Cerita Dalam Kereta

Pukul 8:15 saya mendarat di stasiun Barat, stasiun kecil di kota kecil saya. Kemudian saya segera menuju loket untuk membeli tiket.

“Kahuripan, 8:35, 37 ribu mba,” kata petugasnya.

“Kok mahal sih Pak, bukannya 29 ribu? Tuh di sana segitu tulisannya.” Begitu kata saya yang terbiasa belanja di pasar tradisional, nawar.

“Sudah naik mba,”

Setelah mendapat tiket, seperti biasa ketika di stasiun ini, maka saya duduk di pinggir rel. Bukan karena tak ada kursi kosong di dalam peron, bukan pula karena petugas stasiun ini gak ada yang ganteng, tapi karena duduk di pinggir rel itu asyik. Cihuy. Keren. (Asline mung pengen ngisis).

Selang tak berapa lama, kereta yang hendak membawa saya pergi datang, tepat 8:35. Saya tahu, tiket di tangan saya sudah tertera jelas dimana harusnya saya duduk. Tapi kereta tengah lenggang, banyak kursi kosong, maka saya memilih duduk di sebelah embak cantik berkerudung motif bunga-bunga.

Embaknya mempersilahkan saya duduk, tak butuh banyak waktu untuk membuat kami ngobrol, saling bercerita. Ya, berawal dari pertanyaan tentang tiket.

“Klo dari stasiun sini, berapa tiketnya mba?” Tanya embaknya.

“37 ribu mba,”

“Lah, aku dari stasiun Paron, Ngawi kok cuma 35 ribu?” kata embaknya, lalu memastikan ucapannya dengan memperlihatkan tiketnya.

Aku? Tentu saja langsung mengeluarkan tiketku, memeriksa harga tiketnya. Olala… di sana tertera 35 ribu rupiah. Kampret!

Si embaknya yang setelah separuh perjalanan kuketahui namanya mba Endar ini hanya tertawa saja melihat saya nggerundel tak jelas merutuki petugas stasiun itu. Sebenernya, bukan perkara selisih 2 ribu rupiahnya, melainkan nasi pecel di dalam kereta ekonomi yang seharga 2 ribu rupiah itu. Entah apa hubungannya.

Kami pun akhirnya mengganti topic pembicaraan dari tiket kereta ke tempat tujuan kami masing-masing. Tujuan kami, tentu saja kota yang sama, tapi kami punya misi masing-masing. Dan misi itu pun yang akhirnya menjadi awal curhat tak berujung. Halah, kaya judul sinetron😛

Mba Endar hendak menemui Ibu tirinya yang baru saja pulang dari Arab sana, sedang dia sendiri ternyata baru beberapa hari lalu pulang dari Taiwan, tempat dimana dia mengais rejeki demi kata ‘berhasil’.

“Sudah berapa tahun di negeri orang, mba?”

“2 tahun, sebenarnya kontrak kerjanya 3 tahun, tapi Alhamdulillah, aku punya majikan yang baik. Jadi aku diijinkan pulang untuk nengok keluarga dan semua biaya di tanggung oleh majikanku.”

“Syukurlah, hmm… apa embak juga ikut bergabung dalam komunitas-komunitas sesama TKW yang ada di sana? Eh, tapi ada kan komunitas-komunitas semacam itu?”

“Iya, ada. Ada banyak mba. Tapi aku tidak ikut bergabung. Tidak semua majikan mengijinkan.”

Yakin, majikannya baik? Saya hanya membatin. Tak beberapa lama kemudian, embaknya mengeluarkan salep dari tas tangannya. Lalu mengoleskan salep tersebut ke jari-jemarinya.

“Tangannya kenapa mba?”

“Yah beginilah, resiko kerja sama orang mba, bukan di negeri sendiri pula. Setiap hari minggu aku diajakin ke sawah.”

“Berarti, tidak ada libur?”

Dia, mba Endar menggeleng. Saya memutuskan untuk tidak melanjutkan pertanyaan-pertanyaanku. Tapi dia justru melanjutkan, saya mendengarkan.

“Setiap senin sampai Sabtu aku kerja di warung, lalu setiap hari Minggu aku diajak ke sawah. Memotongi kemangi, menanam sayuran dan sebagainyalah. Pokoknya kerjaan sawah.” Bibirnya tersenyum, tapi sorot matanya terlihat pedih.

“Berarti, embak masih harus kembali ke sana? Kan kontraknya belum habis.”

“Iya, besok pagi pesawatku.”

Hah! Besok pagi pesawatnya? Dan itu berarti besok pagi dia harus sudah ada di bandara, sedang sekarang, saat ini, siang ini. Eh kemarin siang maksud saya. Dia masih ada di dalam kereta, bukan menuju Surabaya dimana Bandara Juanda itu berada, tapi di kota lain. Gak ngebayangin ribetnya kalau saya yang berada di posisinya.

“Mba Endar ada rencana untuk menambah kontrak kerjanya?” tanyaku.

“Belum tahu mba, kalau Tuhan sudah ngasi saya jodoh, tentu saya memilih menikah dan kemudian tinggal di rumah.”

“Aku sudah dilangkahi adikku, bahkan dia sudah memiliki anak.” Lanjutnya, sorot matanya menerawang jauh.

Kemudian dia diam, saya diam, orang-orang diam, penjual pecel diam, penjual botol minuman diam dan kereta terus berjalan. Satu lagi kutemukan seorang tengah galau tentang sesuatu yang misterius. Yah jodoh!

“Tapi aku tak ada masalah kok mba, kan rejeki, jodoh dan mati sudah ada yang ngatur. Kita tinggal jalanin saja. Aku juga ikhlas, mungkin yang harus aku lakukan sekarang adalah bekerja, mengumpulkan uang untuk bantu-bantu orang tua dan untuk masa depanku nanti.” Dia tersenyum. Saya melihat dia tengah membangun tembok ketegaran. Sedang hati saya berbisik,”tentu dilangkahi adik menikah lebih galau daripada dilangkahi adik dapet pacar.” Kemudian saya angguk-angguk, setuju.

Pukul 11.35 akhirnya kereta mendarat di kota tujuan kami. Awalnya saya sempat ragu untuk turun, setidaknya di kota ini, beberapa tahun lalu, saya pernah melakukan hal-hal gila bersama orang gila yang pernah saya gilai. Orang gila yang sekarang tak tahu rimbanya.

“Hey!! Aku kembali ke kotamu! Stasiunmu jelek! Dan aku datang bukan karena kamu!🙂 ”

Tagged: , ,

5 thoughts on “Cerita Dalam Kereta

  1. Dodo 14 February 2012 at 9:03 AM Reply

    Seingat saya, dulu (tahun 1999 – 2001) hampir tiap minggu naik KA Kahuripan dari Bandung – Kediri, tarif normal Rp 17 ribu. Sekarang kok naiknya banyak sekali, dari Barat ke Kediri Rp 37 ribu…(eh, betul yah cerita perjalanan ini berakhir di stasiun Kediri, kalo lihat waktu tempuh perjalanan dan rute Kahuripan ini)

    • fawaizzah 14 February 2012 at 9:28 AM Reply

      2001 kan sudah lebih dari 10 tahun lalu🙂
      iya, kediri🙂

  2. Asop 2 February 2012 at 8:41 AM Reply

    Dilangkahi adik menikah?
    Tak masalah, ‘kan?😀

  3. satrianayla 31 January 2012 at 1:18 PM Reply

    jadi, datang karena siapa nih?

  4. Nathalia 30 January 2012 at 1:54 PM Reply

    datang bukan karena kamu? iya deh .. uhuy #eh *kaboooooooooorrrr*

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: