Di Sudut Ini

13257521341610533740

Seseorang pernah menuliskan jika rindu adalah pedih yang indah. Seorang lainnya pernah berujar jika rindu ibarat dadu, sekali dilempar berputar-putar tak karuan.

Enam purnama berlalu sejak pertama aku bertemu denganmu. Hanya dengan sebuah senyum kau mampu membuatku memberi centang di jarak lima centi dari keningmu. Menandai, bahwa kau adalah berbeda. Lalu aku suka.

Tahukah kau, aku acapkali mengendap-endap di belakangmu. Mencari tahu siapa namamu, dimana kau tinggal atau sekedar ingin tahu kapan kau akan kembali melewati sudut ini. Mungkin seharusnya aku langsung bertanya saja padamu, kukira kau tak pernah keberatan untuk itu. Tapi aku terlalu malu.

Rasaku terlalu lancang untuk seseorang yang tak kukenali. Aku menulis ratusan sajak, lalu kusembunyikan dalam buku rahasia. Aku bersiap diri menunggumu lewat lalu menatap punggungmu pergi. Tanpa pernah kau sadari.

Suatu pagi, kau tak kunjung melewati sudut ini. Gelisahku merebak. Esoknya pun begitu lagi. Hingga esoknya sampai esoknya lagi. Gelisahku meledak. Aku tak tahu pasti apa yang tengah terjadi hingga seekor camar datang memberi kabar. “Dia tengah tak baik,” begitu bisiknya sembari melesat pergi.

Saat itu juga, kaki terasa lemas. Tak mampu menopang berat tubuhku sendiri. Perut mulas. Darah terasa panas. Dia tengah tak baik, tapi aku tak mampu melakukan sesuatu apapun. Dadaku sesak, dipenuhi puingan kekhawatiran yang meledak-ledak.

Lalu, kutemui Tuhan. Aku yakin jika hanya Tuhan yang mampu memberi solusi. Tuhan bilang, itu salahnya sendiri. Yang selalu tak manusiawi memperlakukan tubuhnya sendiri. Aku menunduk, jika Tuhan pun tak mau membuatnya kembali baik, lalu bagaimana lagi?

Sedetik sebelum kuputuskan untuk beranjak pergi, Tuhan berkata lagi,”Dia akan kembali baik, tapi dia tak akan lagi bisa kau temui.” Aku tersenyum. Getir. Tapi aku mengangguk, lalu tertatih pergi.

Esok paginya aku kembali ke sudut ini, seperti kemarin dan kemarinnya lagi. Aku tahu Tuhan tak pernah bohong, tapi siapa tahu kali ini Tuhan memberiku kejutan? Dan nyatanya itu tak terjadi. Meski esoknya, atau ratusan esoknya lagi.

Dan di sudut ini aku berdiri. Merasai bahwa rindu tak sekedar pedih yang indah atau mirip dadu semata. Tapi rindu adalah pembunuh ulung. Dan kini, di sini aku tengah sekarat, menunggu mati.

sumber gambar

Tagged: , ,

8 thoughts on “Di Sudut Ini

  1. gembiralokag 27 February 2012 at 1:01 PM Reply

    masak sih😀

    • fawaizzah 27 February 2012 at 1:14 PM Reply

      hehe begitulah, terima kasih atas kalimat : rindu itu adalah pedih yang indah, Om Sulis Gingsul😀

  2. tantripranash 10 January 2012 at 3:16 PM Reply

    kalau tidak esok ini, mungkin esoknya lagi dan esoknya lagi … bisa jadi ketika engkau tak lagi berharap saat itulah Tuhan beri kejutan🙂

  3. Akhmad Muhaimin Azzet 6 January 2012 at 10:59 AM Reply

    bila memang demikian
    betapa rindu adalah hal yang sangat menyakitkan
    membuat sekarat dan… menunggu mati…
    tapi, ah… benarkah menyakitkan?
    bagi para pencinta
    kematian adalah pintu menuju kekasihnya
    kekasih yang sesungguhnya

    • fawaizzah 7 January 2012 at 11:04 AM Reply

      bagi para pencinta
      kematian adalah pintu menuju kekasihnya
      kekasih yang sesungguhnya

      hmmm…..

  4. Babeh Helmi 5 January 2012 at 6:29 PM Reply

    hiks .. sedaaaaaaaaaaaaaaaapp .. keren, Zaaaaaah ..

    Rindu itu bukanlah pembunuh ulung. Rindu adalah senyum, adalah kala kamu terpesona akan aura yang hadir di balik senyumnya. Rindu memang tak berkata, tapi rindu mengudara, mengembara, menular, dan kini hadir di ari-ariku. Dan rindu itu tersenyum padaku.

    Tuhan tak pernah bohong. Rindu juga tak pernah bohong. Tapi jika kau berkawan rindu, itulah kenikmatan yang diberi Tuhan. Berkawanlah. Karena itulah yang menyalakan kasih.
    😀

    • fawaizzah 5 January 2012 at 6:54 PM Reply

      #mbrebes

      Babeeeeh…..
      Speechless😐

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: