Kakak Yang Terlahir 6 Tahun Lebih Muda

Pagi mulai datang, burung Prenjak saling bersautan. Kabut tipis juga masih bergelanyut di pepohonan. Sedang aku sudah siap, berdandan rapi dengan rambut di kepang dua. Menggendong tas ransel yang berisi buku-buku pelajaran lalu menuntun sepeda mini berwarna biru dari dalam rumah menuju halaman. Bersiap berangkat ke sekolah.

“Buruan deek… nanti telat!” begitu teriakku pada lelaki kecil yang masih belum bisa memakai celana sendiri, yang masih sibuk di dalam rumah.

“Sebentaar…..” terdengar suara kecilnya dari dalam rumah, lalu terlihat dia berlari sambil menenteng ransel kecil dan sepatu yang belum direkatkan rekatannya.

“Eh eh…. sini, ibu benerin dulu sepatunya!” teriak ibuku yang menyusul keluar.

“Nanti jangan nakal ya kalau di sekolah, apalagi kalau Embak lagi diajar di kelas.” Lanjut Ibuku sambil tangannya sibuk merapikan pakaian dan memasangkan ransel kecil di punggungnya.

“He em,” jawab lelaki kecil itu sambil naik ke boncengan belakang sepeda miniku.

Lelaki kecil yang sedang duduk di boncengan sepedaku itu namanya Nanang, adikku. Umurnya tiga tahun, enam tahun lebih muda dariku. Dia belum sekolah, di desa seperti desaku ini, mana ada sekolah PAUD. Sekolah untuk anak-anak balita. Yang ada adalah sekolah TK dan SD. Dan umur anak-anak harus sudah genap mencapai angka lima jika ingin mengecap pendidikan di sekolah TK. Tidak ada penitipan bayi, tak ada penitipan anak.

Jika musim panen atau menggarap sawah tiba, maka para bayi dan balita itu di ikutkan pada nenek atau kakeknya yang sudah tidak kuat bekerja di sawah. Cukup diberikan uang saku lima ratus rupiah dan diajak mainan tanah liat saja, maka para anak-anak kecil yang belum sekolah itu pun tak akan menangis mencari kemana ibunya.

Tapi beda halnya dengan adikku ini. Saat Ibu menitipkan adik ke rumah Iyung, Ibuku sering kali dimarahi oleh Iyung. Bagaimana tidak, Nanang acapkali nangis dan mengamuk bahkan pernah dia menangis sampai tak mengeluarkan air mata saking tersedunya. Saat tak menemukan Ibuku ketika dia terbangun dari tidur. Tak satu pun orang yang mampu menghentikan tangisnya jika sudah begitu, kecuali kedatangan Ibu.

Iyung yang bekerja sebagai penjaja wedang kopi, membuka warung kopi tepatnya, tak bisa dengan tenang melayani para pembeli. Jangankan untuk duduk sebentar melayani pembelinya, untuk bertanya kepada pembeli apa yang sedang dibutuhkan saja tak kuasa. Itu karena Nanang, cucu yang dititipkan padanya karena Ibunya ikut berpesta panen padi itu sedari bangun tidur tiada henti menangis. Mencari ibunya.

“Kalau kayak begini terus, gimana aku bisa dapat uang? Melayani orang beli saja tidak bisa!” ucap Iyung suatu ketika kepada Ibuku dengan nada marah.

Iyung tak salah saat memarahi ibu waktu itu, tapi ini juga bukan salah Nanang. Dia masih terlalu kecil untuk ditinggal seharian. Lantas salah siapa? Apa salah Ibu? Tentu saja tidak. Ibu melalukan itu bukan karena dia tidak sayang pada anaknya, tapi justru demi anak-anaknya.Untuk membelikan jajan, untuk belanja dan untuk kebutuhan lain.

Lantas kemana ayahku? Ayahku ada, dia juga bekerja. Bahkan tak jarang Ayah dan Ibu bekerja dalam area yang sama. Tapi kalau hanya hidup dengan penghasilan ayah saja, mana cukup? Sangat kurang. Sebuah keluarga dengan orang tua utuh dan dua orang anak, tentu saja kebutuhannya tak sedikit. Dan Ayah bukanlah seorang yang mempunyai sawah yang luas. Beliau hanya seorang buruh tani, beliau bekerja jika musim panen dan ketika ada yang membutuhkan tenaganya saja. Untuk itulah, Ibuku turut serta membantu meringankan beban Ayah.

“Maumu piye? Ikut Iyung gak mau, ikut Mbah Gemi gak mau. Diajak ke sawah minta pulang. Terus piye bisa dapat duit kalau seperti ini?” Ibu marah kepada Nanang. Nanang hanya menunduk, sepertinya dia tahu kesalahannya.

Memang, bukan hanya Iyung yang pernah dititipi Nanang, tapi juga Mbah Gemi, Ibu dari Ayahku. Tapi Mbah Gemi juga tak mau lagi dititipi karena Nanang sering menangis mencari Ibu. Bahkan pernah juga, Nanang diajak ke sawah. Duduk di tepian sawah dan diatasnya dibentangkan kain jarit, untuk melindunginya dari terik matahari. Tapi lagi-lagi Nanang menangis sambil teriak-teriak memanggil Ibu, mengajak pulang. Panas katanya.

“Mulai sekarang gak usah minta jajan!” bentak Ibu padanya.

Aku pun diam, tak berani ikut berbicara. Takut, jika aku pun akan dimarahi oleh Ibuku. Kulirik adikku, dia diam menunduk, matanya berkaca-kaca, mungkin dia menahan tangisnya. Hingga akhirnya, runtuh juga pertahanannya saat mata kami beradu.

Huaaaa………..

Tangisnya pecah. Aku hampiri dia, menyuruhnya diam. Tapi bukannya segera menghapus air matanya, tangisnya semakin keras. Hingga Ibu kembali datang sambil berkacak pinggang.

“Diam nggak? Diam nggak?!” teriaknya.

Namun tangisnya belum juga berhenti. Ibu mengambil ranting dari luar, lalu kembali masuk sambil bersiap memukulkannya ke kaki Adikku. Aku miris, tapi tak mampu melakukan apa pun.

“Diam nggak? Kalau nggak diam, aku pukul kakimu!” mata Ibu melotot, suaranya keras. Aku yakin Ibu tak akan benar-benar memukul Adikku. Tapi melihat mata dan air mukanya yang sedemikian marah membuatku ikut takut.

Tanpa kuduga, adikku lari. Dia lari ke dalam kamar. Lalu tangisnya tak terdengar lagi.  Aku penasaran dan mengikutinya. Tapi tawaku justru meledak saat melihatnya. Dia menyumpalkan handuk ke mulutnya. Dan dia akan sering melakukan hal itu, jika sedang kesulitan menghentikan tangisnya.

***

“Buk, aku mau ditinggal ke sawah kalau aku boleh ikut Embak.” Begitu celoteh Nanang saat saya sedang sarapan, sebelum berangkat sekolah.

“Embak kan sekolah, kok ikut embak” jawab Ibu sambil meluncurkan sesuap nasi ke mulutnya.

“Aku ikut sekolah Embak.” Dia menjawab dengan polosnya, dengan mulut yang masih penuh dengan nasi.

Ibu tak lagi menjawabnya, hanya memutar tatapannya ke arahku. Aku menatapnya sejenak, lalu menggelengkan kepalaku. Mana mungkin Bapak dan Ibu guruku mengizinkan aku membawa momongan ke sekolah. Memangnya di sekolah itu penitipan anak? Begitu yang ada di pikiranku. Tapi Ibu masih diam, mungkin sedang berfikir.

***

“Wati, kamu boleh mengajak adikmu ke sekolah, asal adikmu tidak nakal dan mengganggu kegiatan belajar mengajar di kelas.” Aku tercengang mendengarkan kata-kata Pak Lugito, wali kelasku. Aku tak menjawabnya, aku hanya diam lalu tersenyum dan pergi setelah salim dan mencium tangannya.

Dari mana Pak Lugito tahu jika aku ingin mengajak Adikku ke sekolah? Itu yang berada di pikiranku selama perjalanan dari sekolah ke rumah yang berjarak tepat 1 km. Pertanyaan yang sulit kucerna dengan otakku yang masih berumur 9 tahun. Dan ketika sampai di rumah, barulah kutemukan jawabannya.

“Adik sudah janji tidak nakal kalau ikut ke sekolah” kata Ibu, bahkan sebelum aku memulai pembicaraan.

“Gurumu juga bilang, kalau adik tidak nakal dan tidak mengganggu pelajaran di kelas, dia boleh ikut denganmu.” Begitu lanjutnya.

“Jadi Ibu tadi ke sekolah?” tanyaku.

***

Seorang gadis kecil, dengan rambut panjang yang dikepang dua, mengendarai sepeda mini. Setiap kali dia menggenjot pedal sepedanya, maka pinggangnya akan bergoyang ke kanan dan ke kiri, lantaran kakinya tidak dengan sempurna mampu mencapai ujung pedal. Sedang seorang lelaki kecil, dengan tas ransel yang juga kecil, celana panjang berwarna biru dan ada dua garis putih duduk di boncengan belakang. Sesekali tubuhnya ikut bergoyang ke kanan dan ke kiri, karena tangannya erat memeluk pinggang kakaknya. Itu adalah pemandangan yang biasa setiap pagi dan siang di sepanjang jalan dari rumah sampai sekolah.

Awalnya, aku merasa baik-baik saja. Bapak dan Ibu guruku tak ada yang keberatan dengan kehadiran adikku. Adikku cukup manis untuk seumurnya yang tidak pernah rewel, dia tidak pernah minta yang aneh-aneh. Bahkan saat jajan pun, dia hanya jajan apa yang aku perbolehkan. Jika aku tak memperbolehkannya jajan es, maka dia pun menurut. Kawanku, kurasa cukup baik untuk menerima adikku juga. Aku pun bisa belajar tanpa hambatan.

Tapi sayangnya, suasana yang demikian itu tidak berlangsung lama. Tanpa kutahu sebabnya, satu per satu teman-temanku di seolah menjauh dariku. Setiap ada teman-teman yang bergerombol dan aku ikut menimbrung, maka mereka pun pergi. Meninggalkan aku yang mematung, ah bukan aku tapi kami. Ya aku dan adikku. Karena adikku tak pernah jauh dariku, tangannya tak pernah lepas dari tanganku.

Hingga aku pun tak lagi punya kawan. Setiap jam istirahat tiba, aku menarik tangan adikku untuk pergi ke gudang, tentunya setelah kami membeli jajan di kantin sekolah. Di gudang itu, ada empat lemari buku. Banyak sekali buku-buku di sana, tapi sayangnya serangga pun tak kalah banyak dengan buku-bukunya. Di dalam gudang sini juga tempat disimpannya alat-alat kebersihan, bola, dan peralatan sekolah lain yang jarang dipakai.

Buku-buku yang sudah kupilih, aku inggirkan. Setelah kurasa cukup, maka aku mulai duduk di depan kelas. Adikku, kupinjami buku-buku yang banyak gambarnya. Sedang aku mulai membaca-baca buku. Mulai dari cerita anak, dongeng, fabel, sampai novel. Dan dari situlah, saya mulai suka dengan buku. Saya mulai suka membaca.

Kegiatan memilih dan membaca buku itu aku lakukan sampai beberapa lama, hingga suatu hari, banyak teman-teman yang tertarik dan mengikuti apa yang kulakukan. Hingga akhirnya, Pak No, tukang kebun di sekolah kami membersihkan gudang itu. Dan gudang itu pun lambat-laun menjadi perpustakaan sekolah yang sederhana.

***

Sesampainya kami di sekolah, aku segera menurunkan adikku lalu menyandarkan sepedaku di samping pohon besar, di parkiran sekolah. Lantas aku menaruh tasku ke dalam kelas dan mengambil sapu untuk ikut piket harian. Ke empat temanku sudah bersiap dan menyapu di halaman depan, saat aku akan bergabung mereka tiba-tiba pergi. Mungkin karena aku datang paling terakhir di antara mereka, sehingga mereka marah padaku.

Aku pun melanjutkan menyapu halaman sendiri, di sela-sela pekerjaanku, air mataku menetes lalu aku terisak sendiri di bawah pohon. Nanang hanya memandangiku. Tanpa berkata-kata.

Ketika malam datang, tiba-tiba Nanang berceloteh,”Buk, kenapa aku tidak lahir lebih dulu? Biar aku bisa jadi Kakak dan bisa melindungi Embak?”

Air mataku meleleh mendengar itu, membasahi buku Paket Bahasa Indonesia yang sedang kubaca.

Dialah adikku, diumurnya yang ke 16 tahun, dia mampu berperan sebagai kakakku. Dia yang kerap ada saat aku membutuhkan lengan lelaki. Dan kini dia menjadi Kakakku yang terlahir 6 tahun lebih muda dariku.

Saat upacara pitonan bayi Nanang

Tagged: , , ,

6 thoughts on “Kakak Yang Terlahir 6 Tahun Lebih Muda

  1. grace 30 July 2011 at 11:21 PM Reply

    kira-kira tau ngga perkembangan project nulis buku ini?? aku jg ikutkan ceritaku tp ngga ada kabarnya..

    • fawaizzah 31 July 2011 at 10:46 AM Reply

      haha iya,…
      gak ada kabar lanjutannya, dari sekian biku yang aku ikuti, cuma 1 yang jelas. dear someone

  2. Fonega 10 June 2011 at 2:58 PM Reply

    sepupu yah? sepupu dari budhe😀

    • fawaizzah 10 June 2011 at 3:17 PM Reply

      walah,.. bukan mba. tpi adik kandung🙂

  3. Lutfi Retno Wahyudyanti 10 June 2011 at 2:27 PM Reply

    Ceritanya bagus. Aku suka awal2 tulisannya. Cuma di bagian bawahnya ada kaya bagian hilangnya.

    • fawaizzah 10 June 2011 at 2:49 PM Reply

      iya Mba, karena diikutkan project nulis buku, maksimal 10 lembar. klo diikutkan semua jadinya 12 lembar. makanya yang 2 lembar di potong.😀

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: