Review Buku ‘Ndemin Selawase’

Kali ini, saya ingin mereview buku milik kawan saya. Seorang kawan yang pekoknya gak ketulungan tapi cihuynya tingkat internasional yang bernama @rinatrilestari. Belum lama ini, dia menerbitkan sebuah buku hasil dari ngeblog di kompasiana. Bukunya dia diberi judul ‘Ndemin Selawase’

Buku ini adalah buku bahasa jawa pertama yang saya baca. Menggunakan bahasa sehari-hari dengan dialek khas masyarakat Surabaya. Sebenarnya, cerita yang diangkat dalam buku ini sangat klise. Namun penulis mampu membuat buku ini begitu memikat dengan dialog-dialog di dalam cerita. Realistis. Cerita yang pasti banyak ditemukan di dalam sebuah keluarga kecil yang hidupnya pas-pasan.

Adalah Narti, seorang gadis dari keluarga berkecukupan yang kemudian menikah dengan Paijo. Sebenarnya, pernikahan mereka tak mendapat restu dari pihak keluarga Narti, karena Paijo bukan dari keluarga kaya. Namun cinta sudah terlanjur membuat mereka nekat hidup bersama, meski tanpa modal yang cukup.

Narti yang terbiasa hidup dimanja masih suka ‘rewel’ minta ini itu pada Paijo, suaminya. Sedang Paijo akan mati-matian merayunya. Seperti ketika Narti ingin nonton film di bioskop, maka Paijo akan membelikannya beberapa keeping DVD sebagai gantinya. Atau, ketika Narti ingin makan pizza, maka dia harus berpuas ketika Paijo hanya mampu membelikannya ote-ote.

Cerita semakin apik ketika Narti mulai hamil, dimana sikap ‘ngalem’nya semakin menjadi-jadi. Semua pekerjaan rumah dilimpahkan pada Paijo. Bahkan, Narti meminta suaminya untuk tinggal di rumah, tidak boleh bekerja, dan melayani apa pun yang diminta oleh Narti.

Dan ini salah satu dialog dalam cerita:

Narti    : Mas!
Paijo    : Opo? *nyauri soko mburi omah*
Narti    : Wes mari durung lek umbah-umbah?
Paijo    : Wes.
Narti    : Ndang rene!
Paijo    : *Njebus soko mburi, langsung nyedeki bojone* Opo?
Narti    : Sing klambi wingi during disetriko.
Paijo    : Iyo, iki katene budal. Opo maneh?
Narti    : Lek jupuk klambi jupukno ngombe sisan yo?
Paijo    : Yo. *mlebu nang kamar, jupuk klambi sing kate disetriko trus nggawakno ngombe*
Narti    : *Njejeki gegere Paijo sing lagi setriko nang sanding sako mburi*
Paijo    : Ojo mbok jejeki aku, lek kekenyos setriko yok opo ngko?
Narti    : Halah, ngunu ae nesu *mrengut*
Paijo    : Gak nesu, ning ojo banter-banter lek njejeki. Ngko sikilmu salah-salah njejek setriko.
Narti    :*Gak trimo dikandani sikile ganti ditepakno nang klambi sing kate disetriko bojone*
Paijo    : Lah, malah tok orat-arit. Lak rusak maneh setrikaane.
Narti    : Bahno!
Paijo    : Lapo sih? Wong y owes ditunggoni karo setriko ngene lho.
Narti    : Pijeti!
Paijo    : Trus lek setriko yok opo?
Narti    : Tangan siji kan iso.
Paijo    : *Gedek-gedek*

Akhirnya Narti melahirkan. Persalinannya tidak dilakukan di Rumah sakit atau puskesmas. Melainkan di rumah kontrakannya yang ditolong oleh dukun beranak yang katanya sudah mahir, terampil. Kemudian anak laki-lakinya diberinama Ndemin!

Seiring tumbuhnya Ndemin, Narti mulai belajar membiasakan hidup sebagaimana kehidupan Paijo. Dia belajar memasak, mengurus anak dan mengurus Paijo, suaminya. Setelah Ndemin hampir berumur 2 tahun, Narti kembali hamil.

“Mending cedek-cedek ae jarake cek enak ngramute. Mesisan. Klambi, peralatan bayi iso dilungsurno, gak perlu tuku maneh.”

Dialog-dialog yang lain tak kalah memikat, sebagian mengocok perut saking konyolnya, dan di bagian lain membuat mata memerah, menahan sedih karena nelangsa.

Keluarga kecil yang sangat sederhana itu pun menjadi ramai setelah kelahiran putra kedua mereka.

……

Paijo    : …. Ndemin Selawase lek lanang. Lagian gak penting sopo jenenge. Sing penting areke sehat.
Narti    : Lha terus lek nyeluk yok opo lek podo? Surat-surate? Ngko malah kliru karo mas’e.
Paijo    : Yo gak. Sing iki Ndemin 2. Dinomeri.
Narti    : Koyok wedhus korban ae athek dinomeri. Lha lek wedok?
Paijo    : Yo Ndeminwati. Hehehe
Narti    : Sak karepmu wes.

Pekerjaan Paijo serabutan, dan dia ingin melakukan sesuatu untuk anak istrinya. Lebih-lebih ketika dia memikirkan masa depan anak-anaknya. Paijo ingin menjadi TeKaI, dia ingin membahagiakan anak-anak dan istrinya. Namun Narti tak mengijinkannya.

Narti    : Pokoke aku emoh lek mbok tinggal dadi TeKaI!
Paijo    : Lha neng kene ki kerjo yo selot angel. Mbarang-mbarang yo butuh modal. Kate kerjo sing tepak yo kudu nggawe duit.
Narti    : Yo macul ae. Ben dino yowes kerjo ngunu lho.
Paijo    : Iyo tapi gak iso nggo tuku opo-opo. Mung beras karo tempe. Hiburan yo mung kelon thok.
Narti    : Loh, gak seneng ta kelon karo aku? *mecucu*
Paijo    : Yo seneng lah, maksudku iki…
Narti    : Wes ta lah Pak, urip ki sing penting dilakoni. Penting kene sregep, gak males usaha ngko lak nemu dalan. Ga usah mikir duit gede, sak onoke wong yo gak tau keluwen ae lho. Dadi wong sugih rasane yo ngunu ae, pancet kurang.
Paijo    : Kok pinter saiki? Dingaren… *mesem*

Cerita keluarga ini semakin menggigit ketika Narti kembali melahirkan anak ketiganya, dan belum sampai Ndemin 3 umur setahun, Narti kembali hamil.

Kesemrawutan yang terjadi setiap pagi, pertengkaran-pertengakaran kecil dan hal-hal lucu di tengah-tengah keterbatasan ekonomi mereka menjadi sangat menarik untuk disimak.

Jadi, kapan lagi anda-anda membaca buku yang kata penulisnya, buku ora mutu, mutu ning rendah, ini kalau bukan sekarang?

13280846461873986589

Tagged: , , ,

16 thoughts on “Review Buku ‘Ndemin Selawase’

  1. […] di atas adalah sedikit penggalan dari buku “Ndemin Selawase” yang pernah saya reviewi tahun lalu. Dan kali ini, saya bermaksud untuk mereview kelanjutan buku […]

  2. soksesmuda 13 February 2012 at 9:56 PM Reply

    Dewi Sumatrani, demen banget sama cerita jawa..
    apa buku ini ada dijual di Gramedia?

    • fawaizzah 14 February 2012 at 9:26 AM Reply

      belum ada di Gramed, jika ingin membeli bukunya, pesan saja melalui nulisbuku.com atau kirim email ke admin@nulisbuku.com🙂

  3. TPA Al-Muhtadin 4 February 2012 at 11:42 AM Reply

    wah..wah… seger sekali ya kak….. hahaha….

  4. sigarwelat 2 February 2012 at 4:19 PM Reply

    ngekek entek-enteken aku..hahahahaha…ojo neh tuku bukune, isoh kaku wetengku..

    • fawaizzah 2 February 2012 at 4:27 PM Reply

      wooogh awas ae lek gak tuku, disantet guru @bambanktri!

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: