Pesan Tak Terbaca

Saat membuka mata untuk pertama kalinya di hari ini, Lia melihat rinai hujan yang tak deras. Di balik jendela kaca yang tirainya lupa tak ditutup semalam, selepasnya berbincang dengan gugusan bintang dan bulan sabit. Gerimis pagi, selalu nampak romantis di matanya, mesti tak banyak orang menyukainya.

Setelah membuka jendela dan tersenyum pada kabut, Lia ingat bahwa pesannya semalam belum terbalas olah Raka. Segera dia menyambar HPnya yang tergeletak di meja riasnya. Tapi nihil, tak didapatinya sebuah pesan balasan.

“ya sudahlah,..” gumamnya. Lantas melangkah menuju kamar mandi.

Raka, seorang yang dia kenal setahun lalu saat naik kereta menuju Jogja. Kereta ekonomi itu penuh sesak kala itu dan Lia tak mendapatkan tempat duduk. Lalu dengan senyum ramahnya, Raka menawarkan tempat duduknya untuk Lia. Dari situlah mereka saling kenal.

“Terima kasih” ucap Lia.

“Kuliah di Jogja ya mba?” tanya Raka, mengawali sebuah perbincangan.

“Hmm,.. enggak. Cuma mau main saja ke Jogja.” jawab Lia, sembari sibuk menuliskan pesan untuk salah seorang kawannya di Jogja.

“Oh,.. Aku juga mau main ke Jogja, kebetulan ada beberapa sodara di sana.” lanjut Raka.

“…..” Lia sedikit mendongakkan wajahnya, lalu melempar senyumnya.

“Mba punya sodara juga di Jogja?”

“Enggak, hanya saja aku punya beberapa teman di sana.”

“Oh,… biasanya kalau ke Jogja jalan-jalannya kemana?” tanya Raka lagi.

“Hmm, malioboro, taman budaya, benteng, yah seputara situ aja sih” jawab Lia sambil meringsek ke penumpang yang duduk di sebelahnya, karena Raka harus mencondongkan tubuhnya ke arah Lia lantaran ada seorang pedagang asongan yang lewat sambil menawarkan dagangannya.

“Nasi Mba? Mas? Mumpung masih anget ini!”

Mboten Bu” jawab Raka, sopan. Sedang Lia hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, tanda tidak.

Kereta terus melaju, meliuk-liuk di atas  rel yang kanan kirinya lahan persawahan. Angin berhembus semilir dari kaca jendela yang sengaja di buka. Sisa-sisa hujan tadi membuat angin yang masuk ke dalam kereta terasa adem, ya dingin. Hingga sampailah kereta ekonomi itu di stasiun Balapan. Stasiun kebanggaan warga Solo. Banyak penumpang yang turun di sana, dan salah satunya adalah penumpang yang duduk di samping Lia. Kini Lia berpindah duduk ke tempat sebelahnya, dan Raka duduk di tempat duduknya tadi.

“Maaf, aku lupa belum tanya nama. Nama mba siapa? Aku Raka” sambil mengulurkan tangannya.

“Lia.” Jawab Lia singkat sambil menerima uluran tangan Raka, lembut. Salaman.

“Mba Lia asli Ngawi?” tanya Raka.

“Iya, Lia saja.”

“Maaf, hehe”

Suara para pedagang asongan yang lalu lalang kembali jelas terdengar karena tak ada lagi percakapan diantara mereka. Lia sibuk dengan lagu-lagu MP3 yang dia dengarkan dari handphonenya. Sedang Raka, sibuk dengan buku yang dia baca. Mereka tenggelam dalam dunia masing-masing. Hingga kereta singgah ke stasiun Lempuyangan, lalu kembali malaju menuju stasiun Tugu.

“sudah mau sampai stasiun Tugu.” Lia bergumam.

“iya, bentar lagi” dan Raka pun ikut menyahut.

“Sudah ada yang jemput mba? Eh maaf, maksudnya Lia?” tanya Raka diiringi senyumnya yang manis untuk ukuran pria.

“Hmm, Nggak, gak ada yang jemput. Aku cuma mau jalan-jalan saja dulu, kalau aku minta ditemani mereka, gak enak. Kasian mereka kalau harus temani saya jalan-jalan. Mereka pasti capek, kan mereka juga kerja.” Jawab Lia sambil bersiap-siap menggendong ranselnya.

Suara peluit, suara klakson kereta dan suara berdecit. Tanda kereta telah sampai di tujuan. Semua penumpang berebut turun.

Lia turun, lalu berlalu menuju mushola stasiun. Jam 4 sore, dan dia harus sholat Ashar. Sedang laki-laki baik hati yang merelakan tempat duduknya tadi, dibiarkannya dengan tujuannya. Lia berjalan tergesa, lalu berhenti tepat di pintu mushola. Dia harus antre untuk masuk ke tempat wudhu, karena memang, pintu masuk ke tempat wudhu itu hanya satu, mesti ada sekat yang memisahkan antara tempat wudhu pria dan tempat wudhu wanita.

Seusai sholat ashar, Lia berlalu keluar stasiun dan menuju Jl. Malioboro. Banyak orang berlalu lalang, sibuk dengan tujuan masing-masing. Ada pedagang asongan sibuk menjajakan dagangannya, ada ibu-ibu pedagang kaki lima yang di mejanya nampak berjejer nasi kucing dan beberapa piring tempe mendoan hangat. Banyak juga wisatawan yang berlalu lalang, baik wisatawan lokal maupun beberapa wisatawan asing. Mereka nampak menikmati sore mereka di Jogja. Ya sebuah kota dengan seribu warna dan cerita.

Lia nampak memicingkan matanya, dia seperti melihat pria yang tak asing di depan sana. Setelan kaos biru dan jeans warna hitam, juga sebuah ransel yang digendongnya. Semakin dekat, dia semakin yakin bahwa pria itu adalah pria yang tadi dikenalnya di kereta. Ya, dia adalah Raka.

“Raka?! Kamu masih di sini?” tanya Lia, yang nampaknya mengagetkan Raka yang sedang duduk di sebuah bangku yang ada di pinggir trotoar.

 

 

 

 

 

Bersambung…

(Klo ada ide buat nyambung sih :D)

Tagged: ,

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: