Canting, 1000 Burung Kertas dan Studio Biru

Kawan, hari ini saya ingin sedikit bercerita tantang Canting, 1000 burung kertas dan Sanggar Anak Studio Biru. Sanggar Anak Studio Biru adalah sebuah sanggar yang berada di Padukuhan Sengir, Bokoharjo, Prambanan, Sleman, DIY.  Dulu, Sanggar ini merupakan shelter untuk pendampingan anak-anak usai bencana gempa terjadi di daerah ini pada tahun 2006 silam. Di sini anak-anak diberikan trauma healing untuk mengembalikan keceriaan mereka. Sedikit memudarkan ketakutan mereka atas bencana yang telah memporak-porandakan tempat tinggalnya.

Bencana telah pergi, tapi Sanggar Anak Studio Biru itu masih tak beranjak dari tempatnya. Di sana, anak-anak bermain dan belajar. Menggali kreatifitas dan imajinya dengan bimbingan Mas Rendra. Mas Rendra adalah pengasuh sanggar tersebut. Meski dengan segala keterbatasan, Mas Rendra berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk anak-anak asuhnya.

Jika kita membicarakan Sanggar, mungkin bayangan kita menggambarkan bahwa sanggar itu adalah tempat yang bagus, menyenangkan dan semua fasilitas ada. Tapi tidak dengan Sanggar Anak Studio Biru. Sanggar ini berdindingkan bambu dan berlantai tanah. Sanggar ini juga berada di atas bukit, untuk mencapainya kita harus melalui jalan yang terjal kadang licin, berkelak-kelok dan kanan kiri jurang. Di Sanggar ini, anak-anak tersebut mendapatkan apa yang tak mereka dapatkan di sekolah mereka.

Ialah Canting, sebuah komunitas yang berasal dari kumpulan bloger Kompasiana Jogjakarta, merintis sebuah gerakan 1000 burung kertas. Kawan, apakah kalian pernah mendengar tentang cerita 1000 burung kertas? Jika belum, bacalah secuil kisah yang saya copas dari lapak milik teman saya, Mba Elisabeth Murni, sebagai berikut:

Di Jepang, ada sebuah mitos tentang seribu burung kertas, mitos ini mengatakan bahwa barangsiapa yang bisa merangkai seribu burung kertas, maka apapun yang menjadi doa dan harapannya akan terwujud. Mitos ini diyakini oleh banyak orang dan salah satunya adalah seorang gadis kecil penderita leukemia akibat radiasi bom atom yang jatuh di Hiroshima pada 6 Agustus 1945 bernama Sadako Sasaki. Ketika mendengar mitos tersebut, Sadako mulai melipat burung-burung kertas dengan harapan penyakitnya sembuh. Tapi seiring berjalannya waktu, Sadako melihat kawan-kawan sedesanya yang menderita penyakit leukemia meninggal satu demi satu. Harapannya untuk sembuh kemudian menghilang. Meski begitu dia tetap melipat burung-burung kertas dengan harapan yang baru, yakni agar tercipta perdamaian dunia supaya tidak ada lagi anak-anak yang menderita sepertinya.  Belum selesai seribu burung dibuat, dia meninggal. Akhirnya kawan-kawan dan keluarganya membuat burung kertas hingga jumlah 1000 burung itu terpenuhi dan meletakkannya di makam Sadako.”

Dari kisah di ataslah, akhirnya kawan-kawan Canting ini terinspirasi untuk berbagi harapan dan keceriaan kepada anak-anak melalui gerakan 1000 Burung Kertas. Dan Sanggar Anak Studio Biru adalah agenda pertama mereka.

Saya mengenal Canting, mungkin sudah lama. Hanya saja, saya jarang mengikuti semua kegiatan mereka. Maklum saja, mereka di Jogja dan saya di Surabaya (pada waktu itu). Saya juga pernah sedikit bercerita tentang canting di sini! Setelah kepindahan saya ke Magetan, saya menjadi lebih sering ke Jogja. Jika Canting sedang mempunyai hajat, saya berusaha untuk mengikuti. Tentunya setelah mengatur jadwal saya (maklum, sok sibuk).

Oke, mari kembali ke 1000 burung kertas dan Studio Biru. Sebenarnya, setiap saya ingin menulis tentang ke dua hal tersebut, saya merasa sangat kesulitan. Pertama, saya jarang ikut serta (secara fisik) ke Studio Biru jika mereka sedang mempunyai acara di sana. Meskipun, saya selalu mengikuti dan mengamati kegiatan mereka lewat photo-photo dan tulisan yang mereka unggah baik di blog, FB, maupun Twitter. Kedua, saya merasa hanya sedikit sekali membantu terselenggaranya kegiatan ini.

Disela-sela kesibukan teman-teman Canting (kuliah atau bekerja) mereka menyempatkan untuk bersama-sama menyokong kegiatan 1000 burung kertas ini. Tak hanya dana, mereka juga mengerahkan tenaga, waktu dan pikiran untuk mencapai sebuah misi. Berdirinya sebuah Sanggar Anak Studio Biru yang layak juga yang mempunyai sebuah perpustakaan. Sungguh, misi yang sangat mulia. Mereka juga menjual kaos yang hasilnya mereka kumpulkan untuk kegiatan ini. Bersama dengan beberapa pihak, di antaranya Kompasianers, Komunitas Kolam Bebek, AIS (Arsenal Indonesian Supporters), Komunitas Pelukis SEPI, GRI (Goodreads Indonesia) regional Jogja, Sekolah Mbrosot, IKMM UGM, Komunitas Air Soft Gun Jogja, para warga setempat dan lainnya  yang mungkin masih banyak lagi yang tidak saya ketahui, akhirnya tanggal 25 Juni 2011 kemarin, Sanggar Anak Studio Biru diresmikan. *tepuk tangan

***

Setelah bertemu Babeh Helmi di warung soto Pak Marto Jogja, kami ber-empat meluncur ke rumah Budhe Babeh. Mas Ulla kembali ke Greenz café, dimana teman-teman yang lain bersiap-siap untuk meluncur ke  Studio Biru. Jam 2 siang, Mas Hendra dan Mas Deddy menjemput kami untuk langsung meluncur ke Padukuhan Sengir. ± 30 menit perjalanan, akhirnya kami sampai di lokasi. Sanggar Anak Studio Biru yang baru. Bangunan yang sederhana, namun jauh lebih kokoh dari Studio Biru yang lama.

Saya melihat banyak sekali orang yang sudah ada di sana. Mulai dari anak-anak, para warga, teman-teman Canting (tentunya), teman-teman dari komunitas lain, juga para petinggi Padukuhan, seperti Pak RT dan Pak Dukuh. Kami disambut oleh anak-anak yang memainkan rebana, bernyanyi. Anak-anak itu nampak senang, mata mereka berbinar keceriaan menyorotkan semangat dan cita-cita yang mereka agungkan. Mereka adalah anak-anak Sanggar Studio Biru.

Acara yang di pimpin oleh Jenni ini berjalan mulus, para petinggi Padukuhan memberikan kata sambutan, termasuk Mas Rendra sebagai pengasuh, juga Mba Elisabeth Murni selaku perwakilan dari Canting. Sejenak kemudian, satu per satu anak-anak itu menghibur kami, ada yang bernyanyi, membaca puisi, dan membaca macapat. Indah dan mengharukan. Acara kemudian dilanjut dengan makan bersama. Kami semua menyatu, menikmati apa yang harus dinikmati, sambil bergurau, bercanda, bercerita dan berbagi kebahagiaan. Acara sore itu pun di tutup dengan pemutaran film documenter yang dibuat oleh kawan-kawan Canting.


Apload by: 1000burungkertas (Sanggar Studio Biru lama)

Apload by: 1000 Burung Kertas

Sebenarnya, acara peresmian Sanggar Anak Studio Biru itu belum benar-benar selesai, karena pada malam harinya, masih ada sebuah hiburan untuk warga setempat. Ya, lanyar tancap, dengan judul film Tutur Tinular. Usai Magrib, satu per satu warga memenuhi tempat dimana layar di tancapkan. Film yang diputar ternyata bukan Tutur Tinular melainkan Laskar Pelangi. Yah, kami pikir itu jauh lebih baik ditonton oleh warga terlebih para anak-anak. Warga dan anak-anak memadati lapangan dan jalanan. Film usai, tapi mereka tak kunjung pulang. “Mas….!! Jarene Tutur Tinular??!!” begitu teriak salah seorang warga.

Sedikit kesalahan tehnis, film Tutur Tinular yang dijanjikan ternyata, filenya hilang, tidak ada. Sedang warga masih memadati pelataran menunggu film tersebut diputarkan. “Diganti Sahur Sepuh pripun?” begitu teriak Mas Hendra. Dan syukurlah, mereka mengiyakan.

Jarum jam sudah menunjukkan angka 9. Sudah malam dan sebagian dari kami pun akhirnya pulang. Ada sebagian dari kami yang menginap di sanggar, ada yang karena masih menunggu film selesai (menanti peralatan) ada yang karena tidak berani pulang lantaran jalan yang terlalu terjal juga turunan tajam. Saya, Mba Rina, Mba Sasha (Elisabeth Murni), Mas Yulla, Mas Ulla dan Ngashim memutuskan untuk tidak menginap dan juga tidak pulang. Ya, kami akan ke Puncak Nglanggeran. Puncak Gunung Api Purba Nglanggeran tepatnya, malam itu juga.

Jika kawan ingin berbagi dengan kami, silahkan klik 1000 Burung Kertas. Segala info dan cerita bertabur di sana.

Tagged: , , , ,

4 thoughts on “Canting, 1000 Burung Kertas dan Studio Biru

  1. agungpoku 3 July 2011 at 4:40 PM Reply

    semangart!😉

  2. episodetu7uh 2 July 2011 at 8:29 PM Reply

    Izzaah, love you full pake pertamax. SemangArt ya

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: