Sekantung Aroma Tanah Basah

Daun jati nampak kering, sebagian lainnya berjatuhan, kadang terbang jika angin datang menyapunya. Sudah beberapa bulan ini tak ada hujan. Gerimis pun tidak. Suara pompa di sawah menjadi melodi yang akrab jika sudah begini. Ya, dari mana lagi sawah-sawah pak tani itu mendapatkan air jika tak menggunakan pompa diesel. Burung-burung Prenjak yang biasa bersiul tiap pagi di pohon-pohom bambu semakin jarang terdengar. Tetesan embun pun kini semakin cepat mongering, bahkan hawa sejuknya tak sampai di pukul 6 pagi.

Semua menjadi kering, tandus. Tak ada tetesan air dari genteng yang bocor. Tak ada basah-basahan mandi di guyuran hujan dan tak ada lagi aroma tanah basah. Dulu, saat hujan tiada henti mengguyur, tak sedikit yang mengumpat. Tak sedikit juga yang berkeluh kesah pada Tuhan. Memang, kadang sesuatu jika hadir terlalu sering itu menjadi tidak baik, suka ditepis, suka dibenci. Tapi jika sudah tak ada sama sekali seperti ini, menjadi hal yang paling dicari, dirindukan. Ya, tak jauh beda dengan keberadaan Satya.

Ah Satya. Dulu dia terlalu sering hadir. Aku menjadi muak karenanya. Kehadiarannya acap kali tak tahu waktu. Dia hadir kapan pun dia mau. Tak peduli aku sedang tak ingin bertemu atau hanya sekedar jemu. Aku sering bersembunyi, lari dari kehadirannya. Berharap dia akan segera pulang jika tak menemukanku. Tapi dia keras kepala. Dia menungguku sampai aku lelah bersembunyi. Dan yang paling menyebalkan, aku selalu tak tega membuatnya menunggu. Lalu aku pun terkena candu.

Namanya Satya. Satya Anggara. Seorang lelaki bertubuh atletis berambut cepak. Aku mengenalnya 4 tahun lalu. Dari sebuah dering telpon salah sambung. Ah, andai aku tak bodoh waktu itu, mungkin aku tak akan salah melafal nomor telpon temanku dan aku tak akan pernah mengenalnya. Dia santun, keras kepala, lucu. Tapi tak jarang lucunya garing. Meski begitu, aku selalu tertawa. Entahlah, aku kadang tak mengerti apa yang membuatku tertawa. Tapi bersamanya sering membuatku nyaman dan aman. Rasa yang sulit kutemukan jika aku bersama orang lain.

Perlahan tapi pasti dia membuatku jatuh. Ya, jatuh cinta padanya. Dia membuatku begitu terbuka tentang apapun mengenai diriku. Tak ada sungkan untuk berkeluh kesah atau sekedar bercerita tentang kegiatan tak bermutuku seharian ini. Aku senang mendengarkan ceritanya. Tentang pekerjaannya, tentang keluarganya, teman-temannya dan apa pun yang keluar dari mulutnya. Aku akan dengan senang hati mendengarkannya.

Tapi tidak, saat dia berbicara tentang rencananya untuk meninggalkanku. Ahh aku merasa dia menjadi monster. Dia menjadi sangat jahat. Bagaimana mungkin dia berkata dia akan meninggalkanku setelah sebelumnya dia begitu getol membuatku jatuh cinta padanya. Bagaimana mungkin?

“Jangan pernah takut pada apapun, meski itu adalah sebuah perpisahan.” Ucapnya, sambil membelai lembut rambutku. Aku tak menjawab. Hanya diam dengan segunung kata yang tak mampu aku ucapkan. Seakan kata-kata itu mengental di tenggorokanku dan aku tak lagi bisa berkata barang sepatah. Bahkan, tangisku tak bisa pecah.

Lalu dia pergi. Tak ada lagi kabar. Bahkan kejelasan tentang rasanya padaku, pun sebaliknya. Aku menunggu. Terus menunggu dengan harapan dia kembali dengan rasa yang sama. Atau bahkan lebih. Dengan harapan baru tentang sebuah masa yang akan kami jalin bersama. Berdua. Tapi nyatanya dia tak kunjung pulang. Sedang aku mulai limbung, mulai kehilangan sebuah rasa agung padanya. Ya sebuah rasa cinta dan kepercayaan yang selalu kujunjung tinggi. Rasa yang tak pernah kukuliti meski beberapa hati datang dan pergi mengetuk, tuk singgah atau sekedar bertamu.

“Maafkan aku, kumohon kau mencari penggantiku. Orang yang lebih baik dariku.” sebuah e-mail pendek kuterima. Sebuah e-mail yang kuyakini itu darinya. Ya, dari Satya Anggara. Aku hafal betul alamat e-mail itu. Aku berkali-kali mengirimkan prosa rinduku untuknya, ke alamat e-mail itu. Namun tak satupun terbalas. Dan kini dia membalasnya namun memintaku untuk mencari penggantinya? Dia bercanda. Ya, dia bercanda kukira. Bahkan tak ada sebait kata rindu yang seperti biasanya. Seperti beberapa tahun lalu. Ya, dia sedang guyon.

Aku senang mendapat kabar darinya, meskipun nyatanya itu bukanlah sebuah kabar. Tapi setidaknya, dia menghubungiku. Dan apa yang dia sampaikan, mungkin bagian dari guyonan garing yang biasa dia lakukan. Ya, aku yakin dia hanya bercanda. Sebelum sebuah dering telpon berbunyi dan suara yang sekian lama tak kudengar itu tiba-tiba menyapa.

Oh Tuhan!! Bukan main betapa senangnya aku waktu itu. Segera serbuan pertanyaan kuluncurkan untuknya. Tentang kabarnya, kesehatannya, tentang sakit magnya yang masih sering kambuh dan tentang alasannya pergi. Karena waktu itu, aku tak punya cukup kekuatan untuk mengetahui alasannya. Tapi dia tak seperti biasa. Tak seperti beberapa tahun lalu yang sering melempar tawa. Dia diam. Lalu berkata,”Maaf kita sudah tak punya hubungan lagi”.

Seketika aku tak mempu berfikir. Otakku terasa mati. Atau seperti komputer yang sedang hang. Mulutku terkatup rapat. Aku tak mengerti. Dan semakin tak mengerti setelah dia menutup telpon dan tak lagi bisa dihubungi. Jantung yang tadinya bertetak kencang karena senang mendengar suaranya, kini berdetak makin kencang dengan apa yang dia katakan. Aku hidup, tapi bagai mati. Kesetiaanku tak dihargai.

Aku menjadi seperti orang bodoh. Tak ada kegiatan berarti selain mengeleparkan diri di atas ranjang. Sesekali sesenggukan. Lalu menertawakan diri dengan lantang. Dan ketika inilah kawan begitu sangat dibutuhkan. Aku beruntung mempunyai banyak kawan. Mereka datang untuk sekedar bertanya kabar atau mengajak jalan-jalan. Aku bersyukur karena aku memiliki mereka. Dan aku bersyukur mampu melewati itu semua.

***

“Apa yang kau tunggu, kemarilah!” seseorang yang baru. Benar-benar baru dalam hidupku mengulurkan tangan. Mengajak menari bersama sisa-sisa hujan.

“Aku bawakan sesutau untukmu.” Katanya, di bawah jendela kamarku yang terbuka.

“Apa?”

“Sekantung aroma tanah basah.”

Sisa-sisa hujan

 Sumber Gambar

Tagged: ,

5 thoughts on “Sekantung Aroma Tanah Basah

  1. Asop 11 August 2011 at 11:57 AM Reply

    Tanah basah…? Becek dong? Huh!😡

  2. sha 6 August 2011 at 5:10 PM Reply

    siapa orang baru itu? ayo ceritakan lebih jauh😛

    • belindch 9 August 2011 at 5:22 AM Reply

      becuuul..ditunggu sekuelnya..hahahay…

      • fawaizzah 12 August 2011 at 11:40 AM Reply

        jangan ada cemburu diantara kita #eaaa

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: