Candi Sadon dan Pundak Kiwo di Lereng Lawu

Pagi ini, entah dapat bisikan dari setan mana tetiba saya pengen ‘blusukan’ lagi. Thole (adik lelakiku) yang masih nglipus segera saya bangunkan. Kalau pun saya mengajaknya, ini bukan perkara saya takut blusukan sendiri. Tapi ada hal penting lainnya. Yak! Soal juru ‘potret’ tentunya. Meskipun hasil potretannya tak bisa dibilang layak, tapi dari pada gak ada yang motret kan yak?😀

Seingatku, di jalan menuju Sarangan ada papan penunjuk jalan yang mengarahkan ke Candi (namanya lupa) kalau belok ke kanan. Nah dengan satu petunjuk itu, saya membayangkan, ah lebih tepatnya bertanya-tanya, candi yang seperti apakah di sana?

Berangkatlah kami dengan berbekal papan penunjuk jalan itu. Setelah belok ke kanan, ah ternyata sudah tak ada lagi papan penunjuk jalan serupa yang mengarahkan ke Candi yang di maksud. Akhirnya kami mengira-ngira saja, berkiblat pada instinct nyasar kami yang sudah melegenda itu.

Belok kiri, lurus, belok kiri lagi. Kami sampai di desa Selo, Kecamatan Panekan, namun tak ada tanda-tanda keberadaan candi yang dimaksud. Dan dudulnya lagi, saya sudah kembali lupa nama candi yang ada di papan penunjuk arah tadi. Tapi dengan muka percaya diri super tinggi, kami mengira-ngira nama candi yang ingin kami tuju. Candi Selo! Yak, karena ini ada di desa Selo! Lalu kami berhenti pada sebuah warung kopi. Bukan untuk ngopi, tentunya. Tapi bertanya.

Nuwun sewu, nderek tangklet. Candi Selo sakmenika sebelah pundi?” saya mencoba bertanya dengan sopan. Namun beberapa orang dalam warung tersebut justru memasang muka ‘bingung’. Saya merasa ada yang salah. -_-

Candi Selo? Candi Selo niku pundi nggeh?” jawab seorang dalam warung. Nah lho. Saya bertanya dan dia justru bertanya balik. Sekarang, giliran siapa yang mau jawab?

“Mungkin maksudnya Candi Sadon!” celetuk seorang pemuda. Pemuda yang tadinya biasa saja itu nampak begitu berbinar. Nampak lebih ganteng dari sebelumnya. Mungkin, karena dia membawa jalan yang benar. Penyelamat kami dari tampang keragu-raguan. Halagh…

Setelah mendapat petunjuk, kami melanjutkan perjalanan. Lurus, perempatan belok ke kiri. Setelah belok kiri, lagi-lagi tak ada petunjuk lain dimana candi itu berada. Akhirnya, kami kembali memutuskan untuk bertanya.

Kali ini, kami bertanya pada seorang kakek yang sedang menjemur jagung, kakek itu nampak antusias menunjukkan jalan menuju candi.

“Wah… mau ke Candi Sadon? Kelewatan. Dari sini lurus saja terus ke Utara, setelah ketemu perempatan belok ke timur. Yang dekatnya Pasar ya. Coba kalau saya gak repot, pasti saya antarkan.” Kata Kakek yang bernama Mbah… mbah…? Haduh lupa, padahal tadi saya sempat kenalan! L

Kami manggut-manggut, mengucapkan banyak terima kasih. Lalu kembali menelusur jalanan. Di jalan, saya benar-benar baru sadar kalau saya bodoh soal arah mata angin. Mana utara, barat, timur dan selatan. Yang saya tahu cuma atas dan bawah. Kiri kanan saja kadang masih suka ‘beledru’.

Saya pasrah saja sama thole yang di depan. Dia bilang jalan yang diambil sudah bener. “Kita berjalan ke utara sekarang.” Tapi sudah sekian kilo tak juga menemukan dimana keberadaan Candi tersebut. Mulailah saya merutukinya. Kami bersaudara, pastilah kami berdua tak jauh beda bodohnya soal arah mata angin ini.

Ini adalah keturunan sodara-sodara, yak, keturunan langsung dari #KanjengMami. Di rumah saja, kanjeng mami suka (hobi) salah dalam membedakan mana timur mana barat. Mana utara mana selatan. Ini sering terjadi kalau sedang nonton tipi bareng-bareng.

“Geser ke barat dikit.” kata kanjeng mami.
Aku, geser.
“Geser ke Barat!!” agak teriak.
“Ini sudah ke Barat!!” gak kalah teriak.
“Maksudku ke sana!!” nunjuk arah Timur.

Mari kembali mencari Candi Sadon.

Lagi-lagi kami berhenti, bertanya untuk memastikan jalan. Dan ternyata ke babalasan. Jauh. Kebabalsan sangat jauh.

“Perempetan tadi belok ke sana Mbak, bukan lurus!”

Setelah berhenti dan bertanya sebanyak 7x akhirnya kami menemukan candi Sadon. Yeeeyy!!!

“Mana Pak, Candi Sadonnya?” – ini posisi sudah di depan Candi Sadon-

“Lha ini Candi Sadonnya Mba, kan ada tulisannya!”

#eaaaa

1328451352956609059

Mendadak langit yang begitu cerah nampak redup. Udara yang seger-seger saja terasa bikin nyesek. Bayangan saya tentang Candi Borobudur, Candi Prambanan, ah ini mah kegedean, Candi Ijo saja deh, tempat anak-anak Canting dulu shooting. Sirna.

13284514521403404241

Candi Sadon *doc pribadi*

Ini bukan Candi!! Ini bukan Candiii!!! #histeris

Di sana, yak di Candi Sadon itu ternyata adalah hanya ada kumpulan beberapa Arca, yang pagarnya terkunci. Gak bisa masuk untuk sekedar berpose bersama salah satu Arca. Bisa sih kalau mau masuk, tapi harus mengesemes (SMS) juru kuncinya. Yang nomornya tercetak gede di pintu Candi.

Enggak deh, bukan apa-apa sih, masalahnya, pagi tadi saya bener-bener lagi gak ada pulsa. Akhirnya saya memutusnya untuk sedikit berbincang dengan Mbah Miran. Yang rumahnya tepat di depan Candi. Kita ngobrol ngalor ngidul, mulai dari Candi tersebut kapan dibangunnya, kapan di pugarnya. Terus tentang beberapa Arca yang hilang kemudian dalam jangka waktu beberapa hari, Arca sudah kembali lagi. Cerita tentang banyaknya orang yang meminta ‘pengestu’ ke Candi tersebut ketika tengah punya hajatan, keinginan.

13284515581877269143

Berbincang dg Mbah Miran

Setelah puas berbincang, akhirnya saya pamit. Masih terlalu pagi untuk kembali pulang, maka saya memutusnya untuk ke Lereng Lawu!!

“Nyoba ke Air Terjun Pundak Kiwo yuk!”

Untuk mencapai ke air terjun, kami harus menitipkan kendaraan di salah satu rumah warga yang ada di Desa Ngancar. Lalu berjalan kurang lebih 2 s/d 3 km dengan jalan yang cukup curam. Menanjak. Dan karena pada mulanya kami tidak berniat bermain ke lereng gunung, maka saya tidak begitu memperhatikan pakaian yang saya kenakan. Yak, saya menggunakan rok panjang sodara-sodara.

Tapi, tidak begitu menjadi masalah. Toh, roknya bisa ditarik-tarik ke atas #ehh. Ini adalah kali pertama saya mengunjungi Air Terjun Pundak Kiwo. Di sini, terhitung sepi pengunjung, juga kurang perawatan. Ada 2 tempat berhenti untuk istirahat, namun keduanya nampak memprihatinkan. Tulisan-tulisan tak jelas memenuhi setiap tempat duduknya. Ada beberapa bagian yang sudah mengelupas dan kotor. L

Pagar pembatas di air terjun terbawah juga sudah rusak. Oh iya, air terjun di sini ada 3 tingkat. Selama perjalanan dari tempat parkir ke air terjun, saya hanya berpapasan dengan beberapa petani dan 2 orang –mungkin suami istri- tengah menggendong kayu dari atas. Saya tak bertemu dengan pengunjung lain.

Jadilah kami berada di air terjun yang letaknya di gunung, kanan kiri hutan pinus, berdua saja. Bukankah ini keren?😀

13284518681857707809

Pake rok tak pantang dolan ke Gunung😀

13284516801012819118

13284517612004351525

Keren yak!😀

Setelah puas bermain air dan berpose, akhirnya kami memutuskan untuk turun. Dan barulah di perjalanan pulang itu, kami bertemu dengan beberapa pengunjung, yang kesemuanya -nampaknya- adalah pasangan kekasih. Gandengan tangan. Ahing!

Sudah ah ceritanya. #NgosNgosan

Tagged: , , , , , ,

13 thoughts on “Candi Sadon dan Pundak Kiwo di Lereng Lawu

  1. Jaden Backer 4 June 2012 at 8:49 PM Reply

    Gunung Gede diselimuti oleh hutan pegunungan, yang mencakup zona zona submontana, montana, hingga ke subalpin di sekitar puncaknya.

  2. elvancyber 19 February 2012 at 4:31 PM Reply

    nice advanture…

    salam pertemanan…

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: