Sebuah Drama Sederhana

“Akuuu…… aku saja yang jadi anak pertama!!” begitu teriak Zen dengan lantangnya. Lelaki kecil berumur 10 tahun itu nampak antusias saat kulayangkan kertas berisi skenario drama untuk ditampilkan waktu acara khataman nanti.

“Aku…aku saja, kan aku sudah pengalaman” kata Anwar Fuadi salah satu pemeran drama empat tahun lalu, yang ikut berebut pemeran utama.

“Hmm… casting dulu saja, yang paling bagus yang dapet peran anak pertama,” begitu kataku, sok keren.

Mereka para lelaki kecil itu saling berebut untuk menjadi pertama. Menjadi pemeran utama. Aku kaget, heran. Empat tahun lalu, dalam acara yang sama, saat aku tawarkan drama sebagai penampilan mereka, mereka lari. Takut. Malu, katanya. Tapi hari ini, empat tahun berlalu dari hari itu, mereka justru berebut untuk berperan. Tentu saja ini membuatku heran dan kaget.

“Mereka yang tampil drama, 4 tahun lalu dielu-elukan oleh banyak orang, bahkan dari guru SD mereka.” Begitu kata Bu Dah menanggapi keherananku.

Tiba-tiba rasa kepercayaandiriku membuncah, saya senang jika apa yang saya kerjakan nyatanya disukai oleh (banyak) orang. Lebih-lebih bisa menyenangkan mereka. Ya, empat tahun lalu, di acara Khatmil Qur’an, dimana saya belum mengenal blog, twitter, facebook dan dunia tulis menulis di dunia maya, dengan selembar kertas folio dan sebatang pencil saya membuat sebuah skenario drama.

Mengangkat tema yang sangat sederhana, dengan bahasa yang sangat sederhana dan waktu yang sangat singkat (dua minggu sebelum hari H). Sebenarnya, kesulitan yang paling sulit saya rasakan saat itu adalah, mencari para pemerannya. Adik-adik Madin kala itu begitu sulit untuk diajak bekerja sama. Mereka tidak mau (bahkan untuk menjadi pemeran pembantu yang muncul hanya sekali tanpa ada dialognya), mereka malu dan takut.

Membujuknya dengan exstra yang saya lakukan bersama beberapa pengurus lainnya. Pada akhirnya ada yang mau, tapi tak sedikit yang justru menangis L. Tapi alhamdulillah, meskipun dengan pemeran yang terbatas, tapi drama mampu berjalan lancar. Tepuk tangan riuh mereka dapatkan ketika Halim (pemeran utama) turun dari panggung saat drama berakhir.

Kini, di acara yang sama, saya kembali (setelah 3 tahun lebih meninggalkan madin) akan menyuguhkan sebuah drama yang durasinya sedikit lebih panjang. Dengan pemeran yang lebih banyak dan akan ada tiga buah lagu yang akan didendangkan disela-sela drama oleh para pemain drama sendiri. Istilah kerennya, drama musical. Hahay….

Menginggat betapa antusiasnya adik-adik untuk ikut beserta dalam peran ini, saya menjadi sangat semangat untuk mengerjakan ini dengan serius. Jika drama 3 tahun lalu mereka menggunakan kostum yang sama setiap sekmen, maka saya akan menyiapkan kostum yang berbeda sesuai dengan tempat dan ceritanya. Doakan, semoga acara ini lancar dan mampu menghibur para hadirin yang datang.

Oh iya, mengenai tema drama, saya masih mengangkat tema yang sederhana. Dimana peristiwa-peristiwa kecil itu sering terjadi di lingkungan saya. Misalkan, orang tua yang merasa betapa beratnya membiayai biaya sekolah anaknya yang semakin hari semakin melangit, ditambah kelakuan anak yang (masih) suka nguntit uang bayaran sekolah untuk jajan.

Dan ini daftar lagu yang akan mereka dendangkan:

1. I’m a muslim – Yusuf Islam

2. Insya Allah – Maher Zain feat Fadly Padi

http://www.4shared.com/embed/SyEK6s2L/Maher_Zain_Feat_Fadly_Padi_-_I.html

3. Masih di cari (lagu penutup)

Tagged:

3 thoughts on “Sebuah Drama Sederhana

  1. Para Pemeran « Coretan Tanpa Tinta 22 May 2011 at 11:20 AM Reply

    […] dia para pemeran Drama Sederhananya, unyu-unyu euy!! Pemeran utama, Fuad Pemeran Bapak, Alfin Pemeran Ibu, Lorena Pemeran Ustadzah, […]

  2. aris 10 May 2011 at 3:34 PM Reply

    tu bneran to ti?

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: