Tentang Khataman Al-Quran

Horaaayy…. Akhirnya perhelatan khataman Al-Quran bakalan positif dilaksanakan juga tahun ini. Setelah tahun kemaren absen lantaran yang ikut khataman cuma beberapa gelintir anak saja. Awalnya, perhelatan khataman Qur’an ini akan diadakan pada bulan Juni kemarin, dibarengkan dengan peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, seperti tahun-tahun sebelumnya. Tapi karena ada beberapa pertimbangan, akhirnya perayaan khatam Qur’an pun diundur hingga lepas hari raya Idul Fitri.

Acara khataman tahun ini akan sedikit berbeda dengan khataman di tahun-tahun sebelumnya. Pertama, jika tahun-tahun sebelumnya acara khataman bareng dengan peringatan Isra’ Mi’raj (bulan Rojab), maka tahun ini bareng halal bihalal di hari raya Idul Fitri (bulan Syawal). Kedua, bukan hanya anak-anak yang khatam Al-Qur’an yang di khatami (bahasa enaknya apa ya?), tapi juga anak-anak yang sudah khatam Iqro’ dan Juz Ama.

Ketiga, anak-anak yang khatam Qur’an maupun yang khatam Iqro’ akan mendapatkan syahadah (ijazah) dan kalung wisuda yang ada foto mereka. Keempat, jika perhelatan acara tahunan ini sebelum-sebelumnya ada di depan Madin (Madrasah Diniyah), maka tahun ini panggung acara berada di depan Masjid Akbar Al Amiriyah. Masjid baru yang baru setengah jadi, tempatnya berada di belakang Madin yang dulu merupakan area sawah/tegal. Kelima, jika dulu yang khataman cuma disuruh menghafal surat-surat pendek mulai surat At-takasur sampai surat An-naas, kini mereka harus sudah hafal surat Yasiin.

Bicara soal Al-Quran, saya jadi teringat 2 kejadian yang membuat saya sedikit mangkel. Sebelumnya, saya ingin tegaskan bahwasanya saya bukan ahli Qur’an, bukan orang yang sudah pinter baca Qur’an pun bukan guru ngaji Qur’an. Orang tua saya juga bukan ustad/ustadzah, bukan pemuka agama, pun tahu / pinter masalah agama. Saya hanya seorang awam yang pernah ngaji Al-Quran di sebuah Madin yang letaknya dekat dengan rumah saya.

Saya membutuhkan waktu beberapa tahun untuk bisa ikut serta dalam acara khataman Qur’an. Berdiri di panggung, menghapal surat-surat pendek dan juga tahlil. Setelah itu pun, masih harus belajar bersama dengan adik-adik yang belum khatam. Menyimak ngaji mereka setiap sore, sambil terus belajar memperbaiki tajwid dan ma’rajnya. Guru ngaji saya adalah seorang yang hafis Qur’an, seorang putri dari (Alm.) Kyai Sodri di Banyuwangi. Wajar saja, beliau sangat teliti dan keras tentang kesalahan-kesalahan kecil dalam membaca Al-Quran. Hal tersebut membuat saya dan teman-teman yang lain kritis dalam menyimak adik-adik.

Meski telah beberapa tahun berlalu, dan saya tak lagi aktif di Madin, tapi tetap saja, rasa kritis dalam menyimak Al-Quran itu masih melekat dalam diri saya. Rasanya ada yang memberontak, jika saya diam saja ketika saya menemukan kesalahan beberapa bacaan yang kurang tepat dibaca saat menyimak seorang mengaji Al-Quran.

Seperti halnya beberapa waktu lalu, masih dalam bulan puasa ini. Seorang yang bisa dibilang sebagai pemuka agama, bu nyai, bertahun-tahun mondok di sebuah pondok pesantren, dalam membaca Al-Qur’an ada beberapa bacaan yang kurang tepat. Setidaknya dengan apa yang pernah saya pelajari. Bu nyai itu membaca bacaan hanya dengan panjang satu harakat, yang semestinya dibaca dua harokat. Tajwidnya pun tidak diperhatikan. Dan itu terjadi berulang-ulang. Ketika dibenarkan, kalian tahu apa yang beliau katakan? Beliau bilang,”Halah, lhawong Allah kan Maha Rahman dan Rahim

Allah memang Maha Rahman dan Rahim, tapi bukan berarti kita akan melakukan kesalahan-kesalahan yang sama, bukan? Apalagi jika kita tahu itu adalah salah. Sebuah alasan (jawaban) yang kurang pas menurut saya, lebih-lebih jika ungkapan itu dari beliau. Yang notabennya seorang bu nyai dan pemuka agama di desa saya.

Satu hal lagi adalah, ketika saya menemani kakak yang mengikuti sebuah rapat pertemuan pengurus Madin & TPA tingkat Kecamatan, beberapa bulan lalu. Ketua LKP2 TPA (Lembaga Koordinasi Pembinaan Pengembangan Taman Pendidikan Al-Qur’an) menyatakan demikian,”Bapak-bapak dan Ibu-Ibu, usahakan anak-anak didik kita sudah khatam Al-Quran sebelum dia memasuki SMP. Karena, jika sudah masuk SMP, anak-anak menjadi malas ke TPA. Jadi tiap hari itu, suruh saja anak-anak nderes (ngaji) sendiri sebanyak-banyaknya. Seperti di TPA saya, anak-anak saya minta untuk nderes dewe sebanyak mungkin. Jadi sebelum mereka SMP, mereka sudah khatam ada yang lebih dari 4 kali.”

Jujur, dalam hati saya berontak, ingin rasanya berteriak,”Hei!!! Sebegitu pentingnyakah sebuah kuantitas tanpa dibarengi kualitas!! Ini Al Qur’an Pak!!” Tapi rasa tidak percaya diri saya melebihi rasa ingin berteriak saya. “Siapa sih kamu?” Begitu kira-kira ketidakpercayaan diri saya membisik.

Bayangkan, jika semua ustad / ustadzah yang hadir di sana melakukan apa yang ketua mereka sarankan?! Saya tidak mau membayangkan, silahkan anda membayangkannya sendiri.😛

Sudah ah, ngocehnya. Btw, tanggal 10 September nanti hadir yak ke Madin kami. Akan ada sedikit persembahan dari kami, sebuah drama sederhana yang akan diperankan oleh anak-anak Madin. Juga ada Drs. K.H. HUSEN MA’ARIF dari Blitar sebagai pembicaranya.

Masjid Akbar Al-Amiriyah

Foto-foto lain tentang Madin ada di SINI.

Tagged: , ,

2 thoughts on “Tentang Khataman Al-Quran

  1. Yoga PS 1 September 2011 at 7:07 PM Reply

    waduhhhh ak rung tau kataman jeeeee

    • fawaizzah 3 September 2011 at 10:00 AM Reply

      ayo mas, tgl 10 nang gonku. mengko dikatami bareng arek2😛

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: