Jamus dan Flying Fox

Jamus. Sebuah tempat yang tak asing di telinga saya sejak saya SMA. Sering kali teman-teman saya bercerita tentang (berkencan di) Jamus dan kebun teh sejauh mata memandang. Namun, baru Minggu kemarin saya menyinggahi tempat itu, dan itu bukan sebuah acara kencan. Saya tidak akan bercerita bahwa selama 2 hari berturut-turut sebelum acara plesiran itu terjadi, saya sudah bermimpi pergi ke sana. Lalu menikmati flying fox seperti yang pernah diceritakan Mba Rina. Saya tidak akan cerita.

Jadi pagi itu, sekitar jam 8 pagi, kami sudah bersiap untuk meluncur ke sana. Tempat yang sempat ku mimpikan selama 2 hari berturut-turut. Perjalanan yang panjang, berkelak-kelok, tanjakan dan turunkan. 1 jam perjalanan terasa tak begitu lama karena sepanjang jalan kita disuguhi panorama yang aduhai indahnya.

Ketika kubaca plang bertuliskan anda “memasuki agrowisata kebun teh Jamus” dan membayar tiket seharga Rp. 5.000,-/orang (kami datang berenam) pikiranku terbang. Menyulam apa kira-kira yang ada di atas sana? Apakah banyak sekali wisatawan seperti di Sarangan atau tempat-tempat wisata lainnya?

Dan ternyata, bisa dibilang tempat ini masih sepi pengunjung. Kebanyakan pengunjung di tempat ini adalah mereka yang saling bergandengan tangan, ya pacaran. Begitu sampai di tempat parkir, saya langsung mencari-cari dimana aku bisa ber-flying fox, maka langsung kudatangi tukang parkir, “Pak Flying Foxnya disebalah mana? belum buka ya?” tanyaku.

Jangan tanya kenapa, karena memang tujuan utamaku ke tempat ini adalah untuk mencoba flying fox. Terbang dari atas bukit dan mendarat di bukit selanjutnya yang lebih rendah. Dan itu sangat menggodaku.

Sambil menunggu petugas flying fox datang, kami berkeliling ke kebun teh. Dan tentunya sambil poto-poto. Jangan heran jika menemukan pasangan muda mudi yang saling bergandengan tangan di setiap cela tanaman teh, karena tempat ini memang romantis. (jadi pengen😦 )

 

teh teh teh

Setelah berkeliling, kami menuju area flying fox, cukup tinggi, tapi menurutku belumlah terlalu extreme karena tak membuatku deg-degan, hanya saja yang membuat nampak extreme adalah tali yang mengikat tubuh itu. Jan gak bondo, masa tali sak uwer thok?!. Bagaimana klo tiba-tiba talinya putus? Atau ikatannya lepas?

“Mau berhenti ditengah-tengah gak mba?” tanya Pak petugasnya.

“Boleh-boleh, mau! Tepat diatas kali kecil itu ya!” pintaku, jangan berfikir bahwa saya akan bunuh diri. Saya hanya ingin adikku mengambil potoku saat aku bergelantungan di antara 2 bukit itu.

Percobaan pun dimulai, saya diminta duduk dengan kaki lurus sejajar (sluku bathok).

 

Narsis sebelum meluncur

“Siap ya Mba, kalau takut (gak berani) bilang saja, nanti aku tarik mundur lagi.” Kata petugasnya.

“Siap Pak” jawabku.

Setelah sejengkal aku meluncur, tali pun di tarik, hingga luncuranku berhenti. Semua diam, pak petugas diam.

“Lanjut Pak, jangan lupa sampai tengah berhenti lagi!” kataku tiba-tiba, sedikit berteriak.

Aku meluncur perlahan, menikmati apa yang aku rasakan sejenak. Melihat luasnya langit, aliran sungi yang nampak kecil, semak, kebun teh, bukit, gunung lawu yang nampak gagah. Hingga akhirnya tali itu terasa ditarik, hingga membuatku berhenti meluncur. Ku lihat bawah, ada sungai yang panjaaaaaang namun nampak kecil di bawah sana.

“Waah kalau sendalku sampai jatuh, pasti gak bakalan ketemu kalau dicari.” Itu yang tiba-tiba terpikirkan olehku sewaktu tak sengaja kulihat sandal hitamku.

“Lanjut Paaaaaaakkk!!” teriakku sambil dada dada. Dan melupakan untuk berteriak “jangan lupa poto saya😀 ”

Oke, mimpi untuk ber-flying fox pun sudah terwujud, oh iya, diantara kami berenam, hanya aku yang yang berani terbang dari bukit ke bukit. Wow!!

 

Bermain air di Sumber Lanang

Kami melanjutkan perjalanan ke Sumber Lanang, jangan tanya kenapa namanya Sumber Lanang, karena aku tak tahu jawabannya. tak ada pemandu wisata di sana. Dan saat kulihat, juga tak ada pancuran sebagai icon “lanang” di sana😀. Airnya sangat dingin, merendam kaki semenit saja rasanya sudah membeku, dingin banget.

Tempat yang eksotik di dekat "Sumber Lanang"

tempat yang eksotik, hanya saja kurang terawat. oh iya, ini dalam keadaan gerimis.

 

satu, dari sekian banyak lukisan-Nya. Subhanallah….

Dan perjalanan selanjutnya adalah ke sarangan lalu lanjut untuk menaiki 1.250 anak tangga menuju Grojokan Sewu. Semoga segera terlaksana, dan semakin banyak teman-teman yang terserang virus jalan-jalan.😀

5 thoughts on “Jamus dan Flying Fox

  1. sucipto 24 December 2011 at 8:21 AM Reply

    jadi pengen dech….. heheeh

  2. sash 31 March 2011 at 3:51 PM Reply

    lokasinya kereeeeeeeenn,,, aku selalu suka dengan perbukitan dan ladang teh. jadi kangen flying fox euy, terakhir main 2008 haha, (lama bangeeeeet)..

    • Izzah 1 April 2011 at 11:33 AM Reply

      ayoo mbaaa, ke Jamus. katanya klo di Serambang (kebun teh juga) tapi ada air terjunnya. kayaknya keren juga!

  3. aris magetan 29 March 2011 at 6:27 PM Reply

    tie kok q pas rono ga nemu iku,,,, wah pengen q…

    • Izzah 30 March 2011 at 9:59 AM Reply

      yee, kapan lek mu mrono? kurang munggah paling😆

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: