Hujan

Senja belum benar-benar datang, tapi suasana sudah nampak gelap. Nyaris pekat. Mendung menggantung rendah, hujan mengintai, angin yang semula sepoi mulai berlarian, mungkin sebentar lagi akan ada badai.

“Mendung-mendung jangan melamun, Nduk, gak baik!” ujar seorang perempuan berumur sambil membuka pintu kamar.

“Jendelanya ditutup saja, nanti kalau hujan turun, kamarmu bisa kebanjiran.” Ujarnya lagi. Yang diajak bicara justru bergeming, menoleh sebentar, lalu kembali menatap kosong ke luar jendela.

“Hmm… kamu itu kenapa to Nduk?” tanyanya. Berjalan mendekat, lalu mengusap lembut kepala Lila, cucunya.

“Gak ada apa-apa Uti, hanya sedang mengamati suasana sore yang tak seperti biasa ini saja.” Katanya, lalu berdiri dan menutup daun jendela. Belum sampai neneknya berkata lagi, dia sudah beranjak menyalakan lampu kamar, lalu mengambil sebuah buku di rak bukunya.

Perempuan berumur yang dipanggil Uti itu pun lalu pergi meninggalkan cucunya. Dia tahu, jika sudah membaca buku, cucunya tak mau diganggu. Kalau pun diajak bicara juga percuma. Cucunya tak akan menyahut.

“Ya sudah, nanti kalau mau makan, telur asinnya di meja dapur ya!” begitu katanya lagi lalu keluar tanpa menunggu jawaban.

Lila hanya memilah-milah buku di raknya. Tak ada satu pun yang menarik untuk dibaca. Dia lebih tertarik kembali duduk di samping jendela lalu kembali menatap mendung yang semakin menggantung.

Hujan deras menyerbu tanah yang lelah. Lila kembali membuka daun jendelanya. Dia hanya ingin membiarkan aroma tanah basah masuk memenuhi ruang kamarnya. Aroma yang membuatnya tenang, merasakan nikmat, dan bahagia. Jika mampu, dia bahkan ingin menyimpan beberapa hirup aroma tanah basah yang melimpah sore ini. Untuk dihirupnya nanti. Atau mungkin besok. Tapi dia hanya mampu menghirup sebanyak-banyaknya saat ini dan mungkin hanya mengingat-ingatnya jika nanti atau besok dia kembali membutuhkannya.

Konon, hujan mampu menyembunyikan air mata.

Tulisnya pada sebuah notebook, sebelum dia melanjutkan kalimatnya, dia memandang keluar. Diperhatikannya setiap butiran-butiran hujan. Kaca jendela mulai tertutup oleh embun. Lalu, embun itu mengalir, semakin ke bawah luncuran airnya semakin deras.

Jika memang benar, aku ingin hujan kali ini tak lekas berhenti. Hingga air mataku habis, melebur bersamanya.

Sedetik kemudian, dia melompati jendela. Berdiam di balik jendela. Matanya terpejam, tapi tubuhnya berguncang.

GAMBAR

Tagged:

11 thoughts on “Hujan

  1. Suri Nathalia 7 November 2011 at 1:56 PM Reply

    suri mau dun telur asin panggang dr Brebes juga😀

  2. Asop 5 November 2011 at 1:47 PM Reply

    Hmmmm hmmm saya pengen nyoba menangis di bawah hujan.😥

  3. Akhmad Muhaimin Azzet 27 October 2011 at 1:43 PM Reply

    kalo saya masih saja menunggu hujan yang entah turun kapan
    jadi, di manakah menyembunyikan air mata ini?

    • fawaizzah 27 October 2011 at 4:05 PM Reply

      sini sini Om, main-main ke Magetan. beberapa hari ini turun hujan.

      • Akhmad Muhaimin Azzet 3 November 2011 at 1:21 PM Reply

        dulu saat SLTA saya pernah jalan kaki dari plaosan ke cemoro sewu… adem rasanya… trus lanjut naik, eee di tengah jalan hujan deras, turun deh….

  4. ranselhitam 26 October 2011 at 12:49 PM Reply

    Hujaaaaaaaaan,,, dan hujan di Jogja masih labil, byar pet, aku belum benar2 menikmatinya😦

    • fawaizzah 27 October 2011 at 11:08 AM Reply

      sama mba sash, di Magetan jga masih labil. sekali ujan pake angin gede.

  5. Yoga PS 26 October 2011 at 12:38 PM Reply

    habis dihamili pacar yang kabur ya?

    • fawaizzah 27 October 2011 at 11:09 AM Reply

      lagian, mas yoga ngapain sih pake acara kabur2an sgla? sini balik!! #hlo haha

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: