Cukup Kamu Tahu

Saya tidak mengerti, mengapa mengungkap cinta itu sedemikian ribetnya. Antara sebuah kata dan kata lainnya begitu sulit untuk dieja. Seakan enggan sekali jika mereka tersusun dalam satu kalimat cinta. Yang enak dibaca. Lalu tak munculkan sebuah tanda tanya setelahnya.

Saya tak pernah bayangkan sebelumnya, jika hanya untuk ungkapkan satu kalimat cinta, saya harus keluarkan bermili-mili keringat yang keluar di dahi. Membuat basah kain yang ada di dalam sana. Tubuh menggigil. Panas dingin.

Syukur-syukur “target” kita segera mengerti kemana arah pembicaraan kita. Ah, menyebalkan sekali. Rasanya ingin ngelempar dia sandal (sepatu) high heel, terus akunya lari, nyebur sungai, atau guling-guling di lumpur. Tragis sekali.

Oke. Jadi begini (duh, masih kebawa situasinya) cukup kamu tahu saja. Cukup. Ya, saya rasa cukup. Ini bukan berarti saya ‘sotoy’ (untuk kedua kalinya) tentang apa kira-kira yang kamu tuliskan. Ini juga bukan berarti saya takut kecewa. Sedetik sebelum aku putuskan itu, aku sudah benar-benar sadar akan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Saya siap. Ya saya siap untuk itu.

Kamu tahu, itu sudah cukup. Mungkin, surat-surat yang pernah kutulis tak lagi berarti. Tapi setidaknya, pernah ada catatan jika aku pernah singgah di sana. Di depan pintumu. Mengetuk. Tapi tak berani masuk. Ya, anggap saja seperti itu.

“Saya tidak mengerti, kenapa kata tahu (tau) berperan begitu banyak hari ini.”

#miber #tutupmuka #isintingkatakut #ngilang

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: