Jodoh Dei

Malam itu nampak hening, sisa-sisa hujan masih terasa basah di luar jendela sana. Sesekali angin memaksa menerobos masuk melalui celah jendela yang tertutup. Membawa aroma tanah yang harum. Sejak kecil Dei suka bau tanah. Dei suka hujan. Tapi Dei tak pernah ikut serta berhujan-hujanan dengan kawan-kawannya saat sore, saat hujan menjadi sebuah pesta meriah seusai membakar kedelai. Membakar kedelai yang masih bersama pohonnya itu adalah rutinitas yang menyenangkan jika musim panen kedelai tiba. Dei suka itu, meskipun setelahnya, wajahnya tercoreng moreng oleh angus, arang batang kedelai setelah dibakar. Hujan setelah pesta bakar kedelai itu yang paling Dei dan kawan-kawannya tunggu. Mereka bisa langsung membasuh coreng moreng diwajahnya dengan air hujan. Tapi Dei jarang ikut pesta kedua setelah bakar kedelai. “Jangan hujan-hujanan, nanti kamu sakit.” Begitu kata ibunya.

Aroma tanah selepas hujan, sering kali membawanya ke masa itu. Masa dimana dia tak harus berpikir lama untuk menentukan sesuatu. Masa dimana ia tak pernah takut untuk menatap masa depannya. Masa dimana dia tak parnah takut untuk bermimpi, bercita-cita. Tapi waktu terus berputar, denting jam terus berbunyi, dan lembar kalender terus berganti. Dei tak akan selamanya dimasa itu. Remaja dan dewasa. Setiap masa mempunyai kisahnya sendiri-sendiri. Meski dewasa Dei tak seindah mimpinya sewaktu kecil dulu, tapi dia yakin, kisahnya akan lebih istimewa. Hanya saja, bukan sekarang. Mungkin nanti, ya mungkin nanti.

“Apa istimewanya dia sampai sulit terganti? Jangan sia-siakan waktu untuk sesuatu yang tak akan pernah kembali.” Nasihat ibunya kepada Dei ketika dia menatap lekat sisa hujan di luar jendela. Ya, Ibu Dei tak pernah meleset menebak pikiran Dei. Mungkin itulah yang dinamakan ikatan batin antara Ibu dan anak gadisnya. Jika sudah begitu, Dei hanya bisa diam. Dia ingin membiarkan air matanya jatuh. Tapi tidak, itu hanya akan membuatnya semakin nampak lemah.

“Aku tak menantinya, hanya saja aku belum menemukan seseorang yang benar-benar tepat untuk menggantikannya.” Begitu jawab Dei pelan. Berharap Ibunya bisa mengerti bahwa dia juga tak ingin selamanya sendiri.

“Bagaimana mungkin kamu tahu mereka yang datang kemari itu tepat atau tidak sedang kamu tak mau mengenalnya, bahkan menemuinya.” Kata Ibu Dei, lebih terdengar seperti menuduh. Dei jengah jika sudah begini. Tak ada yang mampu mengertinya. Jika sudah seperti ini, dia memilih untuk diam saja. Percuma kalau pun dia mendebat. Alasannya selalu dianggap tak tepat.

“Yang seperti apa?” kadang dia juga bingung untuk menjawab pertanyaan ini. Bahkan dia sendiri sering juga ikut bertanya,”Yang seperti apa?” sebuah pertanyaan yang sederhana, tapi jawabannya tentu tak sesederhana itu.

Dei sebenernya belumnya terlalu matang, dia adalah gadis yang baru saja lulus ujian remaja. Umurnya baru 20an tahun, tapi desakan untuk segera mendapatkan pasangan selalu menghujaninya dari segala arah. Lebih-lebih, hanya beberapa gelintir saja teman sepermainannya yang sampai sekarang belum juga menikah. Sebagian besar kawannya sudah menggendong putra-putri mereka. Tapi mau gimana lagi, Dei belum menemukan orang yang tepat untuk menyandingnya.

Menikah bukan perkara mudah, tentu saja dia harus memikirkan setiap detailnya. Detail calon pasangannya, bagaimana perangainya, baikkah dia, darimana dia berasal. Dia harus mempertimbangkan itu. Dei juga berpikir tentang keuangannya. Keuangan yang dia miliki maupun yang calon pasangannya miliki. Bukan berarti dia matre, bukan. Tapi dia tak mampu memungkiri jika hidupnya setelah menikah membutuhkan ‘penghidupan’. Setelah menikah itulah, sesungguhnya kehidupan yang sebenarnya baru akan dia mulai. Begitu pikir Dei. Masa depannya tak akan dia pertaruhkan hanya karena dia salah memilih.

Pria yang seperti ingin Dei, yang sempurna tentu saja jarang ada. Kalau pun ada, belum tentu itu akan menjadi jodoh Dei. Tapi setidaknya, itu yang dia pinta dari Tuhan seusai sujudnya. Bukan pria yang telah sukses, tapi pria yang mau bekerja keras untuk sukses. Bukan pria kaya raya tapi pria yang bersahaja. Mempunyai kreatifitas untuk membuat inovasi demi hidupnya sendiri juga hidupnya nanti. Dan pria tanpa bau nikotin dari mulutnya.

“Besok, Pakdhe Nur mau ke sini. Dia mau mengenalkan teman anaknya yang sudah jadi pegawai negeri itu padamu!”

“Tuhan, satu hal yang saya lupa untuk kuminta dari-Mu. Ya, jangan jodohkan saya dengan seorang pegawai negeri.” Dei berbisik.

Tagged:

18 thoughts on “Jodoh Dei

  1. maseko cahyo 25 July 2011 at 3:19 PM Reply

    ya tuhan jodohkan saya dengan dia, kalo dia bukan jodohku,.. adeknya juga gak apa2..

    • fawaizzah 26 July 2011 at 9:42 AM Reply

      hahaha perlu diaminin ga ya?
      adeknya dia, laki. mau?😆

      • maseko cahyo 26 July 2011 at 12:03 PM Reply

        nggak.. ada adeknya lagi.. cewek.. masih SMP..😛

        • fawaizzah 26 July 2011 at 12:14 PM Reply

          cewek SMP mana mau sama yang sudah bangkotan? hahaha :p

  2. maucokelat 20 July 2011 at 10:40 PM Reply

    Diluar ide ceritamu yg sederhana tp luarbiasa, sepengetahuanku iki tulisanmu sing paling apik, jempol kalih🙂

    • fawaizzah 21 July 2011 at 10:17 AM Reply

      gak tahu mesti bales komen ini gimana #terharu #brebesmili

  3. Asop 20 July 2011 at 7:45 PM Reply

    Aroma tanah saat hujan itu nikmat, tapi aroma matahari yang tercium dari pakaian yang baru terjemur juga enak…😳

    • fawaizzah 21 July 2011 at 10:15 AM Reply

      bau rambut setelah berpanas-panasan juga harum🙂

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: