anggukan.

Sepanjang sisa pagi yang kuhabiskan untuk menunggumu di tempat nan telah kita sepakati, aku merasakan bahagia membuncah diselingi nyatanya kekhawatiran. Bagaiamana jikalau ini merupakan pertemuan terakhir kita? Bagaimana jika setelah ini, kamu dan aku kembali sibuk pada rutinitas yang menyita perhatian sampai waktu akhirnya begitu cepat berlalu hingga tanpa sadar kita telah saling melupakan?

Aku tidak bisa menjawab pertanyaanku sendiri yang banyaknya sampai memenuhi kepala. Yang saking rumitnya, bahkan seumpama mengurai benang kusut basah, sukar menentukan- mana-harus-kemana.

Kurasa aku memang kurang lelap di tidur semalam, karena sukar rasanya memejamkan mata dengan beribu-ribu kemungkinan yang sibuk kususun hingga menghasilkan cerita seperti slide film lama. Yang hanya hitam dan putih, saling berkejaran membentuk potongan-potongan cerita sedih memilukan yang lebih pilu dari sepilu-pilunya pilu akan kisah cinta yang tak kunjung bersatu. Seperti dalam kisah roman-roman usang yang mulai ditinggalkan pembacanya.

“Hey, sori telat. Udah lama?” tanyamu dengan senyum mengembang. Aku tersipu tapi bahagia.

“Ayo naik, pegangan ya. Kalo perlu kamu peluk aku erat-erat. Biar badanmu yang kurus itu gak terbang pas aku lagi ngebut.” Dzigh!! Darahku mendidih, kurasakan ada bara panas sengaja ditaburkan ke wajahku. Kamu cuma terkekeh padahal saat itu langit runtuh di atasku.

Stasiun. Aku selalu suka dengan hiruk pikuk stasiun. Orang yang berjalan tergesa, pedagang telur puyuh dan penjaja jamu berseragam menawarkan jualan dari satu orang ke orang satu, lalu dilanjutkan pada orang lain ke orang lain lagi dengan banyak sekali penolakan. Bunyi pengeras suara dari loket karcis, pengumuman anak hilang, calo-calo taksi yang menjanjikan tumpangan murah dengan cara sopan namun merisaukan, peluit panjang penanda kereta jurusan itu akan segera berangkat dan kereta ini akan segera tiba, jes jes jes jes ngiiing. Jes jes jes jes ngiiing. Jes jes jes jes ngiiing.

Ting teng ting tong…. Ting teng ting tong….

Semua seakan orkes alam, sengaja diputar sebagai pengiring kediaman kita yang kaku. Kamu masih saja sibuk dengan sedotan teh botolmu yang terpelintir.

“Kamu mending pulang, bentar lagi keretaku datang kok.” Akhirnya, kalimat itu bisa juga kuucapkan meski dengan harapan kamu bisa menangkap makna yang sebenarnya.

“Yakin kamu mau ditinggal sendiri?” Aku tak menjawab.

“Ya udah, sana gih. Lagian kamu juga harus kerja.” Aku merunduk dalam, tak sanggup menunggu reaksimu selanjutnya. Please jangan pergi dulu!

“Kalo nanti kamu udah sampai, apa yang bakal kamu kangenin?” Deg! Ada halilintar di jantungku.

“Tentu aja aku bakal kangen banget sama,,,” Aku harus menekan ego, batinku.

“Lihat! Keretamu datang, itu! Di sana!”

Itulah awal mulanya. Sebab sesuatu selalu berawal mula. Pun dengan aku, dengan kamu, dengan segala kisah kita yang entah bagaimana jalan ceritanya.

Sesudah perpisahan -yang layaknya tidak seperti perpisahan-perpisahan lain, tanpa lambaian tangan, tanpa peluk hangat, tanpa kecup mesra di kening, tanpa janji akan bertemu kembali- di stasiun tempo hari, barangkali aku benar-benar kesepian dan sedih.

Hingga siang kemarin kudapat satu pesan pendekmu lewat kotak persegi virtual, “kalau sedang tidak sibuk datang lah ke sini, tidak perlu berpikir-pikir, dalam hidup lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan, berpikir itu urusan para filsuf.”

Berkali-kali pagi kuhabiskan merenung di atas tempat tidurku yang empuk dan lapang, bahwa kenyataannya; aku mendapati diriku terkungkung dalam kerinduan padamu lewat bias pantulan cermin.

Aku belum bisa membalas pesan singkatmu. Bukan karena aku terlalu banyak berpikir seperti tepatnya dugaanmu. Bukan pula karena aku terlalu sibuk akan urusan remeh-temeh hingga tak sempat mengingatmu. Bukan, bukan. Bukan!

Aku hanya belum siap bertemu lantas harus kembali risau pada perpisahan yang telah menanti di depan. Seandainya rasa tak hadirkan kelu. Jikalau degup jantung sanggup menghentikan dada yang bergemuruh. Aku tidak akan lagi merasa sepi dan sendirian jika harus berjauhan denganmu.


Diambil dari cerpen Babe karya Linda Christanty dengan sedikit perubahan.

‘Proyek menulis duet suka-suka bareng si Kakak cihuy Santy Novaria yang super kece.’

Tagged: ,

3 thoughts on “Resah

  1. TPA Al-Muhtadin 27 February 2012 at 2:57 PM Reply

    ikut menikmati resah yang asyik ini ya kak….

  2. Akhmad Muhaimin Azzet 22 February 2012 at 1:56 PM Reply

    tak lagi merasa sepi dan sendirian
    meski jarak memisahkan
    hmmm….

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: