Layang-layang

“Lalu, apa yang harus aku lakukan untuk menebus salahku?”

“Buatkan aku layang-layang berbentuk hati.”

“Dengan warna kertas merah marun? dan lampu biru terang di tengahnya?”

Aku mengangguk

 ~~*~~

Aku tak mengerti, mengapa sebagian orang sangat mudah sekali melupakan janji. Ah tepatnya, sebagian orang dengan mudah berjanji dan dengan mudah pula ingkar. Kau salah jika berfikir aku ini hendak membicarakan para politisi. Bukan. Bukan tentang politisi yang acap kali mengumbar janji. Aku tak begitu tahu dengan mereka – para politisi – dan kupikir, aku tak perlu mencari tahu tentangnya.

Seseorang dengan mudah berjanji hanya untuk luluhkan hati, lalu hati pun berkeping saat ternyata janji tak tertepati. Lupa. Ya, biasanya itu alibi sebagian besar orang. Atau mereka memang pura-pura lupa juga pura-pura berjanji? Jahatnya. Jika banyak orang tahu, bahwa tak semua orang dengan mudah melupakan apa-apa yang pernah dijanjikan untuknya. Mungkin, akan lebih sedikit orang yang akan dengan mudah berjanji dan mengingkarinya.

“Aku akan kembali, bahkan sebelum kamu membuka matamu esok pagi.”

“Janji?!”

Kau tak menjawab. Hanya mengangguk mantab.

Esok paginya, hatiku berdesir. Antara menunggu kecupan kecilnya dan kenyataan bahwa dia tak ada. Ya dia tak kembali. Maksudku, dia belum kembali. Sebenarnya aku tahu, dia tak akan kembali secepat itu. Aku tahu dan sadar itu. Tapi aku masih saja berharap, jika saat kubangun pagi ini, aku mendapatinya mengecup keningku atau masih meringkuk di sampingku. Berharap, janjinya benar-benar terpenuhi. Arrgh….

“Kaan beneer, aku sudah pulang sekarang. Aku bahkan pulang lebih cepat dari jadwal yang semestinya.”

Aku tak menjawab. Hatiku masih sibuk dengan rasa sesak. Sesak karena marah dan rindu. Dia bilang, dia pulang bahkan sebelum aku membuka mataku keesokan pagi setelah dia pergi. Nyatanya, sudah tiga puluh pagi aku membuka mata, tapi tak mendapatinya ada. Bahkan aku tak menghitung pagi dimana aku tak tidur semalaman.

Parahnya, dia tak mengerti arti diamku. Dia kembali sibuk dengan dirinya tanpa mengetahui bahwa rinduku nyaris membeku. Dan aku semakin marah karena dia tak juga memelukku.

 ~~*~~

Di bawah pohon trembesi, dipinggir aliran irigasi, aku memandanginya yang tengah berlari. Mencoba menerbangkan layang-layang berbentuk hati, berwarna merah marun dengan lampu biru terang di tangahnya.

“Pastikan dia bisa terbang tepat setelah senja!” teriakku.

Tagged:

One thought on “Layang-layang

  1. Aziz Safa 20 September 2011 at 9:55 AM Reply

    al-wa’du dainun ‘janji itu utang’; dan utang itu harus ditunaikan…

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: