Ruang Sempurna

Aroma wangi mulai tercium saat kita memasuki jalan di tepi hutan pinus. Aroma yang seksi kataku. Dan kau hanya tersenyum, ah tapi senyummu lebih nampak seperti sedang mengulum tawa. Kaca spion kiri yang sengaja kau arahkan tepat ke wajahku itu memudahkan aku untuk menatapmu, meski aku berada di boncengan dan kau menyetir di depan. Aku selalu menelisik ekspresimu dalam berkendara, yang kadang-kadang mencuri pandang ke spion, melempar senyummu pada bayangan wajahku yang ada di sana. Kadang aku malu, tapi aku suka itu.

“Jalan di depan curam, sayang, kadang juga menanjak dan berkelak-kelok tajam.” katamu, di balik kaca helm warna oranye. Aku masih diam, menunggu kamu yang mungkin akan melanjutkan kalimat itu.

“Tapi gak usah takut, aku sudah lihai dengan jalanan seperti itu.” lanjutmu. Lalu aku tersenyum, ke arah spion kirimu.

“Apalah makna rasa takut jika aku bersamamu,” bisikku. Dan lagi-lagi kau tersenyum. Apa kau tahu, senyummu itu sungguh memabukkanku. Barisan gigi putih bersih, tapi tak rapi. Dua gigi depanmu nyaris seperti gigi kelinci, sedang satu gigi di antara gigi tengah dan gigi taringmu itu sedikit nakal. Tak mau tumbuh lurus, justru miring ke kiri. Tapi gigi miringmu itu yang mambuatku suka senyummu.

“Kenapa? Kenapa kau tak pernah merasa takut jika bersamaku?” tanyamu, masih dibalik kaca helm berwarna orangye.

“Kenapa? Hehe mungkin karena tubuhmu layaknya seorang bodyguard seperti yang di film-film. Sorot matamu tajam seperti elang, hingga tak akan ada yang berani membuatku sakit jika bersamamu.” Lalu kita tertawa. Suara tawa yang berbaur dengan deru motor yang kita kendarai. Lalu hilang, meninggalkan suara deru motor yang masih meraung sendirian.

Kenapa aku tak pernah takut jika bersamamu? Hmm entahlah mungkin hal itu karena aku kadung percaya padamu. Percaya bahwa kamu adalah hal terbaik yang aku punya. Dan aku pun percaya bahwa kau pun akan memberikan yang terbaik pula untukku. Untuk kita juga tentunya.

Aroma pohon pinus yang wangi masih mendominasi, jalan yang berkelak-kelok juga tak kunjung henti. Sesekali jalanan menanjak, kadang juga curam. Sesekali kita berhenti di tepian jurang yang curam, menikmati pemandangan yang maha agung. Dan semakin tunduklah kita pada kuasa Sang Pencipta.

“Tuhan menciptakan alam dengan begitu indah, mengagumkan,” kataku, sambil manatap takjub pada apa yang berada di depan mata, sejauh mata memandang. Lembah yang luas, terselimuti kabut tipis, dan gunung yang menjulang gagah.

“Dan alam ini pun semakin sempurna dengan kehadiranmu, di sampingku.” bisikmu, seraya kau genggam hangat jemariku yang mulai membeku oleh dingin yang menusuk-nusuk. Aku selalu suka caramu memperlakukanku. Kau hangat, penuh kasih.

Perjalanan kembali dilanjutkan, kita pun kembali menyatu bersama kabut tipis yang dingin dan deru motor yang meraung.

“Sayang, kita telah sampai.” bisikmu. Segera kau parkir sepeda motormu, lalu kau gandeng aku dengan penuh senyum kemenangan.

“Ini indah. Ini sempurna.” kataku, yang kau sambut dengan genggaman jemarimu yang semakin erat. Di ujung jalan ini, sebuah bangunan yang tak megah tapi indah berdiri kokoh. Ke tempat itu, kamu menggandeng tanganku. Memasukinya.

“Kau lihat, pemandangan yang ada di balik jendela ini. Kau bisa leluasa menikmati angsa berenang di telaga sambil berpagutan, ya dari sini. Kau pun bisa melihat kabut yang turun kemudian menutup permukaan telaga itu. Bahkan, saat pagi, saat kau baru membuka matamu, kau pasti akan takjub dengan mentari pagi yang menginmtipmu dari balik puncak gunung itu.” katamu bersemangat dengan mata berbinar-binar.

“Kemari!! Kemarilah sayang!” katamu, dari bilik lain tapi masih dalam ruangan yang sama.

“Saat senja tiba, kau bisa menikmati langit senja dan lingkaran penuh matahari sore yang tenggelam di lembah itu! Diantara bukit itu dan gunung itu.” katamu, masih dengan mata berbinar.

“Seperti yang kubilang tadi, tempat ini sempurna, sayang!” kataku, tak kalah berbinar darimu.

“Aku tahu, kau pasti akan suka ini.” Katamu lagi, tapi tatapanmu nampak menerawang jauh, sejauh puncak gunung tertinggi itu.

“Tapi kapan, kita akan menikmati ini semua bersama?” tanyaku ragu bercampur malu.

“Tak akan lama lagi sayang, tentunya setelah sebuah cincin bermata satu melingkar di jemari manismu!” yakinmu sambil mendaratkan kecupan manis tepat di ubun-ubunku.

Telaga di tengah gunung, 0707..

Tagged: , ,

16 thoughts on “Ruang Sempurna

  1. maucokelat 25 August 2011 at 2:30 PM Reply

    ucek2 mata, gak nyangka😀

  2. guess who! 17 August 2011 at 7:09 PM Reply

    aiiihhhh… so sweettttt!!!😀

    • fawaizzah 25 August 2011 at 2:46 PM Reply

      aih… si embak cantik, kok nyasar sampe sini. hiihih

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: