Berkereta Tanpa Tiket

Jika saya bercerita tentang kereta, tak lain dan tak bukan jika nantinya saya lagi-lagi akan bercerita tentang Jogja. Di Jogja, untuk pertama kalinya saya mengenal kereta. Hmm… maksudnya mengenal yang benar-benar kenal. Kalau tau sih udah rumayan lama, sejak SMP mungkin. Karena setiap pergi dan pulang sekolah, saya harus melewati rel kereta yang melintangi jalan. Tak jarang, saya harus menunggu lama jika sirine kereta akan lewat berbunyi nyaring.

Stasiun Lempuyangan dan KA Pasundan adalah stasiun dan kereta pertama yang saya sapa. Jangan heran, jika mendapati saya masih kebingungan gimana pesen tiket, gimana mesti ngantri dan dimana harus menunggu keretanya. Karena itu benar-benar hal pertama dalam hidup saya. Untung saja, saat itu ada teman yang bersedia temeni meskipun hujan sedang mengguyur Jogja.

Singkat cerita, saya sudah duduk di dalam kereta. Rasanya asyik, aneh dan berbeda sekali jika saya naik Bis. Dan itu adalah sebuah pengalaman yang luar biasa. Naik kereta untuk pertama kalinya diumur yang sudah uzur. Spontan, saya SMS kawan saya jika naik kereta sangat jauh berbeda dengan Bis. Dan kereta jauh lebih menyenangkan. Naik kereta sangat nyaman! Dalam SMS balasan pun nampak tersirat bahwa dia tertawa puas. Tepatnya menertawakan kepolosan (kebodohan) saya? “Naik pasundan saja senang banget, gimana klo naik yang ekskutif? wkwkwkwk” kira-kira begitu bunyi SMSnya. Hahaha….

Sejak saat itu, saya mulai meninggalkan Bis dan beralih ke Kereta Api. Tepatnya, jika saya ke Jogja. Dan saya pun mulai berkenalan dengan KA. Madiun Jaya. Kereta Madiun – Jogja. Dan dengan berkenalannya saya dengan kereta tersebut, saya menjadi bersemangat jika ke Jogja (khususnya dalam perjalanan). Dan dengannya pula, saya menjadi punya alasan yang kuat jika saya enggan pulang ke Magetan (wkwkw ketahuan). Saya sering bilang bahwa saya kadung ketinggalan kereta, dan itu berarti saya harus menunda kepulangan hingga esok hari. Meskipun sebenarnya, saya benar-benar ketinggalan kereta. Karena berangkat ke stasiunnya mepet, udah gitu jalan kaki pula.

Memang, jika sudah di Jogja dan bersama teman-teman yang ada disana, enggan sekali untuk berpisah. Jogja adalah kota yang menyenangkan. Bahkan, saya pernah berkeinginan (hingga detik ini) jika ingin tinggal di Jogja. Entah hal itu akan terwujud kapan. Dan entah pula, hal itu akan terwujud ataukah tidak. Namanya juga keinginan🙂

Oke, kembali ke kereta. Selama ini jika naik kereta saya selalu membeli tiket. Selalu ada tiket di tangan saya sebelum saya memasuki gerbongnya. Dan itu agak berbeda dengan berkereta Senin kemarin. Saya terlambat, kereta sudah menunggu. Begitu masuk Stasiun, saya langsung lari memasuki naga besi berwarna orange – putih itu. Lalu duduk. Santai sekali.

Saya tahu saya belum memiliki tiket. Tapi saya tenang-tenang saja. Mungkin karena beberapa hari sebelumnya, saya membaca tulisan seorang kawan yang juga tidak sempat membeli tiket saat berkereta dengan Prameks. Kereta Jurusan Solo dari Jogja. Penulis itu mengatakan bahwa saat Pak Kondektur meminta tiketnya, dia memberinya uang senilai harga tiket. Tapi Pak Kondektur menyuruhnya berhenti di Stasiun berikutnya untuk membeli tiket. Jadi, yang ada dalam pikiran saya waktu itu adalah saya akan berhenti di Stasiun Lempuyangan (saya naik dari Stasiun Tugu) untuk membeli tiket.

Saat sampai di stasiun lempuyangan, saya turun. Mencoba mecari loket. Tapi saat saya melongok kearah loket, antrian begitu panjang. Dan peluit pak kondektur sudah berbunyi. Saya pun kembali lari ke dalam kereta. Duduk manis di tempat semula. Hingga sampai Stasiun Solo Balapan, Pak Kondektur tak kunjung datang. Saya mencoba santai, meskipun saat itu juga terasa deg-degan. Tak lama kemudian, Pak Kondektur terlihat di gerbong depan. Sebelum Pak Kondektur menyapaku, aku berjalan menyapanya lebih dulu.

“Maaf Pak, saya tadi tidak sempat beli tiket. Saya dari Jogja.” Begitu kata saya.

“Duduk saja dulu Mba!” Manis, Pak Kondektur berkata.

Tanpa diminta untuk kedua kalinya, saya kembali duduk dimana tadi saya menaruh ransel. Selang beberapa menit, Pak Kondektur duduk di kursi di depan saya yang kebetulan kosong.

“Mbak ini rumahnya Lemi ya?” Pak Kondektur mulai membuka percakapan.

“Iya, Bapak kemutan kula?” kata saya sambil tersenyum malu. Woi… Bapak Kondektur ini masih ingat saya!!

“Jelas masih ingat, Mba ini yang rumahnya di belakang Pondoknya Pak Abdul Mu’id kan?” begitu kata pak Kondektur lagi. Saya masih angguk-angguk sambil tersenyum.

Dulu, beberapa bulan yang lalu. Saat saya pulang dari Jogja (dengan kereta yang sama) saya duduk di gerbong paling buntut. Gerbongnya kosong, mungkin hanya ada empat orang saja. Karena saya berada paling ujung, setelah memeriksa tiket saya, Pak Kondektur ini duduk di kursi samping saya. Lalu kami ngobrol. Obrolan kami begitu mencair saat beliau menanyakan tentang Pak Abdul Mu’id. Kebetulan, rumah saya di belakang rumah Pak Mu’id. Kebetulan lagi, sejak kecil saya belajar ngajinya di sana pula. Dan Pak Kondektur ini adalah salah satu jamaah ngaji Pak Mu’id jika beliau sedang mengaji di Madiun.

“Jadinya, saya mesti bayar berapa Pak? Saya tadi dari Jogja.”

“Dua puluh ribu saja Mba…”

“Biasanya dua puluh empat Pak.” Entah saya ini orangnya lugu, jujur apa bodoh? Kadang saya juga heran.

Pak Kondekturnya hanya senyum. Saya mengambil dompet dan memberikan uang 20 ribuan kepada Pak Kondekturnya. Setelah saya mengucapkan terima kasih, Pak Kondekturnya berlalu.

Sejujurnya saya sedikit bingung, yang saya tahu (tidak tahu banget sih) jika kita tidak punya (membeli) tiket dan harus memberikan “uang tiket” pada Pak Kondekturnya, itu berarti uang akan masuk ke saku pribadi Pak Kondektur. Tapi menurut saya, Pak Kondektur yang tadi itu oarngnya baik. Yah, baik banget malah. Karena Pak Kondektur itu tidak memaksaku untuk turun di Stasiun sebelum Stasiun tujuanku😀

Tagged: , , , , ,

2 thoughts on “Berkereta Tanpa Tiket

  1. nathalia 1 July 2011 at 5:06 PM Reply

    wkwkwkwkwkwkwkkk.. misuh2 negara ini gudang korup, ga disiplin etc, buktinya kita pun kadang sengaja atau tidak, turut menyuburkan praktek2 tersebut😛

    • fawaizzah 1 July 2011 at 5:23 PM Reply

      hahahaha betul mba suri, saya sudah mencoba untuk turun di stasiun berikutnya untuk membeli tiket, tapi apa daya, waktu tak bisa berhenti sejenak. wkwkwkw

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: