‘Blusukan’ di Jogja

Tanggal 25 Juni 2011. Pukul 8.45 WIB saya mendarat dengan selamat di Stasiun Tugu Jogjakarta. KA. Madiun Jaya yang mengantarkan saya kala itu. Awalnya, saya janjian dengan Babeh Helmi untuk bertemu di Stasiun. Tapi, ternyata kereta saya lebih cepat sampai dari travel Babeh yang dari Jakarta. Sebenarnya, jika saya meminta kawan Canting untuk menjemput, insya allah diantara mereka akan berlapang dada untuk menjemput saya di stasiun. Tapi saya memilih untuk berjalan-jalan dulu.

Saya menelusuri jalan Malioboro, menikmati pemandangan yang tidak setiap hari saya saksikan. Para pedagang mulai menyiapkan lapaknya. Sesekali saya berhenti. Melihat-lihat dagangan yang sedang mereka siapkan (tanpa berniat untuk membeli). Lalu berjalan lagi hingga saya memasuki Pasar Tradisional Bringharjo. Saat sampai di dalam, saya terngat tentang bubur saren yang dulu pernah dibawakan oleh Mba Mesha. Rasanya unik. Santan, jahe, cengkeh. Itu yang mendominasi. Tapi setelah saya muter-muter ternyata tidak ada. Dan nyatanya, bubur itu (hanya?) dijual di Pasar Ngasem.

Dengan sedikit kesulitan, akhirnya saya berhasil keluar dari Pasar tersebut dan kembali ke jalur Malioboro. Saya terus berjalan (Jangan tanya arah saya berjalan ke barat apa ke timur. Saya tidak tahu.) hingga saya berada di titik 0 Jogja. Saya ingat, beberapa bulan lalu, saya dan beberapa kawan menikmati wedhang ronde, tepat dijam 12 malam setelah lelah keliling melihat Sekaten. Saya kembali berjalan melewati trotoar, di Benteng Vredeburg saya berhenti. Sepertinya sedang ada pertunjukkan. Ramai sekali. mungkin salah satu dari bagian FKY (Festifal Kesenian Yogyakarta) yang baru beberapa hari di gelar.

Saya kembali berjalan, masih menelusuri trotoar, saya melihat banyak pengrajin frame di sepanjang trotoar yang saya lalui. Saya berhenti. Bingung. Mau kemana saya? Tak butuh waktu lama untuk menjawab. Ya, saya musti ke Shooping. Belanja buku. Setelah melewati Taman Pintar akhirnya saya sampai di Shooping Center. Di sini, yang dijual hanya buku, buku dan buku. Dan di sinilah, tempat beli buku murah di Jogja.

Saya memasuki lapak demi lapak, toko demi toko, akhirnya saya bingung. Mau beli buku apakah saya?

Setelah menjumpai kursi di salah satu toko, saya berhenti, duduk, menurunkan ransel dari pundak saya. Kemudian membaca cepat judul-judul buku yang ada di depan saya. Hmm… begitu banyak pilihan buku. akhirnya saya memutuskan untuk berjalan dan berjalan mengelilingi setiap toko buku. Hingga akhirnya saya menemukan novel berjudul Bias Nuansa Jingga, judulnya bagus, sampulnya bagus. Saya Tanya, harganya berapa? Mereka bilang 40 ribu rupiah saja. Kawan saya pernah berkata, jika belanja buku di Shooping, pandai-pandailah menawar. Dan dengan sedikit alot, akhirnya saya membawa pulang buku itu dengan harga 20 ribu rupiah saja😀

Muter-muter lagi, saya ingat pesan Kanjeng Mami untuk membelikan buku tentang Tanaman Obat tradisional. Dan saya telah mendapatkannya juga dengan harga yang sangat murah. Yaitu 7 ribu saja. Lelah. Saya keluar, mencari tempat duduk yang nyaman dan sejuk. Dan di bawah pohon beringin nan rindang itulah akhirnya saya duduk sambil membaca buku yg sudah saya bawa. Tapi sekelebat saya membaca buku dengan judl Aisyah dan Ma’isyah. Saya hampiri toko buku yang ada di depan saya. Lalu saya kembali lagi dengan membawa buku tersebut setelah saya meninggalkan uang senilai 7 ribu saja ke penjualnya.

Setelah saya buka, ternyata buku ini berbicara tentang persiapan keuangan sebelum menikah. Ckckckck… geleng-geleng saya dibuatnya, meskipun dalam hati saya berkata,”Bermanfaat sekali buku ini.”

“Gimana Zah, sudah capek belum jalan-jalannya? Sudah mau di jemput?” SMS yang saya terima dari Ustadz Mumu (Muhayat Af).

Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Mas Ulla telpon. “Kamu dimana?”

“Di bawah pohon beringin.” kata saya.

“Yang pakai kacamata?” argh… memang, sebelumnya saya belum pernah bertemu dengan Mas Ulla. Dan Mas Ulla yang kebetulan yang bisa jemput saya.

Kami pun meluncur ke kedai Soto Pak Marto yang rasanya mantab itu. Babeh dan di ganteng Faiz (putranya) sudah menunggu di sana.

Tagged: , , ,

10 thoughts on “‘Blusukan’ di Jogja

  1. anggafirdy 16 June 2012 at 3:01 PM Reply

    Selalu menyenangkan membaca tentang Jogja🙂

    Anw, salam kenal..

    • fawaizzah 16 June 2012 at 4:35 PM Reply

      iyaaa😀

      salam kenal kembali🙂

  2. episodetu7uh 2 July 2011 at 9:17 PM Reply

    aku suwe ora mblusukan

  3. Asop 2 July 2011 at 12:37 PM Reply

    Enaknya, mblusukan di Jogja….😳

    • fawaizzah 2 July 2011 at 2:42 PM Reply

      Jogja tempat yang pas buat blusukan😀

  4. MU2' 1 July 2011 at 8:04 PM Reply

    Maaf ya Zahh… Mas Ulla cuma siap jemput, tapi tidak siap antar… Jadi harus berpusing2 dulu untuk sampai ke warung Soto Pak Marto dan ketemu Babeh😀

    • fawaizzah 2 July 2011 at 10:06 AM Reply

      hihihihi gpp Mas Mumu…
      asyik kok, jadi tau altar dan alkid, meskipun waktu sampai di warung soto Pak Marto, Babeh udah habis 2 mangkok😀

  5. nathalia 1 July 2011 at 5:02 PM Reply

    so fun😀

    • fawaizzah 1 July 2011 at 5:21 PM Reply

      hari ini Babeh di Jogja lagi, sedang saya tidak.

      gak rela gak rela gak rela!!!

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: