Sepotong Kisah

“Masih ingat, cerita tentang mainan bebek plastik?” seorang pria yang tak muda lagi itu bersuara. “Kerja seharian penuh hasilnya hanya bisa untuk membeli sebuah mainan bebek plastik,” kini matanya menerawang, seperti sedang mengingat suatu kisah. “Ehh… malah pas sampe rumah, bebek (mainan)nya di beleh (sembelih), mau dibuat bebek goreng katamu. Hahaha….” Tawanya pecah. Aku jelas saja ikut tertawa, meski pandanganku menjadi buram, mataku berembun.  Kisah yang baru saja dipaparkan olehnya masih sangat tergambar jelas di kepalaku.

“Juga cerita tentang balsam itu?” kini giliran perempuan yang juga tak muda lagi menyahut. Aku tersenyum, “Sudah dibilang, jangan mainan balsam nanti kena mata. Lhaa kamunya malah banyak nanya. Kenapa? Kenapa?” aku tersenyum geli. “Baru aja ditinggal mlengos, sudah nyolekin balsam ke mata. Hahaha dari dulu kamu memang suka gitu.” Aku bahkan masih ingat bagaimana rasa pedas di mataku waktu itu.

“Juga tentang kaos Satria Baja Hitam?” celetukku. “Penjalukmu iku ora kenek disemayani,” seloroh perempuan yang kupanggil Ibu. “Dibilang nanti pasti dibeliin, eh malah pakai sakit tiga hari.” Rasanya ingin menimpali,”Habisnya kalo gak sakit dulu gak dibeliin” tapi aku urung. “Aku gak lupa kalo sudah njanjeni, tapi memang belum ada duit waktu itu.” Begitu imbuhnya. Rasanya aku juga tak pernah menampik akan hal itu, mungkin karena itulah aku sering mengubur banyak inginku untuk dibelikan ini itu. Jika sangat menginginkan sesuatu aku bilang sekali, dua kali, jika belum dibelikan juga untuk yang ketiga kalinya aku sakit. Jika sudah begitu, mereka tahu bahwa aku sangat ingin memilikinya. Ya, seperti memiliki kaos bergambar satria baja hitam.

Seingatku, Bapak tak pernah menciumku atau memeluku. Tapi aku tahu, dia sayang padaku. Bahkan dia sangat cemburu saat pertama kali aku ditelpon malam-malam oleh seorang pria. Dia marah. Seperti tak rela jika ada pria lain yang menyayangiku selain dirinya. Aku takut waktu itu. Itu pertama kalinya aku melihatnya marah, benar-benar marah. Meski akhirnya dia luluh juga, mungkin karena menyadari aku sudah beranjak dewasa.

Tentang Ibuku? Jika ada seorang perempuan sempurna di dunia ini, tak ada yang lain selain dirinya. Dia adalah perempuan tangguh. Yang tak pernah mengeluh.

Mereka membesarkanku dengan cara yang sederhana, tapi aku yakin, dalam kesederhanaan selalu ada hal luar biasa.

Senja di beranda rumah kali ini seakan sempurna dengan potongan-potongan kisah lalu yang kembali dikisahkan dengan keadaan yang jauh berbeda. Jauh lebih baik. Dengan banyak tawa, senyum, dan butiran air mata syukur.

Roda kehidupan terus berputar dan selalu berputar. Dan hidup adalah bagaimana kita mensyukurinya, bersabar dengan segala lika-likunya dan selalu mencoba untuk ikhlas atas setiap keputusan-Nya.

8 thoughts on “Sepotong Kisah

  1. Autumn Hawkins Portegosa 20 January 2012 at 12:12 PM Reply

    Dan yang aku gelisahkan adalah bagaimana kalau kita mati sia sia ditengah gurun ini ” ujar Darlan dan Aruf hanyalah tersenyum.

  2. Suri Nathalia 7 November 2011 at 2:07 PM Reply

    hahahahahha.. kasihan amat tuh bebek😆

  3. olivia g 20 October 2011 at 6:49 PM Reply

    mau nangis bacanya. sesuatu yang udah gak mungkin gw milikin😥

  4. sash 19 October 2011 at 12:49 PM Reply

    Mendadak saya jadi merindukan senja di beranda bersama bapak & simbok tercinta. Berbincang tentang apa saja, mulai dari masa lalu, sekarang, dan impian-impian di masa mendatang. Kangen rumah, kangen bapak simbok, tapi sedang tidak ingin pulang….

    • fawaizzah 19 October 2011 at 1:52 PM Reply

      senja di beranda, bersama mereka. ditemani teh hangat dan singkong goreng. cerita2 mengalir…
      pasti semua orang menyukai momen seperti itu ya mba sash🙂

      • irfan handi 20 October 2011 at 9:04 AM Reply

        Saya juga suka suasana seoerti ini neng.
        jadi kangen sama semua.

        • fawaizzah 20 October 2011 at 10:45 AM Reply

          ya, semua orang akan suka🙂

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: