Memecahkan Batu Amarah Dengan Menulis

Saya bukan penulis, tapi saya suka menulis. Saat semua orang heboh bercuap-cuap dengan hal-hal baru yang baru saja mereka dapatkan, saya justru akan sibuk mencari kata-kata lalu menyusunnya. Menuliskannya kata demi kata yang kutemukan hingga menjadi kalimat-kalimat yang menyenangkan saat dibaca. Lalu, orang-orang yang membacanya akan mampu menyulam imajinasinya hingga mereka seakan-akan menyaksikan sendiri hal apa yang baru saja saya saksikan. Itu menyenangkan.

Saya suka bawel,  jika mendapati hal-hal yang ada dihadapan saya sangat tidak sesuai dengan yang saya inginkan. Saya sering cerewet, jika mendapati orang-orang disekitar saya, tepatnya orang-orang yang saya sayangi melakukan hal-hal konyol yang mungkin membahayakan mereka. Mungkin saya egois? Bisa jadi. Tapi satu hal yang pasti, saya melakukan itu karena saya tidak ingin melihat mereka sakit, terluka, atau bahkan karena saya ketakutan jika saja saya kehilangan mereka. Hanya saja, saya selalu kesulitan mengungkapkan kekhawatiran saya dengan lisan yang mudah dimengerti. Saya acapkali marah setiap saya merasa khawatir.

Itulah, kenapa sering kali hati saya ngondok, mbededeg, lalu manyun seharian. Rasa kesal begitu menguasai sehingga jiwa saya terasa terbebani batu amarah yang besar. Emosi-emosi seperti debu-debu yang dibawa angin. Hilang lalu datang lagi lebih banyak, seiring kencangnya angin yang datang. Dan salah satu hal yang mampu mencairkan amarah atau rasa tak terkesampaikan itu adalah dengan menulis.

Saya mentransfer amarah, emosi bahkan rasa jengkel yang ada dalam hati saya dengan menulis. Awalnya memang tak mudah, terutama ketika menuliskan kalimat pertama. Susah sekali. Tapi jika sudah berhasil menyusun kalimat pertama, maka kalimat ke dua, ke tiga dan selanjutkan akan mengalir begitu saja. Mungkin karena kata-kata yang tersusun sebagai kalimat itu sejatinya sudah tersusun apik di hati saya. Tersembunyi dalam amarah, emosi dan rasa-rasa yang susah saya ucapkan secara lisan. Lalu ketika saya menuliskannya, maka rasanya seperti sebongkah batu besar yang mampu pecah menjadi pasir tanpa perlu palu untuk menghancurkannya. Atau, seperti air yang bendungannya lepas. Hingga air itu mampu mengalir ke semua penjuru. Menyenangkan. Melegakan.

Tulisan yang lahir dari apa yang pernah dialami penulisnya, apa yang dirasakan penulisnya, seakan memiliki nyawa. Hingga para pembaca akan teraduk-aduk perasaannya, menangis lalu tertawa. Seakan merasakan sendiri apa yang penulis rasakan.

Tentang inspirasi. Saya tak pernah menemukan inspirasi jika saya mencarinya. Semisal ada yang bilang,”Pergilah ke pantai, dengan mendengar deburan ombak, melihat betapa tegarnya batu karang, melihat para nelayan mencari-cari udang atau merasakan damai dengan ketenangannya. Maka inspirasi menulis itu akan datang.”

Tapi apa? Saya justru baru mampu menuliskan apa yang saya lihat di pantai setelah lebih sebulan saya melewatinya. Apa yang saya lihat, nyatanya lebih agung, lebih luar biasa dari benak saya. Hingga saya kehilangan kata-kata. Saya benar-benar kehilangan kata-kata hanya untuk sekedar mengucapkan indah. Mungkin yang saya lihat lebih dari indah?

Inspirasi menulis bahkan pernah saya temukan saat kesibukan yang sangat sedang membelenggu saya. Saat saya jauh dari media tulis. Saat kurang sedetik mata terlelap. Atau, saat nongkrong di kamar kecil sekali pun.

Menulis memang tak bisa dipaksakan, lebih-lebih menulis prosa dan puisi. Tapi semua bisa dicoba selama kita mau mencoba. Selama kita mau belajar.

Sekali lagi, saya bukan penulis. Belum ada satu pun tulisan saya yang dicetak menjadi buku atau terbit di majalah atau koran-koran lokal. Tapi saya suka menulis. Menulis apa saja yang ingin saya tulis.

Dalam tulisan ini, saya hanya berbagi tentang bagaimana meringankan (menghilangkan) amarah dan emosi, atau mengungkapkan apa yang sedang kita rasakan lewat tulisan. Apa pun jenis tulisannya. Bisa fiksi atau omelan tak jelas. Setidaknya, itu yang saya lakukan.

Menambahkan tag blogshoptips’ untuk mencoba keberuntungan. Siapa tahu bulan depan dapet handphone GSM. Kan pulsanya udah dapet, kemarin, tinggal impunnya😀

 

3 thoughts on “Memecahkan Batu Amarah Dengan Menulis

  1. nashrul 12 June 2011 at 9:32 PM Reply

    lha kok masih belum mengaku kalo dirimu penulis mbak,,,, lha barusan tad mbak ngapain ??? nggorok kayu ya mbak??? atau metik-metik paku…. Ngelas besi???
    Mbak penulis hebat kOk (walahhh), serius.. sya teringat buku The true Power of Writing-nya Muh. Iqbal Dawami. ternyata menulis dapat menyembuhkan, ya persis yang mbak paparkan, bahkan telah diteliti banyak orang, lwat eksperimen maupun uji nyali eh uji coba ding,,, ah pokoknya udah diteliti banyak penulis..

    aku pun pingin seperti itu, tapi sulitnya minta ampun, mentok di kata-kata dan susunannya.
    makanya aku baca blog2 yang model seperti ini…

    jgan khawatir mbak, km tetap penulis kok h he he he

    eh asal nylonong…salam kenal ya mbak sebelumnya

  2. Citra W. Hapsari 12 June 2011 at 3:27 PM Reply

    wah,..penyaluran amarah yang sangat menguntungkan diri sendiri:mrgreen:
    eh eh ehh,..ada apa dengan blogshoptips??

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: