Tersedot Dalam Dunia Wayang

Saya kurang tahu, saya ini sedang kesambet setan mana. Atau sedang kenapa, beberapa terakhir ini, tepatnya setelah separuh membaca buku “Pertarungan 2 Pemanah, ArjunaKarna,” karya Pitoyo Amrih, seluruh rasa ketertarikan saya seakan tersedot ke dalam satu dunia. Dunia Wayang.

Saya merasa baru sekali ini merasakan kehausan yang sangat tentang kisah-kisah yang saya baca dari sebuah buku. Rasanya ingin berkenalan lebih dekat dengan semua tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Baik tokoh antagonis maupun tokoh protagonis.

Dan baru kali ini juga saya membaca buku sangat pelan. Bahkan setiap lembar saya bisa menghabiskan beberapa menit. Tak seperti biasanya. Buku novel (duo novel) karya Andrea Hirata yang berjudul “Cinta Dalam Gelas dan Padang Bulan”, habis saya lahap dalam 2 hari saja.

Untuk buku wayang ini, rasanya saya benar-benar hanyut dalam ceritanya. Sampai-sampai setiap hari saya googling, mencari e-book, dan ngrecoki Mba @shaLluvia dan Mas Yula aka @kouncoeng untuk mau mendongengi saya tentang apa-apa yang tengah saya baca. Apa-apa yang tengah saya ingin tahu banyak tentangnya. Tapi masih saja, rasa haus untuk tahu lebih banyak ngerecoki hari-hari saya.

Lebih-lebih, buku yang tengah saya baca telah habis, tamat, padahal saya masih ingin tahu kelanjutannya. Masih ingin tahu lebih banyak lagi. Akhirnya, meluncurlah saya ke toko buku yang ada di Madiun. Namun sayang, persediaan novel-novel wayang hanya sedikit. Haha lagi pula persediaan isi dompet saya juga tengah menipis (memangnya pernah tebal?). Dan akhirnya saya membawa pulang sebuah buku berjudul “Panah Srikandi” karya Ardian Kresna.

Dan di sini, saya menuliskan, tepatnya, mengutip sedikit percakapan antara Subadra, istri Arjuna, kepada Punakawan Semar. Tentang kegalauan hatinya. Dari percakapan ini, saya menjadi mengidolakan Subadra. Ibunda Abimanyu.

“Apakah yang dirasakan Kangmas Arjuna kepada saya adalah cinta, Kakang Semar?”

“Apakah yang saya rasakan adalah cinta yang sama kepadanya?”

“Lalu, apa yang dirasakan Kangmas Arjuna kepada semua perempuan yang dinikahinya?”

 

“Seorang resi pernah berkata kepada saya bahwa cinta seharusnya adalah sebuah ujung perasaan. Orang boleh senang, suatu saat benci. Orang boleh tertawa, suatu saat bersedih, tapi cinta… tidak ada makna yang mewakili lawan kata darinya.”

 

“Mencintai seseorang pasti akan selalu senang dan sayang kepadanya, tapi suatu saat bisa juga marah karena pada dasarnya orang tak sempurna. Namun betapa pun marah seseorang, bila dia cinta, maka tetaplah cinta. Akan selalu saja ada pintu maaf atas apa yang menyebabkan dia marah.”

 

“Tapi aneh, Kakang. Semakin saya membenci apa yang saya dengar tentang Kangmas Arjuna yang selalu saja menyetujui setiap wanita yang ingin menjadi istrinya, semakin saya merasa untuk harus memahaminya.”

 

“Kangmas Arjuna sering datang dan pergi dalam waktu lama, tak pernah diam cukup lama di Madukara. Saya bisa mengerti itulah hakikat seorang ksatria utama yang selalu ingin belajar memaknai kehidupan dengan melakukan perjalanan. Tapi walaupun Kangmas Arjuna tak pernah bercerita tentang perjalanannya, semua abdi di sini tahu kalau Kangmas Arjuna selalu menikah di setiap dia singgah.”

 

“Mangapa Kangmas Arjuna tidak bercerita apa adanya kepada saya, Kakang Semar?”

 

“Mungkin Ndoro Raden Arjuna tak ingin menyakiti hati Putri.” Ujar Semar.

 

“Terkadang, saya merasa sakit justru ketika Kangmas Arjuna diam.” Potong Subadra, beranjak dari tempatnya.

 

“Bisakah nilai sejati seorang pria dinilai dari raut wajah istrinya?” nada suara Semar seperti meratap.

 

 

Dari Buku Pertempuran 2 Pemanah | Arjuna – Karna karya Pitoyo Amrih.

Tagged: , , , , , , ,

14 thoughts on “Tersedot Dalam Dunia Wayang

  1. mochtar 6 September 2012 at 9:27 AM Reply

    Damn! Coz of him, I had to buy wayang novel.Get mad while reading his books, as I’m little bit confuse with Bisma,Bima,Gatokaca.Finally gotta his signature in some novel.Nice thing – being lovely to complain him due the story have rigid ending.But I do like it as he gives another perception with philosophy approach.Not tell story by story.Truly inspired, moreover hard enough to understand wayang kulit show, as we prefer to read than listening.Ups…….jadah,wajik,gedang godog,wedang jahe….are the reason to attend it.

    As comparasion read Wawan Susetya, Ardian Kresna, Wintala Sri – each author has different sense and art in telling the story.

    Pakem, in real show – it’s bias and normally as wayang sincronized with campursari.But, have to realized due limited time to show, response the audience,and it’s entertainment.

    By the way, I just understanding wayang in tanah sabrang -means not Jawa.

  2. Sigid Sarsanto 18 June 2012 at 12:23 PM Reply

    Justru saya bingung lama memahami cerita-cerita wayang yang jadi tauladan kehidupan, setelah saya merantau dan hidup di luar Jawa pas saya nonton wayang…..bingung sekali kenapa menyimpang dari pakep terlalu jauh…alur cerita sudah tidah nyambung lagi…Tolong para dalang2 meluruskan alur2 cerita, jangan jauh-jauh kalau keluar dari pakem……

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: