Sebuah Alasan [Tentang Menikah]

Malam belum terlalu pekat, tapi tiba-tiba lampu padam. Seperti biasa, mungkin sedang ada pemadaman bergilir. Atau mungkin sedang ada masalah lain yang menyebabkan PLN memadamkan aliran listriknya ke rumah-rumah. Jika sudah seperti ini, hal yang paling menyenangkan adalah berdiam di kamar. Bebaringan di ranjang sambil berfikir tentang banyak hal. Membayangkan banyak hal. Atau, mengingat-ingat hal yang seharusnya tak perlu diingat. Sembari membuka jendela, membiarkan cayaha rembulan masuk. Menjamah semua yang ingin dijamahnya.

Ilustrasi malam

“Sudah tidur kamu Nok?” sebuah suara lembut datang dari arah pintu. Tiada suara lembut lain selain suara Ibuku di rumah ini. Beberapa detik kemudian, aku merasa tubuhnya sudah berbaring di sampingku. Mendekapku hangat.

“Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanyanya. Seakan tahu ada banyak hal yang sedang melayang-layang dalam pikiranku.

“Enggak, cuma heran saja sama PLN. Matiin listrik kok di jam-jam segini.” Mencoba mengalihkan apa yang sedang bergejolak.

Suasana ketika sepi, lampu padam, sering dijadikan moment yang pas oleh Ibuku untuk berbicara padaku dari hati ke hati. Dari seorang Ibu kepada putrinya yang menginjak dewasa. Dalam kesempatan seperti ini pula, aku sering bercerita tentang banyak hal. Tentang pekerjaan, tentang orang-orang yang kutemui, tentang sahabat, bahkan tentang seseorang. Aku selalu terbuka pada Ibuku. Setiap ada masalah, aku acapkali membahasnya dengan beliau. “Aku memang Ibumu, tapi aku juga adalah sahabat terbaikmu” begitu katanya dulu.

 “Nok…”

“Ya…”

“Andai kamu waktu itu mau sama Anto, sekarang mungkin kamu sudah menikah.”

“….”

Menikah. Satu hal yang sering kuhindari jika berbicara dengan Ibu. Bukan aku tak mau menikah. Aku mau menikah. Tapi bukan sekarang. Ada banyak hal yang sudah kumulai dan aku belum mampu menyelesaikannya. Ada banyak tempat yang hanya bisa kukunjungi jika aku masih sendiri. Dan aku belum mampu membuat bangga Ayah dan Ibu.

Anto, dia adalah seorang lelaki yang baik dari keluarga yang baik pula. Datang ke rumah kira-kira satu tahun lalu, bermaksud mengajak ta’aruf. Sebenarnya, sebelum dia datang, salah seorang keluarganya sudah ke rumah. Ingin mengenalkan aku dengan keponakannya. “Siapa tahu cocok.” begitu katanya. Dan waktu itu pula, saya sudah mencoba untuk menjelaskan bahwa saya belum ingin menikah. Jika ingin berkenalan, tentu saja boleh. Tapi saya harap, tidak ada harapan lebih. Saya mencoba menjelaskan di awal, karena saya tidak ingin lelaki baik ini akan kecewa di kemudian hari.

Setelah berkenalan dan bertukar nomor telpon, aku tetap menganggapnya seperti teman lelaki lainnya. Tidak ada yang istimewa. Beberapa kali dia mengajakku keluar, tapi aku menolaknya. Aku merasa tidak nyaman. Dan aku rasa, aku tak harus memaksa atau berpura-pura nyaman jika nyatanya memang aku tidak nyaman.

“Saya merasa tidak nyaman dengannya Buk.”

“Rasa nyaman itu akan hadir jika sudah biasa.” Begitu kata Ibuku. Dan saya hanya diam tanpa kata.

“Kukira, kamu tidak mau dengan Anto karena sudah dekat sama Aris?!” katanya lagi, mencoba memancingku untuk bercerita tentang seseorang.

“Bukan. Aris memang teman lelaki yang paling dekat denganku. Tapi bukan berarti aku adalah pacarnya atau merencanakan untuk menikah dengannya.” Kataku.

“Kenapa?”

“Dia adalah seorang perokok berat Bu, aku tak mau saat dia mencium bibirku nanti, akan ada sisa-sisa nikotin di bibirku dan membuat bibirku menghitam.” aku mencoba menjawab sekenanya.

Hening. Aku berharap lampu segera menyala. Agar Ibu lekas mengakhiri pembicaraannya dan beralih pada pekerjaan lain. Mematikan lilin-lilin yang ada di dapur, mungkin? Tapi apa daya, lampu pun tak kunjung menyala.

“Eko tidak merokok!” tiba-tiba muncul suara lagi dari Ibu, menandakan pembicaraan mengenai masalah ini belumlah selesai.

“Hmm… dia baik. Tidak merokok. Hampir seluruh hidupnya dia habiskan untuk mengurusi Masjid dan segala keperluan umat. Tapi dia nyaris tidak memperhatikan dirinya sendiri. Kalau memperhatikan dirinya sendiri saja, dia tidak mampu, bagaimana dia akan memperhatikan aku dan anak-anakku kelak?”

“Lalu orang yang seperti apa? Dan kapan?”

“Tidak perlu menentukan harus yang seperti apa Bu, dan tak perlu juga menentukan kapan itu akan terjadi. Doakan saja tentang hal yang terbaik untukku. Bukankah Tuhan sudah mempersiapkannya? Dan kita bukankah harus yakin, bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk kita?”

“Dan aku yakin, jika waktu itu tiba, Tuhan akan membukakan pintu hatiku.” lanjutku.

“Tapi alasanmu bukan karena kamu masih mengharapkan seseorang yang sudah meninggalkanmu kan?”

Deg…

Byar…

Lampu menyala beriringan dengan detak jantungku yang seketika berlarian.

*Ilustrasi diunduh dari google.com

Tagged:

10 thoughts on “Sebuah Alasan [Tentang Menikah]

  1. kangazzet 27 June 2011 at 3:11 PM Reply

    “…Doakan saja tentang hal yang terbaik untukku. Bukankah Tuhan sudah mempersiapkannya? Dan kita bukankah harus yakin, bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk kita?”

    Benar sekali, Tuhan akan memberikan yang terbaik. Maka, betapa penting membangun kesabaran. Hmm…. bagus postingan ini. Saya suka membacanya.

    • fawaizzah 27 June 2011 at 3:50 PM Reply

      Terima kasih Om Azzet, senang dikunjungi Om😀
      ntar saya balik bertamu ke rumah Om. suwun

  2. ardhyanz 25 June 2011 at 8:22 PM Reply

    Wahh temanya sama dengan punya gue
    hanya yang ini lebih teratur
    mungkin ini yang membedakan pria dan wanita
    (gak nyambung.com)😀
    Salam kenal yak

    • fawaizzah 27 June 2011 at 3:48 PM Reply

      hihihi iya sama.
      salam kenal kambali, terima kasih sudah berkunjung🙂

  3. maucokelat 24 June 2011 at 11:19 PM Reply

    *mengerutkan dahi….

  4. Citra W. Hapsari 23 June 2011 at 11:52 PM Reply

    “kucari dan selalu kucari,..jalan terbaik,..agar tiada penyesalan dan airmata,…huohuooo…”
    wah,berapa hari gak ol sudah berubah wujud lg blog ini:mrgreen:

    • fawaizzah 24 June 2011 at 9:14 AM Reply

      sedang labil soal tema blog nih Cit…
      nyari yang pas, kayaknya sekarang udah nemu. tpi gak tahu klo nanti ketemu yg lebih pas lagi -> ini ngomongin tema blog ya😀

      jalan terbaik, semoga lekas ketemu🙂

  5. Ambu 23 June 2011 at 12:52 PM Reply

    “Tapi alasanmu bukan karena kamu masih mengharapkan seseorang yang sudah meninggalkanmu kan?”

    Ketika hati kita masih saja selalu tertuju pada seseorang, hati kita akan selalu tertutup untuk orang lain.
    Di saat kita buka hati kita untuk orang lain, maka mata hati akan menunjukkan ke arah mana hati kita harus ditujukan.

    • fawaizzah 23 June 2011 at 2:46 PM Reply

      mencoba Mbu, berusaha untuk terus mencoba🙂

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: