Wedang Ronde, Di 0 Km, Di pukul 00:00

“Pak, wedang rondenya  kalih njih!”

Njih mas, mangga pinarak riyin.”

Sudah pukul setengah dua belas malam sekarang, sedang aku dan kamu masih belum berdamai dengan rasa kantuk. Masih menikmati malam Jogja yang tak pernah tidur. Di 0 km, di bawah bungkus nasi kucing raksasa ini kita duduk. Menghirup setiap jengkal udara malam yang mungkin kurang sehat. Kadang udara itu sedikit tercampur dengan bau kotoran kuda, dan tak jarang asap rokok ikut masuk memenuhi rongga paru. Ya, kurang sehat memang, tapi apalah artinya itu jika sudah bersamamu.

Mangga wedang rondenya mas, mba!”

Injih, suwun Pak...”

“Aku tidak suka kacangnya, kamu mau?” aku memang sedikit sensitive dengan kacang, makan sedikit saja, jerawatku tumbuh tak terkendali.

“Oh iya, aku tadi lupa mesenin tanpa kacang buat kamu. Sini buat aku aja kacangnya!” katamu yang langsung kususul dengan menyendokkan kacang dari mangkokku ke mangkok rondemu.

“Menikmati wedang ronde disini tak pernah tergantikan ditempat mana pun. Tempat ini begitu sempurna. Bagaimana menurutmu?” tanyamu, masih dengan mengunyah roti tawar yang kuyup oleh kuah manis hangat khas jahe.

“Yang bener saja? Jangan-jangan itu karena kamu belum pernah menikmati wedang ronde ditempat lain?”

“Enak aja, kamu kira wedang ronde hanya ada di Jogja?” kamu bersungut, dengan kacang yang remuk oleh kunyahan gerahammu.

“Hehehe gitu aja ngambek, bukannya dimana-mana wedang ronde itu sama. Ada kacang, ada roti, ada bawang goreng, ada ronde, ada hangatnya jahe, ada arome sereh?”

“Iya, tapi suasanya itu beda sayaang, Jogja itu sempurna. Pas momentnya, pas suasananya, pas ada kamunya, hehehe…”

“Kalau misalnya aku tak ada, apa Jogja masih tetap sempurna?”

“Mungkin Jogja tak sesempurna hari ini, tapi aku kira Jogja masih tetap istimewa. Kamu ada maupun tidak😛 ” katamu, yang membuatku manyun seketika. Kamu selalu begitu, kelewat jujur!

Tidak ada lagi obrolan, kita tenggelam dalam suasana malam di Jogja. Pemuda-pemudi yang nongkrong di bangku-bangku trotoar, para penjaja makanan yang sesekali menghampiri, menawarkan jajanannya. Ada para abang becak yang mengayuh dengan penumpang di becaknya, sebagian lagi duduk menopang dagu di sadel becak yang terparkir di pinggir jalan. Bulan tengah bundar sempurna malam ini. Mungkin ini yang membuat Jogja nampak sempurna. Istimewa.

“Malam ini aku terakhir di Jogja.” Katamu tiba-tiba.

“Terakhir? Maksudmu?”

“Ya, besok aku harus pulang ke Surabaya. Kerjaanku sudah beres di sini, dan aku harus segera kembali ke kantor pusat.” Kamu dengan santainya.

“Secepat itu? Kenapa baru bilang padaku hari ini?” mulai tidak santai.

“Hehehe aku tahu kamu. Jika aku bilang padamu mulai kemarin-kemarin, kamu tidak akan mau bertemu denganku. Dan dengan begitu, aku tidak bisa kembali ke Surabaya.”

“Oh ya?”

“Tentu saja, bagaimana aku akan hidup tenang di Surabaya jika kamu tak membekaliku senyummu itu?”

“Haha kembalilah, aku akan membekalimu sekeranjang senyumku.”

“Kamu bahkan tidak sedih…”

“Karena aku yakin, cinta kan membawamu kembali di sini. Di 0 km, di pukul 00.00, di bawah bungkus nasi kucing raksasa. Aku, Jogja dan wedang ronde kelewat istimewa untuk kamu lupakan begitu saja.”

Tagged: , , , ,

27 thoughts on “Wedang Ronde, Di 0 Km, Di pukul 00:00

  1. aris 5 October 2011 at 9:32 PM Reply

    iso wae….

    sippp lanjutkan tiiiee….

  2. Akhmad Muhaimin Azzet 4 October 2011 at 3:14 PM Reply

    hehe… waktu itu di 0 km masih ada nasi bungkus buesar ya…. sekarang sudah ga ada… entah siapa yang makan… hehe… jogja pancen oye….

    • fawaizzah 6 October 2011 at 11:09 AM Reply

      iya Om, kemarin terakhir ke Jogja bungkus nasi kucing raksasanya udah gak ada di 0 km🙂

  3. mygoodnessolivia 1 October 2011 at 6:18 AM Reply

    based on true stories?😉
    romantis, hangat, dan…. Jogja.

    • fawaizzah 3 October 2011 at 6:24 PM Reply

      hanya setting tempat dan waktunya yg based on true stories😀, selebihnya fiksi.
      yah Jogja!!

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: