Pesan Tak Terbaca (2)

“Katakan, apa yang ingin kamu katakan, lelaki itu tak bisa bermain kebatinan seperti kita para perempuan” kata seorang sahabat.

Tapi bagaimana mungkin Lia mampu mengatakan tentang perasaannya, sedang untuk mengeja namanya saja dia butuh keberanian, ya butuh nyali untuk mengalahkan rasa galaunya.

Berbagai tanda sudah dia coba utarakan, dari senyumnya, tatapan matanya, berlembar-lembar surat yang dia tulis dan alunan-alunan nada sumbang. Tapi lagi-lagi, pesan itu tak terbaca. Mungkin, bukan caranya yang salah, hanya saja Tuhan belum menghadiahinya waktu yang tepat atas doa-doa dan al fatihah yang dia baca setelah sujudnya.

Raka, ya Raka Aditya Pratama seorang yang membuat hatinya galau beberapa minggu terakhir ini. Sorang pria muda yang dia kenal di kereta saat perjalanannya ke Jogja satu tahun lalu.

Kapan kita ke Jogja lagi? Nanti kita janjian di Stasiun Geneng aja ya, terus kita naik kereta bareng ke Jogja.

Sebuah SMS yang menyenangkan itu dia balas, ayok kapan? Aku juga sudah kangen Jogja. Dia baca ulang,lalu bergumam,”harusnya kamu balas SMS ini Ka.” Lia meninggalkan handphone di ranjang, lalu segera keluar kamarnya. Melakukan aktifitas pagi seperti biasanya.

Sejak pertama kali mereka berkenalan di kereta, mereka baru bertemu lagi 6 bulan setelahnya, di Surabaya. Jika pertemuan pertama mereka tanpa sengaja, maka pertemuan kedua mereka atur sedemikian rupa. Maklum saja, Lia dan Raka sama-sama menjadi karyawan swasta. Yang tak bisa meninggalkan pekerjaannya kapan pun mereka suka.

Dan setelah itu, hubungan mereka semakin dekat, mesti tak ada kata cinta di sana. Tapi pepatah jawa yang mengatakan “tresna jalaran teka kulina” itu nampaknya memang tepat untuk menggambarkan awal tumbuhnya buih-buih cinta di antara mereka.

Ya mereka. Bukan hanya Lia. Tapi rasa takut dan ragu pada keduanya menjadi tembok panjang bagi mereka untuk saling memadu cinta. Lia takut mengungkapkan rasa cintanya terang-terangan. Seorang gadis pantang mengungkapkan cinta lebih dululah yang menjadi momok rasa cintanya hanya membusuk di hatinya. Selain takut karena cintanya akan bertepuk sebelah tangan tentunya.

Sedang Raka pun tak jauh beda, dia masih ragu apakah cintanya nanti akan diterima atau hanya bertepuk sebelah tangan. Ya tak jauh beda dengan Lia. Raka ragu akan tanda-tanda yang Lia kirimkan lewat coretan-coretan tangannya. Raka ragu, apakah tanda-tanda itu dia kirimkan untuknya atau untuk pria lain yang lebih beruntung darinya.

Di belahan bumi yang berbeda, seorang pria masih enggan bangkit dari kasurnya. Sambil pencet-pencet keypad handphone. Mengetik. Menghapusnya lagi. Dia seperti bingung dengan apa yang akan dituliskannya.

“Hmm.. aku kangen sekali denganmu. Ingin rasanya aku bertemu. Tapi mungkin aku tak sanggup menatap matamu. Aku takut kamu tahu tentang rasa yang terbaca di sana.” gumamnya.

Hingga akhirnya, dia memilih untuk meninggalkan handphonenya. Memilih untuk tidak menjawab SMS gadis yang sering mengunjungi mimpinya.

oo*oo

Raka,

Apa kabarmu? Maaf jika aku harus menulis email ini, semoga dengan adanya email ini, tak mengubah apa pun pada persahabatan kita.

Raka,

Aku hanya ingin kamu tahu, bahwa, selama ini aku mencintaimu. Berharap kamu juga mempunyai rasa yang sama. Lalu kamu menemuiku untuk ungkapkan rasamu.

Tapi Raka itu dulu, beberapa waktu yang lalu.

Untuk sekarang, untuk saat ini. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku pernah mencintaimu. Titik. Dan tak berharap kamu mempunyai rasa yang sama denganku. Karena jika aku mengetahuinya sekarang, maka akan timbul rasa sesal yang dalam.

Raka,

Minggu depan aku menikah. Semoga kamu bisa datang untuk menyempurnakan bahagiaku.


Salam hangat,

Lia

 

Tagged: ,

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: