Rasa Benci

Dulu, di bawah pohon trembesi untuk pertama kalinya aku merasakan benci. Seorang kecil berambut keriting memberiku sebuah batu. Batu lucu berbentuk biji bunga akasia.

“Dia sudah memberikannya padaku. Dan sekarang aku memberikannya padamu.”

Aku tersenyum, berterima kasih banyak untuknya. Tak seberapa lama, seseorang bertubuh jangkung berambut tebal merebut batu itu dariku.

“Dia mencurinya dari rumahmu!!” teriak si kecil berambut keriting.

Terang saja si rambut tebal langsung menyerangku. Rambutku yang tipis dijambak olehnya. Punggungku ditendang. Aku menangis sambil berusaha berbicara aku tak melakukannya. Tapi tak keluar suara. Suaraku hilang ditelan isak. Aku meronta di pungguh simbah. Ingin kembali, ada yang perlu dijelaskan di bawah pohon trembesi sana. Tapi simbah tak mengerti. Terus menggendong tubuh ringkihku, seakan aku pecundang yang harus segera diamankan.

Semenjak itu aku membencinya. Membenci gadis kecil berambut keriting itu. Aku tak lagi suka bermain rumah-rumahan atau masak memasak. Aku lebih memilih memancing ke kali, bermain bola, mengejar capung, berburu cicak, memanjat pohon keres atau bermain tanah liat di dekat kebon tebu bersama kawan laki-laki.

Sekian tahun berlalu, aku tak lagi mempercayainya. Bahkan senyumnya. Bukan. Bukannya aku masih membencinya, hanya tak lagi mempercayainya. Itu saja.

Kini aku sudah dewasa. Penampilanku berbeda. Aku bukan si kecil ringkih yang mudah diperdaya. Aku adalah perempuan hebat. Begitu kata bayangan di balik cermin besar yang menempel di lemari bajuku.

Tapi, tak semua perkataannya benar. Rasa benci itu tetiba hadir lagi dalam hidupku. Lalu menikam rasa kepercayadirianku. Aku rubuh. Tangisku luruh. Dan aku tak lagi terlihat tangguh.

Marah aku memaki cermin itu. Kubilang dia bohong!

“Bodoh! Aku tak pernah bohong, kau adalah hebat! Kau tangguh! Hanya saja kamu lugu,”

“Lugu?”

“Ah, bukan lugu lagi. Tapi dungu!”

“……..”

“Jika seseorang melakukan kesalahan sekali karena sebuah kepercayaan, dia adalah lugu. Dan jika sudah kesekian kalinya, maka dia dungu. Tidak semua hal yang di dunia ini adalah putih, tapi ada juga yang hitam.”

One thought on “Rasa Benci

  1. Catatan Cerita dari Langit 5 January 2012 at 11:31 AM Reply

    Wah, blognya keren abizz.. Kata2nya begiitu menjiwai. Keep share ya sob. ^^

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: