Mengejar Laju Kereta Madiun Jaya

Ya, saya merasa sedang berada di Jogja malam itu. Bercengkrama dengan beberapa kawan di kedai kopi. Entah sudah berapa lama saya di Jogja, tapi yang pasti usai dari kedai kopi itu seorang kawan mengantar saya ke stasiun. Bukan stasiun Tugu maupun stasiun Lempuyangan. Entah stasiun mana, seperti stasiun di daerah Ngawi. Tapi itu stasiun Jogja.

“Udah, kamu kalau mau pulang pulang saja. Aku gak papa nunggu kereta sendiri.” Begitu kataku pada seorang kawan yg mengantarku tadi.

“Jam berapa keretanya datang?” tanyanya sambil melihat jam di dinding stasiun.

“10 menit lagi” kataku.

“Oh gak apa aku temenin, lagian acaraku masih jam 10.” Kawan yang satu ini memang banyak acara dan selalu sibuk.

Tepat jam 9 pagi, keretanya datang. Tapi aku baru ingat bahwa aku belum mempunyai tiket. Segera aku naik kereta setelah berjabat tangan dengan kawanku tanda perpisahan, menaruh ranselku di atas tempat duduk kereta. Lalu aku turun lagi, bermaksud membeli tiket. Tapi apa yang terjadi? Loketnya tutup. Dan saat aku melangkah kembali untuk masuk kereta, Pak Masinis sudah membunyikan klaksonnya. Tooooottt…….

Aku berlari mengejar kereta berwarna kuning-orange itu. Aku berteriak-teriak memanggil pak Masinis berharap dia menghentikan keretanya. Tapi teriakanku terburai entah kemana, lariku makin kencang. Melewati tengah rel yang masih terasa hangat setelah dilewati kotak besi yang panjang itu. Aku tetap berlari berharap bisa seperti para jagoan di film-film india yang bisa meraih dan berpegangan di salah satu bagian kereta, lalu aku naik di atap kereta dengan selamat. Tapi masalahnya cuma satu, saya bukan jagoan film India. Dan akhirnya saya menyerah. Berhenti dengan nafas yang terenggah-enggah.

Di stasiun, saya melihat sebuah gerbong kosong. Tanpa atap, tanpa tempat duduk. Ya seperti bak terbuka, tapi itu gerbong. Saya naik dan masuk ke dalamnya. Tapi tiba-tiba gerbong itu berjalan, melaju layaknya kereta. Saya ketakutan dan teriak-teriak minta tolong. Sedang gerbong kosong itu semakin mejalu dengan ngebutnya. 2 orang bapak-bapak yang mendengar teriakan saya langsung mengejar. Berusaha menghentikan gerbong yang sepertinya sedang kesurupan ini.

Di saat saya melihat wajah cemas pada kedua bapak tadi, tiba-tiba saya berfikir,”Lah, kenapa saya mesti takut? Bukankah kalau aku diam saja maka aku akan sampai rumah tanpa membeli tiket?” setelah sadar akan hal itu, aku langsung teriak,”Paaak sudah jangan dikejar, saya ikut kereta ini saja. Mungkin nanti saya bisa langsung sampai rumah!!”

Belum sampai kedua bapak itu berhenti berlari, tiba-tiba gerbong gila ini langsung berhenti. Saya bingung. Kedua bapak itu menghampiri. Menarik saya turun.

“Gimana mungkin saya berhenti mengejar Mba? Wong tas saya kecantol di sini” kata satu bapak sambil nafahnya terpotong-potong.

“Iya mba, lha ini celana seragam saya nyantol di sini.” Begitu kata bapak satunya lagi sambil mengambil celananya. Lalu mereka berdua pergi. Saya? Tentu saja masih diam sambil kedip-kedip. Bingung. Kirain mereka mengejar karena khawatir terhadap saya.

Pada akhirnya saya kembali ke stasiun, duduk di sana hingga lama. Bingung apa yang harus saya lakukan. Hingga saya putuskan untuk menunggu kereta selanjutnya. Bermalam di pinggir trotoar dan ini adalah pengalaman pertama.

Keesokan harinya, tepat jam 9 dengan tiket kereta di tangan saya duduk anteng di dalam kereta. tak terbersit sedikit pun untuk sejenak pergi meninggalkan kereta mesti hasrat ingin pipis serasa tak bisa di tunda lagi.

Akhirnya, saya mendapatkan tiket dan bisa duduk di kereta dengan sedikit tak nyaman. Bentar lagi kereta malaju.

Begitu pesan singkat yang saya ketik, bermaksud ingin mengirimnya kepada kawan yang mengantar saya kemarin. Tapi apa mau di kata, nomor kawan saya tersebut tak ada di list phone book saya. Sepertinya terhapus, atau saya pernah sengaja menghapusnya? Entahlah, yang pasti nomor kawan saya tersebut sudah tak ada di list phone book saya. #sekian.

“Banguuuun sudah pagi!!” terdengar teriakan kanjeng mami.

Hooooaaaammmm……..  badanku terasa sakit semua.

Tanpa ba bi bu, segera bangun dan meluncur ke kamar mandi, ya kebelet pipis.

Tagged: , ,

One thought on “Mengejar Laju Kereta Madiun Jaya

  1. iyan 15 July 2011 at 8:15 PM Reply

    wiuuuucchhhhh ternyata cuma mimipi…….

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: